• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Rabu, Agustus 12, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pelesiran: Mitologi Dewa Babi dan Keberhasilan Masyarakat Tradisional | Arif Purnama Putra

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
20 September 2023
in Budaya
2.4k 74
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Dewa Babi dalam Cerita Pemburu


Di sebuah daerah Pesisir Selatan, wilayah Bandar Sepuluh (nama lama, sepuluh bandar: Bungo Pasang hingga Air Haji). Daerah yang masyarakatnya sedang belajar hidup modren ini kerap mengadakan “buru alek”, berburu dengan mengundang persatuan olahraga buru babi (Porbi) Se-Sumatra. Bahkan luar Sumatra juga sering menghadiri acara ini. Dibeberapa kesempatan, saya juga pernah menghadiri perhelatan akbar tersebut, bahkan ikut langsung ke gelanggang layaknya pemburu dengan anjing “panamuanya”. Walau tak diperhitungkan dalam perhelatan, beruntungnya saya ikut dengan para pemburu tradisional: pemburu yang masih mau mengubak hutan mencari celeng dengan anjing kampung dan tombok karatnya. Pemburu ini disebut sebagai Tim Pencari, biar para pemburu “begaya” di luar bisa menyaksikan anjing-anjingnya bak pembalap yang dilengkapi sorak volume tinggi jokinya. Agar donatur acara dapat pula bahan untuk melap-lap masyarakat di media sosial.

Pada beberapa kali kesempatan itu, tak jarang pula mitologi dewa babi menguap ketika para pencari menemukan jejak babi yang berukuran besar. Sudah pasti mereka bisa membedakan mana jejak celeng, mana jejak hewan lainnya. Setiap jejak hewan, selalu mendapat reaksi berbeda dari anjing pencari, bisa dengan salak ataupun tingkah. Biasanya jika jejak celeng, anjing pencari bereaksi dengan tingkah yang cekatan, lesap mencari ke mana arah jejak selanjutnya, atau menyalak dengan tingkah kebingungan sambil terus keluar masuk semak. Nah, dikesempatan lainnya, jika di Gunung Pangilun tersebut dengan anjing dewanya, maka dikalangan pemburu celeng daerah Kec. Sutera, Pesisir Selatan juga lazim dengan cerita Dewa Babi. Dewa babi sebagaimana banyak mitologi juga kerap dianggap sebagai mitos belaka, namun dibeberapa kesempatan, tak ayal tinggal angguk-angguk semata. Bagaimana tidak, entah benar atau tidak, babi berukuran besar itu kerap menampakkan dirinya di tengah perburuan. Tak jarang pula sempat dikejar oleh anjing pemburu. Namun hanya menyisakan salak kosong semata atau hiburan untuk tamu alek yang telah hadir ke acara buru babi.

Sebut saja Bukik Nan Data masyarakat menyebutnya. Sebuah bukit yang berada dekat dengan kampung Gunung Malelo, Kenagarian Rawang, Kec. Sutera. Konon, bukit itu diberi nama lantaran bagian puncak bukit tersebut datar. Uniknya, di daerah ini bukit dan Gunung nyaris disematkan sebagai bentuk yang sama, misalnya Gunung Malelo, Gunung Giriak, Gunung Rajo, Gunung Pawuah dan lainnya. Padahal itu cuma bukit.

Menurut masyarakat, di sana (Bukit Nan Data) juga bermukim sosok legendaBujang Jibun, sang jawara alam sati Surantih. Bukit yang tersadai menyamping layaknya sedang berpose tangan menopang kepala dan wajah menghadap ke samudra Hindia itu kerap menguap mitos-mitos, mulai dari rombongan tapir yang turun 20 tahun sekali, sampai mitologi Dewa Babi. Dewa Babi ini disebut oleh masyarakat sebagai ciliang barantai. Dalam kepercayaan supranatural, dewa babi merupakan jelmaan dewa yang memiliki rantai. Babi ini adalah raja dari kawanan babi, rantai tersebut acap diincar sebagai ilmu kekebalan. Dikalangan supranatural, rantai babi sangat dicari-cari untuk kepentingan halhal mistis. Sedangkan dari cerita masyarakat tradisional, rantai babi adalah salah satu azimat yang pada masa lalu dipakai jawara ataupun pejuang kemerdekaan. Gunanya jelas untuk penangkal serangan senjata lawan. Ibarat kata, siapa saja yang memakai rantai babi, ia tak dimakan oleh besi/baja apapun.

Dari perspektif lain, dewa babi merupakan sosok manusia menjelma siluman yang suatu masa pernah mengikat sumpah dengan mahkluk gaib. Sampai suatu ketika termakan sumpah, alias tidak melengkapi syarat-syarat. Sehingga dikutuk menjadi babi dan menjelma siluman diwaktu tertentu, misalnya bulan purnama. Menurut tutur masyarakat setempat, di Bukit Nan Data pada masa lampau adalah jalur perjalanan para jawara, di sana banyak terjadi perkelahian antar jawara. Siapa yang kalah atau mati dalam perkelahian itu akan diperlakukan secara brutal setelahnya, kemudian bagian dahinya diambil untuk bahan utama pembuatan gasing tengkorak dan kebutuhan supranatural lainnya. Nah, cerita ini berkait dengan mitologi Dewa Babi. Sebagian juga memercayai bahwa dewa babi adalah sosok jawara yang mati ditangan lawannya, karena arwah yang gentayangan kemudian merasuklah ke dalam tubuh babi. Entahlah.

Pada lain kesempatan, suatu siang yang nyalang, saat matahari tegak tali. Ditengah perburuan yang sengit, nyaris 30 ekor babi mati, seorang tetua buru bercerita tentang pengalaman kawannya yang bertemu dewa babi di suatu petang yang mendung. Babi tersebut mengejarnya, lantaran takut terpaksa ia bermalam di atas sebuah pohon rindang tepat di tengah-tengah Bukit Nan Data, satu-satunya pohon yang mencolok dan menjulang di antara pohon lainnya. Menurutnya, babi tersebut bukan mau memangsanya, melainkan ingin dilepaskan rantai yang berada di taring sang babi. Tapi, siapa pula yang berani melepaskan itu. Lanjut, menurut tetua, tidak semua orang dapat berjumpa dewa babi, hanya orang-orang pilihan saja. Namun sejauh ini, tidak ada yang pernah berani mengambil tindakan untuk melepaskan rantai yang menjuntai di taringnya. Padahal banyak ahli supranatural berusaha keras mengintai ataupun memanggil sang dewa babi untuk diambil rantainya.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Film – Tiga Babak Soft Power: Film dalam Tatanan Politik Dunia dan Peran Industri Film - 8 Agustus 2026
  • Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra - 26 Juni 2026
  • Cakap Film – KARA: Karakteristik Film Tamil dan Isu Terdekat Mereka - 2 Juni 2026
Page 2 of 3
Prev123Next
Tags: Berita seni dan budayaBudayaMarewaiPelesiranSastra

Related Posts

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
4 Agustus 2026

"Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA" di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.Oleh: Irawan...

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Next Post
Puisi-puisi Kiki Nofrijum | Magrib Macet

Puisi-puisi Kiki Nofrijum | Magrib Macet

Ananda Sukarlan dalam Musik, Puisi & Sastra di Payakumbuh Poetry Festival 2023

Ananda Sukarlan dalam Musik, Puisi & Sastra di Payakumbuh Poetry Festival 2023

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In