
Venari In Gehenna (2026)
— Michelle Petrelll
Aku memandangi lukisan anomali
persis melihat api melawan gravitasi
: alkisah gerombolan siluman saling
mengunci lawan demi kemakmuran,
sebab mereka dilahap oleh keniscayaan
yang fana di lembah Gehenna ketika
segalanya makin sengsara.
Beberapa siluman menyeret satu korban
ke jurang, lainnya lagi hanya menonton;
adalah cara terbaik sang fasik meraup
keuntungan tanpa mengotori tangannya.
Seolah hilang sadar bahwa saku kosong
adalah pacu kortisol guna mendorong kepada
ilusi puncak berhala, sedang langit diwarnai
jelantah sebab berguguran mayat para bedebah.
Karena itulah, ramjadah, kata tentram
tidak masuk dalam kamus mereka.
Yang ada hanyalah baku hantam
walau kemakmuran kian bermuram.
Inikah yang kau dambakan perihal
‘kita ini adalah bangsa yang besar’
disaat tanah kami diambang bubar?
(2026)
Currus Aureus
I
“Aku datang kemari ingin mewarta
perihal donasi umatku telah ditukar
dengan sebuah kereta kencana berlapis zirah
guna menjaga marwah peradaban tanah kita.”
Ketahuilah,
ucapanmu adalah manis baccarat campur
azimat lantaran dijejali amis darah dan jeritan
pasrah umat sedang memanggul kaki para penjajah.
Jalan berlubang dan lumpur yang bergoyang
mustahil sanggup meloloskanmu hanya dengan
lapisan zirah dari kereta kencana, jika engkau nekat
berkendara, mereka tidak segan menyedotmu habis
sebelum berganti engkau yang berteriak: Ampun Umatku!
“Kami ingin jamuan semen di bawah cahaya,
bukan ingin engkau bersikeras mencari cara
agar bisa bergurau di sofa kereta kencana.”
II
Sialnya,
engkau bukanlah penggembala bagi
para domba yang tersesat, bukan pula
aktivis satwa bagi sengkarut pesut yang
hanyut kehilangan alamat,
nyatanya seperti
pecandu dosa takut mati terpantau nyaman
menikmati kereta kencana kenan menunaikan
ratapan para rasul tuli usai dimandati
singgasana puncak menara koloni.
Percayalah, surga menolak ijabat
doa-doa darimu kaum khianat
yang kental mengaku sang imamat.
(2026)
Rangkulan Harmoni Pasir Mayang
Di satu lengkung garis pesisir,
laut tak menggerutu kepada pasir,
ombak tak menyembur kencang kepada
pohon kelapa yang purba menjadi saksi mata
momentum peradaban.
Tangan halus anak majang menanam
biji bakau serupa merawat pusaka lampau,
menjemput ikan dengan kitab laut dan ayat jala
hingga merasa tak ingin cepat pulang,
sebab harum ladang dan pantai mereka resap
menjadi napas tak kenal batas.
Mereka seakan tak pernah bertemu dalam balai desa,
hanya dengan mata yang saling menatap,
saling berangkulan dengan bahu yang menopang,
tanah mereka lahir dari rahim mulia.
Pasir Mayang bagai epos layak pajang
yang diinai tangan halus anak majang.
Sesungguhnya tanah mereka sebermula
pedada yang menadah setinggi sama dada.
(2025-2026)
TENTANG PENULIS

Cahaya Daffa Fuadzen lahir dan besar di Samarinda, Kalimantan Timur. Bergiat di Komune TerAksara Indonesia. Termaktub dalam antologi puisi bersama berjudul Cermin Lain di Balik Pintu Lamin (Ruang Sastra Kaltim, 2023). Penulis terpilih di Singaraja Literary Festival 2025 dan Alumnus Majelis Sastra Asia Tenggara 2025 kategori puisi. Dapat disapa melalui Instagram @cahayadaffa_.




Discussion about this post