• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Selasa, Agustus 11, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Kiki Nofrijum | Magrib Macet

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
30 September 2023
in Sastra, Puisi
2.2k 113
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Lima Bulan ke Depan

Baju baru
Bahan pokok terpenuhi
Sensus penduduk
Organisasi ini itu bergerak
Rumah-rumah dicat baru
Pakar non bersertifikat bermunculan
Orang-orang di kampung mendadak hebat
Perputaran ekonomi sangat cepat,
bahkan melebihi pendapatan desa
Orang-orang dari antah barantah senyum manis di persimpangan

Dan seorang penyair berkata;
Selamat memperingati hari Nicolo Machiavelli
Berbagai tradisi adat berlangsung di mana-mana

Solok Selatan, September 2023

Magrib Macet

Petang yang merah. Lengang di keramaian
Angin malam merendah kepada awan; dipenuhi gelisah dan senang
Sebelum melebur menjadi kenangan-kenangan

Hanya saja, Rakib dan Atib belum juga menembusi langit
Apalagi memungut kenangan-kenangan itu
Sebab, Magrib masih macet di kota yang sibuk ini

Padang, 2020

Nasib di Subuh Gerimis

Jalan dan bangku taman kedinginan
Pada Subuh yang menyisakan gerimis
Dan nasib sudah berlalu lalang di sepanjang jalan

(tenda-tenda pedagang kaki lima yang dibongkar,
dan gerobak dorong yang mengisi jalanan;
mencari hidup di tumpukan sampah semalam)

Sementara, gadis-gadis yang tergadai itu
Berdendang riang dalam pulang – dan membayang;
Nak. Santiang-santiang baraja yo nak!
Bia jadi urang gadang bisuak nak

Padang, 2021

Mengutuk Waktu

Menjelang pagi, kopi sudah tinggal ampas
Kisah-kisah tentang negeri peri
belum juga menemu akhir halaman

Tiba-tiba, semut datang – entah dari mana
Menggerogoti ampas kopi – yang mungkin manis baginya

Dalam hati aku mengutuk waktu
Haruskah ia melenyapkan yang tersisa?

Aku pun tertidur, di antara bayang
kisah negeri peri yang belum usai

Sijunjung, 2020

Anak-anak yang Kuyup

Hujan pun meninggalkan amis
Awan hitam melenggang dan matahari
mulai menampakkan diri.
Tetap saja, sekawanan balam dan merpati
masih enggan menapaki basahnya jalanan.

Hanyalah keluh kesah yang keluar
dari mulut-mulut yang mengutuk,
karena waktu yang telah menunda kesibukannya
TIDAK seperti anak-anak yang telah kuyup itu,
yang telah menjanjikan waktu dengan segala keriangan.

Padang, 2021

Menanggung Rindu

Cahaya matahari menyusup ke jendela
Menyoroti mataku, dan lalu membayangi sedihku.
Seperti tajamnya pisau, aku menatap tajam dan begitu dalam;
Menembus hutan – sungai – gunung – dan sampai kota.

Melihat dirimu yang masih bergelut dengan nasib
ketika ayam telah kembali ke kandangnya,
ketika itik telah pulang di petang hari,
dan ketika bangau telah kembali ke kubangannya.

Pada tatapan yang jauh ini
Aku menanggung rindu dan meratapmu
pada nasi yang telah bercampur tangis.
Ingin melihat kepulangan, berdendang riang
pada irama langkah kaki dan ayun tangan

Sijunjung, 2021

Aroma Teluk Bayur

Sore mulai memancarkan petang yang merah
Jalan-jalan sudah dipenuhi kendaraan yang berlalu lalang
Mengejar waktu – hendak pergi dan pulang

Dari bukit yang ditapaki, aku ingin melihat petang itu ke bukit yang lainnya
menuju bukit yang mungkin terabaikan sejarah.
Aku pun berjalan; menjadi kendaraan yang ikut berlalu lalang

Melewati aroma getah – yang kabarnya datang dari ujung desa
Melewati aroma kayu manis – yang kabarnya juga datang dari ujung desa yang lain

Entahlah, apakah kami ini memang hanya hadir untuk menanam
kemudian dituai oleh orang-orang yang tidak kami kenal?

Memasuki dingin malam, sekejap ingatan itu menghilang
Ketika memandang laut Teluk bayur; diselimuti petang yang merah
Dengan aroma getah dan kayu manis yang masih membekas di penciuman

Bukit Karamuntiang – Teluk Bayur, 2021


Kiki Nofrijum belajar ilmu puisi kepada siapa saja dan di mana saja. Puisinya masih bertaraf lokal – terbitnya juga di media massa cetak dan daring lokal. Sekarang menjadi wartawan untuk media cetak Harian Haluan Padang.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata - 4 Agustus 2026
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
Tags: Berita seni dan budayaMarewaipuisiSastra

Related Posts

Kata Ruang: Strategi Mendang-Mending dalam Puisi | Dandri Hendika

Kata Ruang: Strategi Mendang-Mending dalam Puisi | Dandri Hendika

Oleh Dandri Hendika
7 Agustus 2026

Antara guru kulit terang dan guru lokal sawo matang ada jenjang tak kepalang. Gaji guru sawo matang merangkak-rangkak seperti...

RUBRIK KATA RUANG

Oleh Dandri Hendika
7 Agustus 2026

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Oleh Redaksi Marewai
11 Juli 2026

Pulang Kampung             Haris keluar dari bus angkutan antar kota. Langkahnya pelan menghentak seakan menumpahkan kekesalan di hatinya. Bagaimana...

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Oleh Redaksi Marewai
26 Juni 2026

KEPADA SHEI Aku senang membayangkan hal-hal yang indah. Kubayangkan matamu menjadi rumah paling megah: tempat di mana lelah perlahan...

Next Post
Ananda Sukarlan dalam Musik, Puisi & Sastra di Payakumbuh Poetry Festival 2023

Ananda Sukarlan dalam Musik, Puisi & Sastra di Payakumbuh Poetry Festival 2023

Omah Budoyo: 5 Seniman Material Menggelar Pameran Bertajuk “The Un-Brittle”

Omah Budoyo: 5 Seniman Material Menggelar Pameran Bertajuk “The Un-Brittle”

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In