• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Iswadi Bahardur | Sumpah Bang Upret Untuk Corina

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
25 April 2021
in Sastra
1.5k 15
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Kebusukan kampung ini belum lengkap kalau tidak menyebutkan makhluk perempuannya, tepatnya perempuan pekerja “tidak beres”. Mereka adalah Atun, Surti, Toneng, Inah, Imah, Ohai, dan segerobak perempuan bernasib buruk lainnya. Mereka bertempur dengan sengitnya nafas malam—menjajakan seks untuk laki-laki hidung belang kelas congek. Di antara sekian banyak perempuan “tidak beres” itu ada satu orang yang paling cantik memikat. Dia adalah Corina, penjaja tubuh paling banyak pelanggan.

Sebenarnya bagiku dan warga lainnya sosok Corina tak lebih dari perempuan lain yang bermodal tubuh montok saja. Tapi anggapan itu berubah setelah pada suaru ketika aku bercakap-cakap dengan bang Upret.

“Bang, apa rasanya meninggalkan kebiasaan ibadahmu yang dulu?” tanyaku sedikit iseng ketika suatu malan dia singgah di kedai Mang Somse. Ada  lima orang lelaki lainnya yang duduk mengelilingi bang Upret saat itu.

“Seperti makan roti tawar tanpa gula dan pemanis rasa,” jawab lelaki itu sambil menjentik-jentikkan abu rokoknya ke arah kaki meja. “Kalau kalian mau tahu rasanya menjadi orang baik-baik, jangan menganggap kalau kalian adalah orang baik,” lanjut bang Upret dengan suara sedikit serak. Lepas berkata begitu, ia mengambil satu kartu judi yang tergeletak di atas meja yang kami kelilingi.

“Aku ambil satu. Aku mau belajar jujur pada Tuhan,” tutupnya sebelum melangkah keluar kedai.
Kami terlongo. Ucapan bang Upret barusan sulit dicerna. Apakah Tuhan membolehkan manusia belajar jujur dengan perantara kartu judi? Ah, aku merasa bodoh dalam hal filosofi Tuhan.

“Perempuan! Perempuan kadang lebih adidaya daripada Tuhan. Kau bisa mati di tangannya, kapan pun dia mau!” teriakan lelaki itu terdengar dari jarak yang sudah jauh.  Lagi-lagi kami hanya bisa diam karena ucapannya yang bersayap.

Tidak ada yang mengajari, kupikir bang Upret memiliki kecerdasan di atas rata-rata penghuni kampung ini. Kecerdasan yang mendadak menjadi jalan buruk sejak dia tidak lagi menjadi lelaki alim. Aku merasa sedikit kasihan setiap kali menemukannya berjalan kaki  menuju bedengnya pada pukul dua puluh empat atau pukul satu dini hari. Langkahnya terseok dan seringkali aroma tubuhnya menguarkan bau amis darah dan alkohol.

“Eh, Samson!” teriaknya saat melihatku berdiri di depan pintu bedeng yang terbuka. “Kau harus bahagia, Son! Kau harus jaga istrimu baik-baik! Jangan sampai dia mati diam-diam!” semprot lelaki itu sambil menunjuk-nunjuk ke dalam bedengku yang temaram.
Tak kusahuti ocehan bang Upret. Kupikir dia sedang mabuk sejak dari pasar Senen. Kupikir juga lelaki itu masih menyimpan luka yang dalam sejak kehilangan istrinya beberapa waktu silam.

“Son! Jangan lupakan rumus bahagia!” teriaknya sambil melambaikan tangan kepadaku. Kubalas dengan anggukan dan lambaian juga. Mendadak hatiku terasa teriris. Dia mungkin sedang berperang dengan batinnya untuk melarikan diri dari bayangan kematian istrinya yang pahit. Namun rupanya jiwanya tetap dibelenggu bayangan masa lalu itu. 

**

Beberapa hari setelah percakapanku dengan bang Upret, kampung Perobek tiba-tiba dihebohkan oleh berita baru. Bang Upret jatuh hati pada Corina yang jadi primadona lelaki hidung belang di stasiun Senen. Mereka berkencan di rumah bedeng milik Corina, seminggu lalu, begitu kabar yang santer beredar. Kabar itu makin menghoyak-hoyak kampung Perobek ketika aku dan beberapa warga mendapati bang Upret diusir keluar dari bedengnya oleh Corina.

“Jangan coba-coba datang lagi ke sini, brengsek! Tubuhku bernilai rupiah! Aku tak terima lelaki yang meniduriku dengan bayaran doa!” Corina mendorong bang Upret keluar dari bedengya. Tubuh lelaki itu tersungkur ke tanah.

Corina berkacak pinggang di hadapan bang Upret yang kusut masai. Corina, si rembulan malam melemparkan oblong lusuh milik bang Upret ke wajah lelaki itu. Tubuh bang Upret nampak masih berkeringat, tetapi Corina tampak tidak peduli sambil membetulkan letak sarungnya menutupi dada yang nir penutup, Corina kembali masuk ke dalam bedengnya. Pintu bedeng berdebum dan Corina hilang di baliknya. Sunyi. Kami yang menyaksikan kejadian itu ngacir sebelum  bang Upret menghardik.

Setelah kejadian itu Corina menghilang tanpa jejak. Sehari, seminggu, sampai sebulan, Corina tak kembali ke bedengnya.
Rupanya kepergian Corina meninggalkan luka baru pada diri bang Upret. Lelaki itu makin menggila dalam kehampaan. Setiap malam menjelang pagi dia pulang ke bedengnya sambil berteriak-teriak. Nama Corina tentu menjadi kata pertama yang selalu ada  dalam teriakannya.

“Corina! Brengsek! Kukutuk kau kena penyakit iblis! Kukutuk kau mati oleh satu percikan ludahku!” demikian kalimat yang diteriakkan bang Upret setiap malam.
Tak ada yang menghalangi, apalagi menghardik bang Upret atas doa-doa jahatnya itu. Apalagi sejak bang Upret menambah aksi gilanya sambil mengacung-acungkan golok tajam mengilat-ngilat. Semua bungkam menghindari tebasan golok salah alamat. Sejak itu, setiap malam kampung Perobek berubah menjadi seperti kuburan, gela[ dan sunyi. Mendekat tengah malam hanya teriakan bang Upret yang menggema di tiap sudut jalan.

**

Beberapa bulan setelah Corina menendang bang Upret keluar dari dalam bedengnya, perempuan berambut bop itu mendadak muncul kembali di kampung Perobek. Tapi  kini perempuan itu muncul dalam kondisi buruk. Jana, kawan sama mangkal dengan Corina di stasiun Senen panik melihat keadaan Corina yang menakutkan. Tubuhnya panas tinggi dan mulut tak berhenti menyemburkan batuk disertai dahak menghijau. Warga Perobek mendatangi bedeng milik Corina dan mengucapkan rasa duka atas penyakit  yang dialaminya. Beberapa orang berbisik-bisik; doa kutuk bang Upret telah jadi kenyataan pada Corina. Ada pula yang berbisik, Corina terkena penyakit hina dari laki-laki yang mengencaninya
Sungguh ini tak masuk akal! Tiba-tiba setiap orang yang pulang mengunjungi Corina  mengalami sakit yang sama persis dengan penyakit perempuan itu. Badan mereka panas tinggi, mulutnya menggelontorkan batuk disertai dahak menghijau. Beberapa diantara mereka merasakan tercekik sebelum akhirnya meninggal dunia. Corina telah menularkan penyakit serupa wabah hina kepada orang-orang.

Kampung Perobek menjadi semakin sunyi. Bedeng-bedeng tertutup tanpa cahaya. Orang-orang tak ada lagi yang berani mengunjungi Corina. Hingga pada suatu malam seorang laki-laki datang menemui Corina. Orang itu adalah bang Upret.

“Ayo Corina, menikahlah denganku! Kau akan bahagia! Aku membawa bahagia untukmu!” bujuk bang Upret. Dipegangnya tangan Corina yang panas bagai bara tanpa peduli kalau mulut perempuan itu  terus menumpahkan dahak menghijau.
“Aku takut menikahimu! Corina bicara tergagu di antara sela batuk yang menggempa. “Aku tak mau menambah dosamu! Kegilaanmu!” sambung Corina dalam nafas yang sesak.

Usai berkata begitu jantung Corina berhenti  berdetak. Perempuan itu mati.
Menyadari Corina sudah tak bernyawa, bang Upret menampar wajahnya sendiri sambil  meraung panjang.

**

Sepuluh hari setelah Corina meninggal, orang-orang yang mengalami penyakit serupa dengan perempuan itu mendadak sembuh. Sungguh ajaib! Mereka yakin kesembuhan itu adalah mukjizat dari Tuhan setelah Corina telah tiada. Tetapi Tuhan yang mana? Ah, mereka sendiri juga bingung Tuhan itu berwujud apa?
Orang-orang yang telah sembuh dari penyakit menjijikkan itu mungkin telah melupakan bang Upret. Memang sejak kematian Corina lelaki itu tidak terlihat lagi batang hidungnya. Apakah ia telah mengakhiri hidupnya karena patah hati?
Bang Upret tidak juga muncul. Namun orang-orang nampak bergembira. Hanya aku yang mungkin merasakan gelisah yang tidak dapat kuterjemahkan sejak Corina mati dan bang Upret ikut lenyap. Hingga pada suatu malam, rasa penasaran dalam diriku membawa kakiku menuju bedeng bang Upret.

Pintu bedengnya merenggang saat aku sampai di sana. Tak sabar kukuakkan pintu bedeng itu. Aku terlonjak oleh pemandangan di dalam sana. Lelaki itu meringkuk di sudut bedeng. Ia menggigil. Mulutnya menggelontorkan batuk berdahak hijau ke lantai bedeng, persis seperti penyakit yang pernah diderita Corina. Tubuhku gemetaran menyaksikan pemandangan mengerikan dari tubuh bang Upret. Di telingaku terngiang sumpah kutuk bang Upret terhadap Corina sebelum perempuan itu mati.

Padang/September 2020-2021



Penulis, Iswadi Bahardur lahir dan menetap di kota Padang, Sumatera Barat. Selain menulis puisi, dia juga berprofesi sebagai dosen. Puisi, cerpennya, dan novelnya termuat dalam buku tunggal, antologi bersama, media online, serta platform novel digital. Dia dapat ditemui melalui instagram @adhi_trusardi dan facebook Iswadi Bahardur Adhi.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Page 3 of 3
Prev123
Tags: ArtikelBudayaCerpenEsaiPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post

Sabung Ayam: Tradisi pada Puasa Pertama Ramadan | Yori Leo Saputra

Merespon Tantangan Gubernur Sumbar: Sejarah PDRI Menjadi Konsep Pertunjukan yang Akan ditampilkan pada Hari Bela Negara

Merespon Tantangan Gubernur Sumbar: Sejarah PDRI Menjadi Konsep Pertunjukan yang Akan ditampilkan pada Hari Bela Negara

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In