
Dalam banyak jurnal, film didefinisikan merujuk pada lapisan tipis emulsi seluloid, namun sekarang sering disebut movie, sinema, atau gambar hidup. Komponen Seni: Film adalah seni gabungan yang mencakup seni sastra (skenario), seni rupa, seni musik, dan teater. Media Komunikasi: Film efektif dalam menyampaikan pesan sosial, moral, budaya, dan nilai sejarah. Jenis & Media: Film disajikan dalam berbagai jenis (cerita, dokumenter, pendek) dan dapat dinikmati di bioskop, televisi, maupun platform streaming. Teknik: Ilusi gerakan tercipta berkat fenomena persistence of vision (ketahanan penglihatan), di mana serangkaian foto diam ditampilkan cepat secara berurutan. Meski begitu, dunia perfilman tidak lagi semata persoalan teknis kamera dan cerita. Ia telah berada jauh dari itu semua, bahkan di negara-negara maju ia telah menjelma senjata politik yang massif dan mendoktrin manusia. Film-film diproduksi sebagai produk hiburan yang menghidupkan perekonomian banyak lini. Kehadiran film sebagai media artistik tidak didefinisikan dengan jelas, namun, penayangan sepuluh film pendek karya Lumière bersaudara secara komersial dan terbuka di Paris pada tanggal 28 Desember 1895 dapat dianggap sebagai terobosan film sinematografi yang diproyeksikan. Terdapat hasil sinematografi dan penayangan film sebelumnya yang dilakukan oleh individu lain seperti Skladanowsky bersaudara, yang menggunakan Bioscop buatannya sendiri untuk menampilkan pertunjukan gambar bergerak pertama kepada penonton yang membayar pada tanggal 1 November 1895 di Berlin. Namun, mereka tidak memiliki kualitas, dukungan finansial, stamina, atau keberuntungan yang dibutuhkan untuk memacu momentum yang membawa sinematografi Lumière menuju kesuksesan duniawi. Film-film paling awal memiliki warna hitam putih, durasi kurang dari satu menit, tanpa suara dan terdiri dari satu adegan yang diambil dengan kamera yang stabil. Dekade pertama dalam era film bergerak melihat bagaimana film bergerak berubah menjadi industri hiburan massal yang matang dengan berdirinya perusahaan produksi film dan studio di seluruh dunia.
Perkembangan teknologi membawa perubahan besar bagi dunia film, seperti peningkatan durasi film (mencapai 60 menit untuk film panjang pada tahun 1906), sinkronisasi rekaman suara (mulai populer pada akhir tahun 1920-an), penambahan warna (mulai populer pada tahun 1930-an), dan film 3D (mulai populer pada awal 1950-an dan kembali populer pada tahun 2000-an). Penggunaan suara membantu mengakhiri keharusan interupsi kartu judul, membawa revolusi bagi naratif film, dan menjadi bagian penting dalam proses pembuatan film.
Patut Belajar pada Industri Film India dan Amerika
Saat ini, Amerika Serikat (melalui Hollywood) merupakan negara dengan distribusi global, pendapatan dan pengaruh budaya pertama di dunia. Kemudian di ikuti oleh India, Tiongkok dan Jepang unggul lewat animasi. Walau demikian, Prancis tetap menjadi negara pionir perfilman dunia. Ada hal lain yang menarik soal regenerasi dalam dunia perfilman, bagian ini barangkali kita dapat bercermin dari India yang terlihat nghos-ngosan meregenerasi aktor-aktrisnya. Terbaru, film yang cukup menarik telah tayang dibebagai platform streming dan bioskopnya. Film terbaru dari aktor kawakan Anil Kapoor berjudul Subedaar. Subedaar Arjun Maurya, seorang pensiunan tentara, berjuang untuk beradaptasi dengan kehidupan sipil di dunia yang berubah dengan cepat. Berlatar belakang Madhya Pradesh, narasi ini mengeksplorasi perjuangan Arjun melawan korupsi lokal dan disfungsi sosial sambil berusaha memperbaiki hubungan yang retak dengan putrinya, Shyama. Saat ia menghadapi musuh di dalam komunitasnya, Arjun harus mengandalkan disiplin dan keterampilan tempur dari masa lalu militernya untuk melindungi keluarganya. Subedaar adalah film drama aksi berbahasa Hindi India tahun 2026 yang disutradarai oleh Suresh Triveni. Nyaris satu dekade terakhir ia tidak bermain sebagai peran utama, Subedaar membawa ia pada pemeran utama lagi. Meski film ini tidak semata menyajikan aksi memukau yang sarat dengan sinematografi epik, Anil sungguh masih memperlihatkan kepiawaiannya sebagai aktor kawakan dengan karakter tokoh yang kuat. Tentu masih ingat kita dengan Prem Kumar, pembawa acara kuis dalam Slumdog Millionaire, 2008. Film ini dinominasikan untuk 10 Academy Awards pada tahun 2009 dan memenangkan 8—terbanyak dari film tahun 2008 mana pun—termasuk Film Terbaik, Sutradara Terbaik, dan Skenario Adaptasi Terbaik.
Film tersebut memenangkan tujuh Penghargaan BAFTA termasuk Film Terbaik, lima Penghargaan Critics’ Choice, dan empat Golden Globe. Namun, penerimaan di India dan di kalangan diaspora India beragam, dan film ini menjadi subjek kontroversi karena penggambaran kemiskinan di India dan isu-isu lainnya. Hindustan Times menyebutnya sebagai “serangan terhadap harga diri India”. Masuk ke daftar film terbaik India sepanjang masa dan memecah popularitas Kuch Kuch Hota Hai, 1998 sebagai film terlaris. Anil dengan karakternya yang dingin dan kharismatik memang tidak banyak memainkan peran aksi yang mencolok, ia tetap menyajikan aksi natural. Tidak banyak efek koreografi yang tujuan mengundang decak kagum. Ia kerap tampil minimalis tapi berkesan, tenang namun tak menjengkelkan. Dari banyak peran, karakter Anil Kapoor memang sudah terpatri sebagai seseorang yang bermain di ranah mimik—gestur; air muka dan ekspresi wajah. Air muka yang kuat dan khas, menempatkan Anil Kapoor satu dekade terakhir sebagai pemeran pendukung diberbagai film. Tidak sementereng Sanjay Dutt memang, tetapi Anil Kapoor punya pesona lain. Ada beberapa faktor utama perfilman India dilirik negara luar: pemasaran global, narasi film, dan daya tarik aktor-aktrisnya. Paling tidak tiga faktor tersebut mendatangkan banyak kesempatan bagi industri film India tampil dikancah internasional. Priyanka Copra adalah salah satu generasi terkini sebagai aktris berasal dari India yang telah memulai perjalanan filmnya di Eropa.
Amerika serikat sering kali memainkan film sebagai medium yang berbeda. Alat propaganda dan media konspirasi menjadi misi terselubung mereka, banyak film yang dihasilkan Bollywood menyajikan berbagai fakta sejarah yang berbeda. Misalnya dalam film-film angkatan bersenjatanya. Mungkin kita masih ingat dengan salah satu film ikonik berjudul Rambo pada sekuel First Blood Part II, 1985. Film ini menjadi film propaganda Amerika Serikat terhadap kekalahan Vietnam yang dianggap menjadi kemenangan moral. Tentu saja Rambo digambarkan sebagai seorang pahlawan super Amerika tak terkalahkan melawan Soviet dan Vietkong. Militerisme AS dalam film ini sangat menonjol seolah tak dapat dikalahkan siapapun. Dalam banyak film bertema/berlatar angkatan bersenjata, Amerika nyaris tidak pernah kalah. Padahal dalam sejarahnya, Amerika di abad 21 tidak sekalipun menang dalam perang. Jadi tidak heran ia mengupayakan kemenangan dari media. Dan film-film pahlawan/super hero menjadi konsisten diproduksi oleh negara ini seolah secara berkelanjutan ingin memengaruhi kedikdayaan mereka. Tentu saja di industri film mereka tidak tersentuh dalam genre science fiction yang memanjakan mata penonton, bahkan decak kagum. Mereka benar-benar unggul dalam teknologi. Penting bagi industri perfilman mempelajari hal-hal demikian. Termasuk industri film Indonesia.
Industri Film dan Aktor Kawakan
Industri film Bollywood (India) sampai saat ini masih sulit melepaskan pamor aktor/aktris kawakannya. Sebut saja yang paling terkemuka, Shahrukhan atau paling tua Amitabh Bachchan. Aktor senior itu bahkan masih sanggup bermain peran dalam film aksi Kalki 2898 AD, 2024, bahkan sedang merencanakan sekuel. Transisi pergantian periode aktor dan aktris tersebut tidak hanya terjadi di Bollywood saja, bahkan di negara-negara lain juga mengalaminya. Perbedaan yang mencolok adalah dari segi karakter, ilmu, sumber bakat dan hasil akhir. Aktor dan aktris masa sekarang banyak muncul dari media sosial, kemudian mendapatkan kesempatan dalam sebuah projek film. Sedangkan aktor dan aktris terdahulu banyak lahir dari sanggar dan teater yang menuntut banyak ilmu kepada seorang guru.
Kita juga dapat membandingkan situasi ini dengan industri perfilman Indonesia. Ada banyak film diproduksi setiap tahunnya, baik yang khusus untuk OTT ataupun tidak. Layar lebar Indonesia masih cukup dikuasai film -film yang didampingi aktor-aktris kawakan, sebut saja Deddy Mizwar, Lukman Sardi, Christine Hakim, Tio Pakusadewo dan lainnya. Kadang, senjangnya pembagian aktor dan aktris dalam sebuah film juga jadi kelemahan. Misalnya, aktor-aktris muda disandingkan dengan aktor-aktris kawakan tidak seimbang, salah satu dari mereka tidak sanggup mengimbangi lawan perannya. Hal demikian banyak terjadi di film-film yang digadang-gadang bakal meledak. Film Indonesia banyak mengalami hal serupa, sebut saja film-film satu dekade yang diperankan Indro Warkop setelah dua karibnya wafat. Ia tampil seolah sebagai pemanis komedi, zaman yang berbeda dan selera telah bertukar. Lain halnya dengan bermain peran yang memang mengandalkan akting murni. Komedi memang permainan peran yang amat sulit, agaknya tidak salah Pragiiwaksono Pandji & Ulwan, 2020 dalam buku The Comic Tollbox 1994 karya John Vorhous mengatakan, komedi adalah tentang kebenaran dan kepahitan. Untuk membuat komedi perlu adanya kebenaran yang berguna untuk mempermudahkan penikmat memaknai suatu humor yang dibuat. Tidak heran bila banyak sutradara mengatakan film komedi adalah film paling sulit dibuat. Jarang aktor-aktris yang sungguh-sungguh bermain di area ini. Barangkali, di Asia Tenggara, Thailand dan Malaysia juga serius dalam membuat film komedi. Tanpa mengesampingkan komersial, film komedi Thailand dan Malaysia terbukti banyak disukai penonton Indonesia. Tentu saja film komedi Indonesia juga disukai, walau dengan berbagai cara marketing penjualannya. India juga mengalami krisis film komedi tersebut, saking sulitnya menurut banyak sutradara.
Industri perfilman dan aktor-aktris kawakan seumpama buhul yang sulit dilepas. Ia akan tanggal jika salah satu dari mereka benar tiada. Tetapi regenerasi tidak pula selamanya sumbang. Ada banyak aktor-aktris muda yang juga sukses memerankan peran dalam film. Jika Indonesia punya Jefri Nichol, India juga memiliki Suhana Khan. Tetapi bila melihat lebih ke belakang, aktor-aktris kelahiran 1990 telah menjelma sebagai aktor-aktris yang menjanjikan, yang akan menggantikan posisi mereka kelahiran 70-80an. India tentu saja punya stok yang melimpah.
Indonesia dan Skena Film Lokal
Skena film lokal menjadi salah satu batu loncatan banyak sutradara menuju skena fim Ibukota (pusat) untuk memperluas jangkauan karyanya (Indonesia). Tak jarang sutradara yang berasal dari skena film lokal mengadu nasib ke Jakarta untuk mencari satu rumah produksi guna menampung ide dan gagasannya dalam perfilman. Di Skena lokal sendiri, sebut saja skena film di berbagai provinsi Indonesia serupa mati segan, hidup tak mau pula. Misalnya di Sumatra Barat, skena film di Sumatra Barat banyak menghasilkan film pendek dan dokumenter. Di daerah beradat ini, film diproduksi hanya untuk meluangkan gagasan dan ide saja; minim distribusi, kritikus film, lokalsentris dan persyaratan proyek hibah.
Skena film lokal, tanpa mengkotak-kotakkan, jauh dari kata sejahtera. Sutradara-sutradara keluaran perguruan tinggi seni pun tak nampak batang hidungnya dalam sirkel perfilman lokal. Yang mengambil peran tersebut kebanyakan mereka yang berada diluar lingkaran sekolah formal perfilman. Apabila mengulik lebih dalam, menukik detail hasil film mereka, tak heran hanya menemukan pengulangan cerita, karakter dan suasana. Penyebab hal demikian, barangkali persoalan referensi ilmu dan pengetahuan tentang film. Sehingga film yang dihasilkan sebatas persoalan selera satu komunal/personal. Paling tidak, hal tersebut banyak terjadi kurun waktu satu dekade terakhir.
Indonesia masih menjadikan film sebagai produk komersial yang menjanjikan untuk bisnis. Sedangkan di mancanegara, film telah menjelma alat politik dunia dan bagian penting untuk kemajuan negaranya. Film tidak akan merubah apa-apa di Indonesia. Orang-orang film kita terlalu dekat dengan kekuasaan dan selalu berlindung dalam alibi “murni profesionalitas”. Tidak ada perjuangan berarti yang dapat memengaruhi masyarakat luas yang menjadikan film sebuah karya seni berharga. Film-film yang dihasilkan produser Indonesia murni semata-mata persoalan angka. Buktinya tidak banyak film penanda zaman (sejarah), biografi Indonesia yang dibuat. Ini menandakan ketidakmampuan mereka bersabar-sabar mengumpulkan hasil riset, data, bacaan dan wawancara mendalam. Bahkan, hanya dengan satu premis dadakan, mereka sanggup membuat sinetron berseri-seri. Dan itu disukai penonton Indonesia. Waw. Jadi, sebuah kemusykilan berharap kepada film untuk menyampaikan keresahan masyarakat, sungguh benar-benar diambang kesia-siaan. Kemudian tiba-tiba pemerintah kita dengan percaya diri bakal memengaruhi pemikiran dunia Hollywood dengan pola-pola tukang pakang layaknya sutradara yang memproduksi film seorang diri.
Dunia perfilman tak sekadar penuangan gagasan dan ide yang disampaikan lewat aktor-aktris. Ia hadir sebagai bagian lain kehidupan sosial, bahkan politik. Kehidupan ekonomi juga beserta di sana, realistis dan idealisme berjalan seiring. Perfilman India, telah melakukan hal demikian berpuluh tahun. Bagaimana mereka mewariskan tradisi menonton film, kebiasaan memproduksi film dengan segala keterbatasan, dan berkarya telah menjadi sebuah keharusan bagi mereka yang telah memutuskan terjun di skena film. Di Asia Tenggara, paling tidak Indonesia masuk 5 besar sebagai negara dengan skena film yang progresif dan menjanjikan. Filipina, Thailand, Indonesia, Vietnam dan Malaysia. 5 negara di Asia Tenggara yang cukup mapan dan produktif menghasilkan film. Sedangkan di Asia, India menempati urutan pertama, diikuti Korea Selatan, Jepang, Tiongkok dan Hongkong. Untuk Asia, Perfilman Indonesia sudah cukup dikenal, meski ada yang menyebutkan hanya sebagai pemenuh etalase, Perfilman Indonesia dengan nyata sebenarnya sudah dilirik. Namun, dari Indonesia sendiri belum melakukan sesuatu hal yang berani—anti mainstream.




Discussion about this post