• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Senin, Agustus 3, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Esai: Sesajen dalam Bayangan Etnosentrisme | Aqil Husein Almanuri

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
24 Januari 2022
in Budaya, Esai
2.4k 24
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

“Ini yang membuat murka Allah. Jarang disadari, bahwa inilah yang justru mengundang murka Allah. Hingga Allah menurunkan azabnya,” ujar seorang pria dalam sebuah video sambil menunjuk-nunjuk sesajen yang ada di gunung Semeru, 8 Januari 2022.

Lebih naif lagi, pria itu menendang sesajen tersebut, kemudian diikuti dengan kalimat takbir dari seorang rekannya yang sedang memegang kamera. Video itu pun menjadi viral dan menuai pro-kontra.

Tindakan anarkis dari pria—yang dalam video itu—berjenggot, memakai rompi dan berpeci hitam tersebut mengundang reaksi geram warganet. Bahkan, video berdurasi pendek tersebut juga mengundang argumen beberapa tokoh, sebut saja Nadirsyah Husein, atau yang biasa dipanggil Gus Nadir. Dalam cuitan akun Twitternya, Gus Nadir menulis; “Lihat salib kamu cemas, lihat sesajen kamu galau, lihat patung kamu gelisah. Iman yang rapuh selalu tidak nyaman,” tuturnya.

Postingan Gus Nadir tersebut secara satire menyinggung realitas keber-agama-an dalam keberagaman. Cuitan yang bagi saya sinkron jika dikaitkan dengan kondisi sekarang, dimana intoleransi ditampakkan sebagai porsi kebenaran. Contohnya tidak lain adalah perbuatan pria penendang sesajen tersebut. Dengan dalih agama, dia melakukan persekusi terhadap keyainan orang lain.

Padahal, benar kata Gus Nadir. Sikap demikian bukan lantas mencerminkan kecintaan dia terhadap agamanya atau kepada Tuhannya. Melainkan, sikap itulah yang justru mencitrakan ke-rigid-an berpikir dan etnosentrisme yang kuat. Sehingga pada ujungnya, agama diinterpretasikan dengan profan. Di sini letak bahayanya.

Lebih lanjut, Gus Nadir menambahkan cuitannya; “jika kamu menghapus semuanya pun, imanmu gak akan tambah kuat. Masalahnya bukan ada pada mereka, tapi pada dirimu  sendiri. Belajarlah beragama dalam keberagaman,” tambahnya. Memang, sikap intoleran (yang sebenarnya masih sering terjadi) sangat tidak pantas dilakukan, apalagi di negara yang majemuk ini (baca; Indonesia). Maka, yang perlu diperhatikan tidak hanya dalam hubungan dengan Tuhan (relasi vertikal) saja, melainkan juga memandang aspek relasi horizontal (sesama manusia), yang nyatanya beragam.

Bahkan, Ning Alissa Wahid—ketika juga menanggapi kejadian tersebut—sangat menyayangkan. Menurutnya—dilansir dari Pikiran Rakyat—meyakini bahwa sesajen itu tidak boleh adalah hal yang sah-sah saja. Namun, memaksa dan menentang orang yang meyakininya itu yang tidak boleh. Setiap agama atau keyakinan memiliki argumentasi kebenarannya masing-masing. Dan masing-masing dari keyakinan atau agama tersebut juga mengajarkan kebaikan, yang barangkali relatif berbeda.

Cara yang Tepat Memandang Perbedaan
Dalam menyikapi kemajemukan Indonesia memang tidak semua orang bisa memahaminya. Terlebih jika menyangkut dengan perbedaan keyakinan dan agama. Meski seringkali disuguhkan tentang bagaimana islam sampai ke Indonesia secara historis (jejak Walisongo misal), namun tetap saja ada yang ngeyel.

Aksin Wijaya dalam bukunya ‘Kontestasi Merebut Islam di Indonesia’ setidaknya telah menggambarkan tentang pemikiran islam yang relatif berbeda dalam memaknai islam itu sendiri. Menurut Aksin, ada 3 pemikiran; yakni ekslusif, inklusif, dan pluralis. Ketiganya memiliki ragam ekspresi yang berbeda, sebab alur pemikirannya yang juga beda.
Mari saya jelaskan, ketiga pemikiran ini  sebenarnya sudah dijelaskan secara rinci oleh Aksin dalam bukunya. Pertama, pemikiran ekslusif. Pada halaman 40 dijelaskan, pemikiran ekslusif adalah pemikiran yang mengklaim bahwa agama islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai kebenaran yang mutlak. Mereka (penganut pemikiran ini) menganggap, yang berada di luar garis islam Muhammad adalah orang-orang yang celaka, termasuk islam Ibrahim atau islam Isa dan Musa (Nasrani dan Yahudi).

Alur pemikiran ini—menurut Bagis Syarof ketika meresensi buku tersebut—adalah klaim yang hanya mendatangkan konflik. Sebab mereka hanya memiliki keinginan untuk benar, namun lupa memberi apresiasi pada agama lain, yang bahkan masih serumpun. Ini yang kemungkinan besar dipakai oleh penendang sesajen. Memandang agama atau keyakinan dengan cara yang eksklusif.

Pria itu menganggap keyakinannya tersebut adalah yang paling benar, dan menganggap keyakinan lain adalah sebuah celaka. Hingga impact-nya, terjadilah tindakan anarkis dengan tidak mengindahkan bentuk keyakinan kelompok lain. Pemikiran eksklusif seperti ini tidak pantas jika masih bercokol dalam kehidupan sosial.

Kedua, adalah pemikiran islam yang inklusif. Pemikiran ini memakai teori dikotomis-inklusif. Mereka meyakini bahwa keyakinan mereka yang paling benar, namun mereka juga mengakui adanya keyakinan kelompok lain. Nah, kemudian, pemikiran inklusif ini berevolusi menjadi pemikiran pluralis. Sehingga keduanya memiliki kaitan.

Bagis Syarof memberikan analogi pemikiran terakhir (pluralis) ini dengan sebuah benda. Ada benda berbentuk persegi (misal penghapus). Dari atas ada mereknya. Dari sisi kanan ada motifnyaa. Dari setiap sisi tampak berbeda, dan seterusnya. Begitu juga dengan agama, masing-masing agama meyakini adanya Tuhan. Hanya saja, mereka berbeda dalam sudut pandang dan mengekspresikannya.

Dalam pemikiran islam pluralis, tidak perlu adanya kebencian terhadap keyakinan orang lain. Apalagi sampai mengklaim salah terhadap apa yang diyakini orang lain. Sebab, pemikiran eksklusif selalu memberi ruang terhadap adanya absurditas dalam beragama. Inilah yang harus kita perhatikan.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
  • Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata - 10 Juli 2026
Page 1 of 2
12Next
Tags: BudayaEsaiHabib jafarMaduraMarewaiSesajen

Related Posts

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

Next Post
Ampyang Parak sebagai Ibukota Bandar Sapuluh: Pesisir Selatan dalam Bayang-bayang Kelupaan Sejarahnya | Arif P Putra

Ampyang Parak sebagai Ibukota Bandar Sapuluh: Pesisir Selatan dalam Bayang-bayang Kelupaan Sejarahnya | Arif P Putra

Zera Permana | Rentangan Kaba Binu Alim Pulau Cingkuek

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In