
Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di Sanggar Kilau Aksara, Jalan Griya Mawar Sembada A/7 Lapai, sebuah ikhtiar budaya yang digelar dengan Workshop Penulisan Ulang Cerita Rakyat Minangkabau Berbasis Prosa Sastra untuk Penguatan Ekosistem Literasi Budaya. Dengan komando Ria Febriani selaku ketua sanggar, serta didukung penuh oleh fasilitasi Dana Pengembangan Kebudayaan (FPK 2026) beserta jejaring komunitas dan lembaga kebudayaan, ruang fisik sanggar tersebut bertransformasi menjadi pertikaian intelektual yang mengawinkan masa lalu dengan masa depan.
Kehadiran dua maestro sastra Indonesia asal Sumatera Barat, Yusrizal KW dan Gus tf Sakai pada tanggal 20-21 Juni 2026 sebagai narasumber, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar seremonial belaka. Ini adalah sebuah gerakan taktis untuk merebut kembali ruang kesadaran generasi muda yang kian terasing dari akar budayanya sendiri.
Apresiasi tertinggi layak disematkan pada kegiatan ini justru karena ia hadir di tengah hantaman badai krisis literasi yang akut di Indonesia. Berdasarkan data terbaru dari Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis pra-2026, skor literasi membaca Indonesia masih tertatih-tatih di peringkat bawah, jauh di bawah rata-rata negara OECD. Ditambah lagi, data dari UNESCO yang kerap diadopsi dalam berbagai kajian nasional menyebutkan indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya berada di angka 0,001% yang artinya, dari 1.000 orang, hanya 1 orang yang memiliki minat baca serius.
Di era Gen Z dan Alpha saat ini, tantangannya bergeser. Mereka bukanlah generasi yang buta aksara secara teknis. Mereka adalah generasi yang dibombardir oleh informasi, namun mengalami pendangkalan radikal dalam memahami makna. Algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels telah memotong rentang perhatian anak muda menjadi hitungan detik. Narasi-narasi panjang yang membutuhkan kontemplasi batin digantikan oleh infografis instan dan video singkat yang superfisial.
Dalam konteks inilah mungkin inisiatif Sanggar Kilau Aksara menemukan urgensi tertingginya. Ketika anak muda hari ini lebih akrab dengan mitologi global atau tren pop-kultur asing, ingatan mereka akan kearifan lokal Minangkabau perlahan amnesia. Cerita rakyat yang kaya akan metafora, nilai filosofis “alam takambang jadi guru” , dan kritik sosial, dianggap usang karena gagal dikemas dalam dialek zaman yang relevan.
Bagaimana cara menarik anak muda dari jerat superfisialitas digital?
Jawabannya ada pada metodologi workshop ini “Penulisan ulang berbasis prosa sastra”.
Sanggar Kilau Aksara secara cerdas tidak hanya menyuruh peserta membaca dongeng lama, melainkan menantang mereka untuk memproduksi ulang. Di bawah bimbingan Yusrizal KW dan Gus tf Sakai, revitalisasi ini menjelma menjadi proses dekonstruksi yang merdeka.
Yusrizal KW dengan kelenturan sastranya yang peka terhadap realitas sosial harian, mampu memandu peserta untuk melihat celah-celah kemanusiaan dalam cerita rakyat yang bisa ditarik ke konteks modern.
Gus tf Sakai, sang maestro dengan kekuatan stilistika dan kedalaman filosofisnya, menuntun peserta untuk tidak sekadar menulis struktur plot, melainkan menggali sublimitas bahasa dan estetika prosa yang mampu menggetarkan batin pembaca.
Melalui pendekatan ini, cerita rakyat Minangkabau tidak lagi diperlakukan sebagai barang antik yang dipajang di museum kata. Ia dilebur, ditulis ulang dengan sudut pandang baru, psikologi karakter yang lebih kompleks dan konflik yang relevan dengan pergolakan batin anak muda hari ini. Ini adalah cara terbaik mengajarkan literasi tingkat tinggi dengan membaca, hasil riset, menganalisis, merenungkan, dan mencipta kembali.
*
Kita harus menyadari sebuah kebenaran historis tidak ada satu pun negara di dunia ini yang berhasil menjadi negara maju tanpa ditopang oleh fondasi literasi yang kokoh. Kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa kedalaman literasi hanya akan melahirkan masyarakat yang reaktif, mudah terprovokasi hoaks, dan kehilangan kompas moral.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Ria Febriani dan kawan-kawan di Lapai ini adalah model ideal bagaimana ekosistem literasi kebudayaan harus dibangun. Ketika negara memberikan sokongan melalui FPK 2026, dan komunitas sipil bergerak secara mandiri memanfaatkannya dengan menghadirkan para pemikir terbaik, di sanalah perubahan pola pikir bangsa mulai bergerak.
Melalui penulisan ulang prosa sastra berbasis budaya lokal, anak muda dibawa untuk berpikir kritis, mmpertanyakan nilai-nilai lama dan mengontekstualisasikannya secara etis untuk masa kini kemudian berempati tnggi agar dapat merasakan kedalaman emosi karakter melalui eksplorasi prosa, yang merupakan antitesis dari sifat instan media sosial dan menjadi bangga pada Identitas karena dapat menyadarkan bahwa lokalitas Minangkabau memiliki pasokan narasi yang tidak kalah hebatnya dengan narasi global.
Kegiatan di Sanggar Kilau Aksara ini seharusnya tidak boleh menjadi pemadam kebakaran yang bersifat momentum belaka. Kegiatan ini harus direplikasi, digandakan, dan dilakukan secara masif di berbagai sudut nusantara.
Apresiasi setinggi-tingginya untuk Sanggar Kilau Aksara, Ria Febriani, Yusrizal KW, Gus tf Sakai, serta seluruh lembaga yang mendukung. Mereka tidak hanya sedang menyelamatkan cerita rakyat yang hampir punah dari ingatan generasi muda melainkan sedang merawat akal sehat, mengasah kehalusan budi, dan seperti batu bata pertama bagi bangunan peradaban Indonesia yang lebih maju, kritis, dan bermartabat melalui jalur literasi.
Pintu sanggar di Jalan Griya Mawar Sembada mungkin ruang kecil, namun dari sana, sebuah kilau Aksara yang menyilaukan pola pikir bangsa sedang bersinar.




Discussion about this post