• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Senin, Agustus 3, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Esai: Sesajen dalam Bayangan Etnosentrisme | Aqil Husein Almanuri

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
24 Januari 2022
in Budaya, Esai
2.4k 24
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Memandang Sinis Budaya dengan Dalih Agama
Sebenarnya, konflik kultural tidak hanya saat ini terjadi. Sebelumnya juga masif kita temui. Semakin terasa pelik, jika konflik tersebut diwarnai dengan isu keagamaan. Mengherankan, Indonesia dengan negara multikultural mengalami hal naif demikian. Padahal, Indonesia sejak dulu memang menyuguhkan beragam realitas budaya. Namun, beberapa justru dipandang sinis dengan dalih agama.

Agama dan budaya merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan. Budaya dilaksanakan sebagai perwujudan dari nilai-nilai spiritualitas yang ada pada agama, sedangkan agama membutuhkan budaya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai yang dikandung. Boleh mengatakan suatu budaya sebagai ajaran yang bertentangan dengan agama. Namun, sikap yang ditampilkan bukan justru arogansi. Sejarah—dengan jelas—memberikan realitas kepada kita tentang bagaimana islam (sebagai agama baru, dulunya) diterima di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Habib Husein Ja’far pernah menyatakan bahwa kebudayaan merupakan lingkup terbesar dari kehidupan manusia, dan agama termasuk di dalamnya. Inilah yang kemudian memberikan pesan bahwa antara agama dan budaya bisa terjalin sebuah keharmonisan. Maka dari itu, keharmonisan keduanya harus kita amini sebagai cikal bakal keharmonisan dalam konstruk sosial.

Ada dua konsep yang penulis pahami dalam kaitan antara agama dan budaya. Pertama, jika ada suatu tradisi masyarakat yang secara esensi sesuai dengan ajaran islam, maka harus tetap dianjutkan dan dipertahankan. Kedua, jika tradisi itu bertentangan dengan agama, maka bisa tetap dilaksanakan dengan memasukkan nilai islam di dalamnya.

Di Madura sendiri misalnya, ada salah satu tradsi yang pada mulanya—bisa dikatakan—bertentangan dengan ajaran islam. Tradisi yang dilaksanakan untuk mendapatkan keselamatan dan dijauhkan dari musibah. Tradisi ini dinamakan dengan rokat. Awalnya, pelaksanaan rokat tidak seperti sekarang. Awalnya secara praktik, rokat terkesan bertentangan dengan ajaran agama. Suatu kelompok masyarakat meminta keselamatan kepada ruh dengan memberikan tumbal; biasanya berupa ayam atau kambing yang dibunuh secara cuma-cuma. Namun, saat ini, tampilan rokat tidak seperti itu lagi. Tradisi rokat sedikit banyak sudah diwarnai dengan ajaran agama. Tradisi tersebut saat ini biasanya diisi dengan bacaan-bacaan tahlil, istighasah, dan doa bersama untuk keselamatan. Hewan yang biasanya dijadikan tumbal, kini sudah digunakan secara layak; disembelih, dimasak, dan dimakan secara bersama-sama.

Walisongo pun juga begitu. Budaya-budaya masyarakat lokal yang sejak sebelum islam sudah bertahan tidak dengan anarkis dihilangkan. Mereka melakukan sebuah infiltrasi terhadap budaya-budaya tersebut, sehingga kemudian islam diterima tanpa melalui kekerasan. Sepatutnya kita juga demikian, berdakwah bukan lantas mencitrakan islam sebagai agama amarah, melainkan membikin islam dikenal sebagai agama ramah.

Artinya, budaya sebagai hasil gagasan dari akal pikir manusia atau suatu kelompok tidak bisa dihilangkan begitu saja, apalagi dihina. Kerekatan masyarakat dengan suatu budaya atau keyakinan adalah sebuah keniscayaan. Kita harus membuang pikiran kolot kita jauh-jauh dalam merespon hal demikian. Wallahu a’lam…


Penulis Aqil Husein Almanuri, bisa dijumpai di media sosial; FB; Aqil Husein Almanuri, Ig; qielhusein_almanuri. Penulis merupakan Alumnus Nasy’atul Mutaallimin Gapura. Mahasiswa IAIN Madura. Menulis di beberapa media, baik cetak atau online. Di antaranya; Radar Madura, Radar Banyuwangi, Koran Analisa Medan, Harakatuna.com, Iqra.id, NUOnline, Duniasantri.co, dan lainnya.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
  • Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata - 10 Juli 2026
Page 2 of 2
Prev12
Tags: BudayaEsaiHabib jafarMaduraMarewaiSesajen

Related Posts

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

Next Post
Ampyang Parak sebagai Ibukota Bandar Sapuluh: Pesisir Selatan dalam Bayang-bayang Kelupaan Sejarahnya | Arif P Putra

Ampyang Parak sebagai Ibukota Bandar Sapuluh: Pesisir Selatan dalam Bayang-bayang Kelupaan Sejarahnya | Arif P Putra

Zera Permana | Rentangan Kaba Binu Alim Pulau Cingkuek

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In