• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Jumat, Juli 17, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026
in Berita Seni Budaya
1k 10
0
Home Budaya Berita Seni Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater
Oleh: Irawan Winata

Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata artistik, dihidupkan oleh sandiwara tokoh, dan dirajut dalam keutuhan skenografi, panggung sejatinya memproyeksikan kehidupan bagi penontonnya. Kekuatan magis inilah yang memaksa penonton untuk berpikir, memaknai, mengulas, hingga membicarakannya setelah lampu auditorium padam.

Namun seiring berjalannya waktu, ekosistem teater saat ini tampak meranggas, ia bertumbuh secara kuantitas tetapi gugur secara kualitas. Peristiwa teater hari ini tak ubahnya sekadar seremonial administratif demi menyelesaikan kewajiban RAB. Ketika panggung sekadar menjadi penyerapan anggaran, seniman teater seolah kehilangan tanggung jawab moral terhadap intelektualitas penontonnya.

Krisis ini berdampak langsung pada menyusutnya ruang apresiasi. Berkurangnya kuantitas penonton teater secara masif memicu pertanyaan besar! siapa yang harus disalahkan? Apakah seniman murni, seniman berdarah campuran, seniman harian lepas, seniman aparatur negara atau seniman proyek yang belakangan subur menjamur?

Fenomena sepinya penonton ini linier dengan matinya regenerasi di institusi akademik. Berdasarkan realitas di Sumatera Barat, program studi yang bersinggungan langsung dengan seni pertunjukan, seperti Jurusan Sastra Indonesia atau jurusan teater di berbagai universitas, terus mengalami penurunan peminat yang signifikan. Bahkan, geliat aktivitas teater kampus di Sumatera Barat dalam satu dekade terakhir dinilai mengalami masa kekosongan yang mengkhawatirkan. Teater kehilangan gairah karena dipandang sebagai cabang seni yang “berat”, rumit, dan minim menjanjikan masa depan secara ekonomi, sehingga generasi muda perlahan memalingkan wajah.

Situasi ini diperparah oleh kegagalan estetika di atas panggung. Banyak sutradara hari ini berlindung di balik konsep pertunjukan kontemporer yang meminimalkan kata. Namun, alih-alih menghadirkan kedalaman makna, eksperimen teater mini kata justru dirasa kurang bertanggung jawab dalam membangun struktur dramaturgi.

Muncul pertanyaan spekulatif, apakah teater saat ini berkiblat ke tari, atau teater telah menjelma menjadi tari itu sendiri?

Secara teoretis, jika kita merujuk pada konsep Dramaturgi Aristotelian dalam teks klasiknya Poetics, esensi dari sebuah drama adalah mimesis yang harus mampu menggerakkan emosi, memberikan pencerahan (katharsis), dan menyampaikan gagasan melalui struktur plot yang logis. Ketika teater memilih jalur “mini kata” sebuah bentuk estetika yang dipelopori oleh tokoh teater Indonesia seperti Danarto atau WS Rendra sebagai perlawanan terhadap dominasi teks teks konvensional gerak tubuh (aktor) seharusnya bertindak sebagai “kata” itu sendiri yang sarat akan subteks, simbolisme, dan metafora teatrikal yang kuat. Sayangnya, yang ditampilkan di panggung saat ini sering kali hanyalah gerak tubuh ragawi tanpa konsep dramaturgi yang matang; sebuah eksploitasi visual yang tidak jauh berbeda dengan pertunjukan tari kontemporer biasa.

Menghadapi pendangkalan estetika tersebut, penonton teater yang dulunya ramai dan digandrungi anak muda ternyata memilih bersikap cerdas. Mereka tidak memilih pasrah di kursinya, penonton justru juga sedang melakukan “atraksi kontemporer”, Penonton membiarkan bangku-bangku kosong, hanya diisi oleh angin, udara, dan kesenyapan sebagai bentuk kritik paling radikal terhadap pertunjukan teater yang kehilangan kedalamannya.

Bagaimana dengan seniman yang lainnya, apakah juga bisa mempertanggung jawabkan moralnya seperti mempertanggung jawabkan RAB?

Hari ini, pertunjukan teater seolah dilumat habis oleh ego program kemajuan kebudayaan yang bersifat top-down. Seniman berlomba-lomba mengisi wadah kompetisi dan festival, di mana urusan perut sering kali mendikte arah kreativitas. Seniman yang terbuai oleh kebegahan perut terlamun dalam kemalasan berpikir. Mereka menyajikan jalan pintas dengan meminimalkan dialog dan mengandalkan visual gerak yang miskin makna, yang pada akhirnya mematikan daya kritis penonton.

“Penonton kontemporer” pada dasarnya tidak pernah ada. Namun, mereka menjelma menjadi ada ketika “kutukan panggung” aktif melalui rentetan bangku kosong di ruang pertunjukan. Jika kompetisi seniman dalam mengentaskan program kesenian hanya melahirkan karya-karya instan tanpa mempertimbangkan kecerdasan penonton, maka kutukan tersebut akan bekerja secara sempurna. Pada saat itu, teater tidak hanya akan kehilangan penontonnya, tetapi juga akan melenyapkan dirinya sendiri dari peta peradaban kesenian.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
  • Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata - 10 Juli 2026

Related Posts

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

Oleh Redaksi Marewai
14 Mei 2026

Medan, 10 Mei 2026 - Kumpul IV menandai keberlanjutan sebuah ruang yang diinisiasi oleh GUA lokal, yang dalam beberapa...

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In