• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Jumat, Agustus 7, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026
in Berita Seni Budaya
1.9k 101
0
Home Budaya Berita Seni Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di Sanggar Kilau Aksara, Jalan Griya Mawar Sembada A/7 Lapai, sebuah ikhtiar budaya yang digelar dengan Workshop Penulisan Ulang Cerita Rakyat Minangkabau Berbasis Prosa Sastra untuk Penguatan Ekosistem Literasi Budaya. Dengan komando Ria Febriani selaku ketua sanggar, serta didukung penuh oleh fasilitasi Dana Pengembangan Kebudayaan (FPK 2026) beserta jejaring komunitas dan lembaga kebudayaan, ruang fisik sanggar tersebut bertransformasi menjadi pertikaian intelektual yang mengawinkan masa lalu dengan masa depan.

Kehadiran dua maestro sastra Indonesia asal Sumatera Barat, Yusrizal KW dan Gus tf Sakai pada tanggal 20-21 Juni 2026 sebagai narasumber, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar seremonial belaka. Ini adalah sebuah gerakan taktis untuk merebut kembali ruang kesadaran generasi muda yang kian terasing dari akar budayanya sendiri.

Apresiasi tertinggi layak disematkan pada kegiatan ini justru karena ia hadir di tengah hantaman badai krisis literasi yang akut di Indonesia. Berdasarkan data terbaru dari Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis pra-2026, skor literasi membaca Indonesia masih tertatih-tatih di peringkat bawah, jauh di bawah rata-rata negara OECD. Ditambah lagi, data dari UNESCO yang kerap diadopsi dalam berbagai kajian nasional menyebutkan indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya berada di angka 0,001% yang artinya, dari 1.000 orang, hanya 1 orang yang memiliki minat baca serius.

Di era Gen Z dan Alpha saat ini, tantangannya bergeser. Mereka bukanlah generasi yang buta aksara secara teknis. Mereka adalah generasi yang dibombardir oleh informasi, namun mengalami pendangkalan radikal dalam memahami makna. Algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram Reels telah memotong rentang perhatian anak muda menjadi hitungan detik. Narasi-narasi panjang yang membutuhkan kontemplasi batin digantikan oleh infografis instan dan video singkat yang superfisial.

Dalam konteks inilah mungkin inisiatif Sanggar Kilau Aksara menemukan urgensi tertingginya. Ketika anak muda hari ini lebih akrab dengan mitologi global atau tren pop-kultur asing, ingatan mereka akan kearifan lokal Minangkabau perlahan amnesia. Cerita rakyat yang kaya akan metafora, nilai filosofis “alam takambang jadi guru” , dan kritik sosial, dianggap usang karena gagal dikemas dalam dialek zaman yang relevan.

Bagaimana cara menarik anak muda dari jerat superfisialitas digital?

Jawabannya ada pada metodologi workshop ini “Penulisan ulang berbasis prosa sastra”.

Sanggar Kilau Aksara secara cerdas tidak hanya menyuruh peserta membaca dongeng lama, melainkan menantang mereka untuk memproduksi ulang. Di bawah bimbingan Yusrizal KW dan Gus tf Sakai, revitalisasi ini menjelma menjadi proses dekonstruksi yang merdeka.

Yusrizal KW dengan kelenturan sastranya yang peka terhadap realitas sosial harian, mampu memandu peserta untuk melihat celah-celah kemanusiaan dalam cerita rakyat yang bisa ditarik ke konteks modern.
Gus tf Sakai, sang maestro dengan kekuatan stilistika dan kedalaman filosofisnya, menuntun peserta untuk tidak sekadar menulis struktur plot, melainkan menggali sublimitas bahasa dan estetika prosa yang mampu menggetarkan batin pembaca.

Melalui pendekatan ini, cerita rakyat Minangkabau tidak lagi diperlakukan sebagai barang antik yang dipajang di museum kata. Ia dilebur, ditulis ulang dengan sudut pandang baru, psikologi karakter yang lebih kompleks dan konflik yang relevan dengan pergolakan batin anak muda hari ini. Ini adalah cara terbaik mengajarkan literasi tingkat tinggi dengan membaca, hasil riset, menganalisis, merenungkan, dan mencipta kembali.

*

Kita harus menyadari sebuah kebenaran historis tidak ada satu pun negara di dunia ini yang berhasil menjadi negara maju tanpa ditopang oleh fondasi literasi yang kokoh. Kemajuan ekonomi dan teknologi tanpa kedalaman literasi hanya akan melahirkan masyarakat yang reaktif, mudah terprovokasi hoaks, dan kehilangan kompas moral.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Ria Febriani dan kawan-kawan di Lapai ini adalah model ideal bagaimana ekosistem literasi kebudayaan harus dibangun. Ketika negara memberikan sokongan melalui FPK 2026, dan komunitas sipil bergerak secara mandiri memanfaatkannya dengan menghadirkan para pemikir terbaik, di sanalah perubahan pola pikir bangsa mulai bergerak.

Melalui penulisan ulang prosa sastra berbasis budaya lokal, anak muda dibawa untuk berpikir kritis, mmpertanyakan nilai-nilai lama dan mengontekstualisasikannya secara etis untuk masa kini kemudian berempati tnggi agar dapat merasakan kedalaman emosi karakter melalui eksplorasi prosa, yang merupakan antitesis dari sifat instan media sosial dan menjadi bangga pada Identitas karena dapat menyadarkan bahwa lokalitas Minangkabau memiliki pasokan narasi yang tidak kalah hebatnya dengan narasi global.

Kegiatan di Sanggar Kilau Aksara ini seharusnya tidak boleh menjadi pemadam kebakaran yang bersifat momentum belaka. Kegiatan ini harus direplikasi, digandakan, dan dilakukan secara masif di berbagai sudut nusantara.

Apresiasi setinggi-tingginya untuk Sanggar Kilau Aksara, Ria Febriani, Yusrizal KW, Gus tf Sakai, serta seluruh lembaga yang mendukung. Mereka tidak hanya sedang menyelamatkan cerita rakyat yang hampir punah dari ingatan generasi muda melainkan sedang merawat akal sehat, mengasah kehalusan budi, dan seperti batu bata pertama bagi bangunan peradaban Indonesia yang lebih maju, kritis, dan bermartabat melalui jalur literasi.

Pintu sanggar di Jalan Griya Mawar Sembada mungkin ruang kecil, namun dari sana, sebuah kilau Aksara yang menyilaukan pola pikir bangsa sedang bersinar.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata - 4 Agustus 2026
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
Tags: Berita seni dan budayaBudayaSastra

Related Posts

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
4 Agustus 2026

"Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA" di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.Oleh: Irawan...

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

Next Post
Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra

Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In