• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Rabu, Agustus 12, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pelesiran: Mitologi Dewa Babi dan Keberhasilan Masyarakat Tradisional | Arif Purnama Putra

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
20 September 2023
in Budaya
2.4k 74
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Di Aceh, berita rantai babi ini sudah tidak asing lagi, banyak bukti yang menyatakan keberadaan. Misalnya dalam sebuah catatan menuliskan bahwa seorang pejuang Aceh pernah memakainya sebagai jimat untuk tahan peluru saat menghadapi penjajah. Sama halnya dibeberapa daerah lainnya. Hanya saja, penemuan tersebut selalu berdampingan dengan jimat lainnya, seperti potongan ayat alquran atau mantra-mantra. Hal inilah yang menjadi semakin bias dan simpangsiur. Tentu saja bagus, sebagian mitos biarkanlah tetap berada pada porsinya itu, tidak perlu dirubah dan dicari kebenaran yang sahih. Di Indonesia, rantai babi ada dua versi, satu memang berbentuk rantai mengalungi leher babi, kedua, rantai yang terletak di taring sang babi. Dalam kepercayaan tradisional, ada cara untuk mengambil benda tersebut dari sang babi, intai babi mau mandi ataupun makan. Biasanya ia akan melepaskan rantai tersebut. Sedangkan di dunia supranatural, umpan ia dengan makanan berduri seperti durian, kemungkinan rantai tersebut tersangkut. Atau rantai babi dapat direbut dengan cara dicuri karena babi tersebut meletakkannya ketika membuka dan memakan durian pertama. Rantai babi secara umum tidak dapat direbut pada saat dikenakan oleh babi tunggal, ia kebal terhadap besi, sehingga sulit dilukai apalagi untuk dibunuh. Tapi, dari banyaknya cerita tentang mitologi dewa babi, semuanya tinggal bias belaka. Dan aku mengamini itu. Sebab tidak semua harus mengangkang sesuai akal dan pikiran manusia. Hal-hal yang janggal dan tidak masuk diakal biarkan tetap berada di wilayahnya. Sama halnya dengan budaya dan kepercayaan, biarkan mereka berjalan selayaknya mitos dan fakta: sudah tidak perlu lagi dicari salah dan benar.

Berburu babi merupakan hal yang disenangi masyarakat tradisional, jauh sebelum jaman kelewat maju datang. Dilain hal, budaya berburu babi tidak pula melulu persoalan anjing dan babi, lebih dari itu adalah tentang tuannya. Bagaimana ia memperlakukan binatang peliharaan serta batasan-batasan antara hobi dan kewajiban. Bagi kelompok berburu babi saat ini, sekilas terlihat batasan itu semakin diterobos, filosofi gotongroyong sebelumnya berubah jadi silaturahmi, kemudian menjadi ajang adu gengsi. Waw, marah tuh.

Suatu malam yang lembab, aku mengingat kembali perjalanan masa lalu itu, tentang perburuan yang kian hari kian instan. Segalanya serba praktis dan mudah. Anjing-anjing paket dibeli sedemikian mahal, peternak anjing ras sudah bertebaran, belum lagi pasar “anjing paket Jawa” yang tak susah lagi ditemui. Jelas ini berdampak kepada filosofi perburuan babi, terutama di Sumatra Barat (Minangkabau): gotongroyong membasmi hama. Berburu babi memang sudah menjadi warisan leluhur, di tahun-tahun belakangan, aktivitas ini juga sudah diupayakan sebagai wisata. Benar-benar upaya konyol dan memuakkan. Bagaimana caranya menjadikan buru babi sebagai wisata, sedangkan hutan-hutan dibabat dan ditebangi, sawah-sawah dialihkan jadi susunan beton-beton menjulang yang menghasilkan asap tebal. Jangankan babi, beruk saja yang lebih cerdik sulit hidup.

Kembali ke Mitologi dewa babi, saya percaya cerita ini akan terus hidup ribuan tahun mendatang. Semakin lama, masyarakat semakin memercayai keberadaan binatang mitologi karena hal-hal gaib nyaris tak sanggup dibuktikan secara kasat mata oleh teknologi manapun. Meski ribuan temuan kelak menyatakan bahwa mitologi tetaplah mitos belaka yang dibuat-buat guna merahasiakan sesuatu hal atau bias umur peradaban karena kebutuhan sejarah. Tetapi, ribuan tahun lalu, sebutan itu sudah ada, bahkan sampai saat ini tetap hidup sebutan mitologi dan diakui. Kita saja yang munafik akan keberadaannya, sebagaimana ketidakpercayaan terhadap mitos dan hal gaib yang terjadi. Di dunia ini, tidak semua harus dicerna akal pikiran secara normal. Dan tidak semua kebudayaan pula patut diapresiasi sebagai sebuah pertunjukan masyarakat umum, bahkan konyolnya jadi wisata. Tapi menolak percaya kepercayaan masyarakat tradisional. Waw, marah tuh.

Di pagi yang mendung, langit ditutupi halimun., tiada angin membawanya beranjak. Anjing-anjing pemalas sudahlah gonggong, biawak seweliran. Tiba-tiba ingatanku melintasi bertahun-tahun lalu, ketika seekor babi mati tertusuk ubi jalar dan seorang peladang menguburnya. Aku ingat lagi pelan-pelan kenangan itu, tentang pertemuan-pertemuan Dewa Babi dengan peladang, perseteruan anjing pemburu yang acap diolok-olok serta obrolan ketika waktu istirahat berburu. Kata-kata yang nyaris sama dengan fenomena akhir-akhir ini, ciliang lapeh ota tingga.

Di pagi yang buru-buru, aku meneguk kenangan itu pelan-pelan, berharap suatu hari, mungkin ditahun yang beruntung, aku dapat mengulang momen itu lagi. Meski tak utuh sebagai masa lampau.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Film – Tiga Babak Soft Power: Film dalam Tatanan Politik Dunia dan Peran Industri Film - 8 Agustus 2026
  • Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra - 26 Juni 2026
  • Cakap Film – KARA: Karakteristik Film Tamil dan Isu Terdekat Mereka - 2 Juni 2026
Page 3 of 3
Prev123
Tags: Berita seni dan budayaBudayaMarewaiPelesiranSastra

Related Posts

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
4 Agustus 2026

"Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA" di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.Oleh: Irawan...

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Next Post
Puisi-puisi Kiki Nofrijum | Magrib Macet

Puisi-puisi Kiki Nofrijum | Magrib Macet

Ananda Sukarlan dalam Musik, Puisi & Sastra di Payakumbuh Poetry Festival 2023

Ananda Sukarlan dalam Musik, Puisi & Sastra di Payakumbuh Poetry Festival 2023

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In