• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Minggu, Februari 15, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Esai: Sesajen dalam Bayangan Etnosentrisme | Aqil Husein Almanuri

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
24 Januari 2022
in Budaya, Esai
1.4k 14
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Memandang Sinis Budaya dengan Dalih Agama
Sebenarnya, konflik kultural tidak hanya saat ini terjadi. Sebelumnya juga masif kita temui. Semakin terasa pelik, jika konflik tersebut diwarnai dengan isu keagamaan. Mengherankan, Indonesia dengan negara multikultural mengalami hal naif demikian. Padahal, Indonesia sejak dulu memang menyuguhkan beragam realitas budaya. Namun, beberapa justru dipandang sinis dengan dalih agama.

Agama dan budaya merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan. Budaya dilaksanakan sebagai perwujudan dari nilai-nilai spiritualitas yang ada pada agama, sedangkan agama membutuhkan budaya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai yang dikandung. Boleh mengatakan suatu budaya sebagai ajaran yang bertentangan dengan agama. Namun, sikap yang ditampilkan bukan justru arogansi. Sejarah—dengan jelas—memberikan realitas kepada kita tentang bagaimana islam (sebagai agama baru, dulunya) diterima di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Habib Husein Ja’far pernah menyatakan bahwa kebudayaan merupakan lingkup terbesar dari kehidupan manusia, dan agama termasuk di dalamnya. Inilah yang kemudian memberikan pesan bahwa antara agama dan budaya bisa terjalin sebuah keharmonisan. Maka dari itu, keharmonisan keduanya harus kita amini sebagai cikal bakal keharmonisan dalam konstruk sosial.

Ada dua konsep yang penulis pahami dalam kaitan antara agama dan budaya. Pertama, jika ada suatu tradisi masyarakat yang secara esensi sesuai dengan ajaran islam, maka harus tetap dianjutkan dan dipertahankan. Kedua, jika tradisi itu bertentangan dengan agama, maka bisa tetap dilaksanakan dengan memasukkan nilai islam di dalamnya.

Di Madura sendiri misalnya, ada salah satu tradsi yang pada mulanya—bisa dikatakan—bertentangan dengan ajaran islam. Tradisi yang dilaksanakan untuk mendapatkan keselamatan dan dijauhkan dari musibah. Tradisi ini dinamakan dengan rokat. Awalnya, pelaksanaan rokat tidak seperti sekarang. Awalnya secara praktik, rokat terkesan bertentangan dengan ajaran agama. Suatu kelompok masyarakat meminta keselamatan kepada ruh dengan memberikan tumbal; biasanya berupa ayam atau kambing yang dibunuh secara cuma-cuma. Namun, saat ini, tampilan rokat tidak seperti itu lagi. Tradisi rokat sedikit banyak sudah diwarnai dengan ajaran agama. Tradisi tersebut saat ini biasanya diisi dengan bacaan-bacaan tahlil, istighasah, dan doa bersama untuk keselamatan. Hewan yang biasanya dijadikan tumbal, kini sudah digunakan secara layak; disembelih, dimasak, dan dimakan secara bersama-sama.

Walisongo pun juga begitu. Budaya-budaya masyarakat lokal yang sejak sebelum islam sudah bertahan tidak dengan anarkis dihilangkan. Mereka melakukan sebuah infiltrasi terhadap budaya-budaya tersebut, sehingga kemudian islam diterima tanpa melalui kekerasan. Sepatutnya kita juga demikian, berdakwah bukan lantas mencitrakan islam sebagai agama amarah, melainkan membikin islam dikenal sebagai agama ramah.

Artinya, budaya sebagai hasil gagasan dari akal pikir manusia atau suatu kelompok tidak bisa dihilangkan begitu saja, apalagi dihina. Kerekatan masyarakat dengan suatu budaya atau keyakinan adalah sebuah keniscayaan. Kita harus membuang pikiran kolot kita jauh-jauh dalam merespon hal demikian. Wallahu a’lam…


Penulis Aqil Husein Almanuri, bisa dijumpai di media sosial; FB; Aqil Husein Almanuri, Ig; qielhusein_almanuri. Penulis merupakan Alumnus Nasy’atul Mutaallimin Gapura. Mahasiswa IAIN Madura. Menulis di beberapa media, baik cetak atau online. Di antaranya; Radar Madura, Radar Banyuwangi, Koran Analisa Medan, Harakatuna.com, Iqra.id, NUOnline, Duniasantri.co, dan lainnya.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya - 15 Februari 2026
  • Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia - 8 Februari 2026
  • Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan - 5 Februari 2026
Page 2 of 2
Prev12
Tags: BudayaEsaiHabib jafarMaduraMarewaiSesajen

Related Posts

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

Next Post
Ampyang Parak sebagai Ibukota Bandar Sapuluh: Pesisir Selatan dalam Bayang-bayang Kelupaan Sejarahnya | Arif P Putra

Ampyang Parak sebagai Ibukota Bandar Sapuluh: Pesisir Selatan dalam Bayang-bayang Kelupaan Sejarahnya | Arif P Putra

Zera Permana | Rentangan Kaba Binu Alim Pulau Cingkuek

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In