• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Kamis, April 16, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Sebagai Pengingat, Marewai Produksi Film Dokumenter Tenju Langgai “Lahia Ba Batin”

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
1 Desember 2023
in Budaya
1.3k 39
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Ampalu dan Kayu Aro ditempuh sekitar 30 menit, setelahnya masuk Batu Bala[h]. Kampung legenda Bujang Jibun ini agak beda, di kampung ini punya dua pilihan jalan, satu bersebelahan dengan sungai, satu lagi agak berdekatan dengan bukit. Batu Bala[h] diambil dari peristiwa dalam sebuah perjalanan, Raja merasa lelah dan memerintahkan untuk berhenti. “baranti dakok iko kito dolu malapeh lalah”, kata malapeh lalah dijadikan sebagai asal nama Batu Bala[h]. Versi lain yang menceritakan asal nama Batu Bala[h] diambil dari peristiwa terjadinya pertengkaran antara dua bersaudara. Perpecahan mereka ini ditandai dengan terbelahnya batu menjadi dua. Batu Belah ini kemudian dijadikan sebagai asal nama Batu Bala[h]. Hingga sekarang cerita ini masih dipercayai masyarakat, termasuk batu belah tersebut masih bisa ditemukan di Kampung Batu Bala[h].

10 km dari perbatasan Batu Bala dan Langgai. Kami menyusuri jalanan Langgai dengan cermat. Gemericik dari batang air Langgai seolah menandai suara pedalaman. Suasana asri dan simpai bersahutan, menghasilkan gema. Bukit-bukit tersadai bagai orang-orang sedang selonjoran menyaksikan perjalanan kami. Dari kejauhan sesekali ladang-ladang menguar asap, bau anyir dari pohon-pohon, dan mata air yang melintang melintasi jalanan. Oh, ini Langgai? Sebut seorang kawan dari atas motor. Kataku, lihatlah, ini potret wajah Pesisir Selatan: rancak di labuah. Tapi aku segera menyudahi ratapan itu. Kulihat seorang ibu menggendong anaknya di punggung, ia nampak lelah, tapi wajahnya begitu terlihat tangguh. Di wajah anaknya, sekilas seperti harapan, tapi harapan yang bercampur sentimen. Eh, kanak-kanak memecah suara deru kendaraan, sesudah itu pedagang-pedagang dari hilir terlihat sigap menjajakan dagangnya. Ada dua pedagang yang rutin setiap hari ke Langgai; Ujang penjual ikan kering, Kecil penjual bumbu masak. Ada juga lainnya yang datang ke Langgai menjual ikan pukat dari pantai. Tapi Ujang dan Kecil adalah pedagang yang bisa dikatakan setiap hari bolak-balik ke Langgai berjualan.

Kemudian kami sampai di Langgai. Masyarakat rupanya sudah mendapat info akan adanya pemutaran film dokumenter nanti malam. Beberapa bulan terakhir, Langgai cukup cepat mendapatkan informasi melalui telepon genggam. Pasalnya dibeberapa rumah warga sudahlah memasang wifi. Selain itu, beberapa warga memang ada yang beraktivitas sehari-hari ke Surantih. Jadi acap membagikan informasi dari luar ke dalam, ada juga sebagai penerima pesan untuk disampaikan ke sanak saudara di Langgai. Saling keterikatan itu semoga terus terjaga dan kekompakan tetap menyertai. Mantap.

Cuaca cerah, awan hitam sesekali singgah di balik bebukitan seolah mengintip kami yang banyak. Tim Marewai berjumlah 10 orang, lalu ditambah 2 orang lagi menyusul sebagai fotografer lantaran situasi di Langgai agaknya akan sulit penerangan karena harinya bertepatan pula dengan acara mingguan masyarakat di Masjid. Tau begitu mengapa memilih hari jumat? Ya, karena hari jumat adalah hari dimana masyarakat turun dari ladang untuk ibadah salat jumat. Otomatis masyarakat ramai di kampung, itu sebabnya kami memilih hari jumat. Film dokumenter ini paling tidak bisa menjadi hiburan masyarakat, atau katakanlah sebagai pengingat bahwa apa yang kami buat adalah milik mereka dan merekalah pewaris itu.

Setelah salat Isya, pemutaran berlangsung khidmat. Sorak dari masyarakat yang menyaksikan begitu bersemangat, kamipun takjub, terharu bercampur bahagia. Bagaimana seluruh lapisan berkumpul menyaksikan film sederhana tersebut, mereka menjabat tangan kami mengucapkan terimakasih, memberi apresiasi secara langsung. Sungguh momen yang membahagiakan, rasanya lansai semua lelah berhari-hari itu. Antusiasme yang diperlihatkan sangat diluar perkiraan kami, sehingga barangkali tak layak persiapan snack dan minuman yang kami sediakan.

Malam yang mendung, cuaca nampak terbawa suasana. Rinai pelan-pelan jatuh, halimun berarak, menutup bebukitan yang masih nyalang. Entah dingin apa yang datang ke Langgai, semuanya nampak berenergi, bersemangat dan gelak tawa di mana-mana. Lepas dan tiada pura-pura. Tapi apa yang dapat diambil dari perjalanan itu? Tentu sebagai perjalanan awal, ini hanyalah upaya mengingatkan, alaram bagi yang kelupaan, penanda bagi yang sengaja melupakan. Pekerjaan meneruskan yang sudah dibuat leluhur bukan perkara siapa yang lebih baik dan benar, salah dan betul. Namun lebih dari itu keiklasan dan ketulusan menyertai ragam kita, bahwa sama-sama mengingat masa lampau.

Terimakasih kepada Balai Pelestarian Kebudayaan yang telah mendukung penuh agenda ini, sehingga dapat dilaksanakan dengan maksimal dan tepat waktu. Juga kepada seluruh masyarakat Langgai yang membersamai agenda ini sampai hari terakhir pelaksanaan. Semoga tahun depan ada lagi agenda-agenda mantap yang bisa kita lakukan dengan suka cita. Waw.

================

Catatan atas Tradisi Minangkabau 

Menyilau Tenju Langgai dalam Silek Langgai

Penulis: Dr. Ihsan Sanusi, M. Ag, Arif Purnama Putra & Zera Permana

Editor: Purata Publishing 

Desain Cover: JavanArt

Layout: Serikat Budaya Marewai

Penyelaras Akhir: Arif Purnama Putra

Cetakan Pertama: November 2023

13x19cm; iv + 70 Halaman

Catatan: buku ini sebenarnya tidak dicetak banyak, namun karena tingginya antusiasme permintaan dari sanak saudara, karibkerabat menginginkan buku tentang agenda ini. Kami sepakat melakukan cetak ulang untuk yang ingin memiliki. Agar dapat pula dibaca oleh khalayak, setidaknya jadi bahan referensi. Bagi yang ingin mempunyai buku tersebut, bisa dengan cara mengganti biaya percetakan melalui link yang kami sediakan. Kami akan menginformasikan proses pengiriman serta pembayarannya melalui link tertera. Klik kolom whatsapp 👇

WHATSAPP: 082283395331 (Purata)

ikuti kami; https://instabio.cc/redaksimarewai


  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • The Bluff: Priyanka Chopra dan Peran Keterasingannya dalam Cerita, Dendam dan Pembalasan Masa Lalu - 27 Maret 2026
  • Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram - 5 Februari 2026
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
Page 2 of 2
Prev12

Related Posts

Kesuksesan Totalitas Aktor Ku-Liek pada Festival Nan Jombang Tgl3, Menggantung Hak Intelektual Penonton dalam Dekonstruksi Nilonali | Irawan Winata

Kesuksesan Totalitas Aktor Ku-Liek pada Festival Nan Jombang Tgl3, Menggantung Hak Intelektual Penonton dalam Dekonstruksi Nilonali | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
6 April 2026

Nan Jombang Dance Company selalu memberikan kesejukan bagi jiwa seniman, menyediakan ruang agar mereka dapat terus tumbuh dan berkembang...

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Next Post
Cerpen Dody Widianto | Monolog Cacing Kremi

Cerpen Dody Widianto | Monolog Cacing Kremi

Puisi-puisi Safari Maulidi | Dalam kamus malaikat

Puisi-puisi Safari Maulidi | Dalam kamus malaikat

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In