• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Rabu, Agustus 12, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Iswadi Bahardur | Sumpah Bang Upret Untuk Corina

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
25 April 2021
in Sastra
2.5k 25
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Kami saling pandang, masih menduga-duga alasan di balik keputusannya. Ini sungguh mengagetkan, seorang guru mengaji tiba-tiba memutuskan pindah menetap ke kampung yang dihuni para bajingan.
“Alasannya apa?” Mang Somse menguatkan pertanyaanku.

Ahmad Kosim menarik nafas yang berat sebelum bersuara lagi, “dua minggu lalu istriku mati terlindas truk saat aku ngumandangkan adzan di mesjid Babakan. Aku pikir Tuhan sedang ngantuk atau sedang ketinggalan catatannya saat kejadian itu. Tapi aku tak sepenuhnya yakin Tuhan sedang khilaf mengambil nyawa istriku saat aku menyembahnya. Aku akhirnya berpikir Tuhan menyia-nyiakan pengabdianku,”
Ia menarik nafas lagi setelah bercerita dengan kalimat panjang. Nampak wajahnya tertekan.

“Sejak kejadian itu, aku pikir Tuhan lebih setuju kalau aku pamit dari kampung Babakan, meninggalkan masjid, meninggalkan anak-anak ngajiku, meninggalkan semua ibadahku,” suara Ahmad Kosim terdengar serak. Ia seperti sedang menemukan tempat menghempaskan keluhan atas kekecewaannya pada takdir Tuhan.

Aku merasa tertohok mendengar penuturan ahmad Kosim. Bagaimana bisa seorang laki-laki yang selama ini mengabdi begitu dalam kepada Tuhannya, tiba-tiba mengubah rencana hidup hanya karena kehilangan satu nyawa?
Lelaki berkopiah itu masih berdiri mematung di hadapan kami. Kupandangi detail wajahnya sekedar melunaskan rasa penasaranku untuk sebuah kata bernama “iman”. Kucari-cari di sorot mata dan garis wajahnya, sekiranya ada kata itu yang bisa meyakinkan aku kalau selama ini dia tak serius mengabdi kepada Tuhannya. Kalau dia serius menjadi pengabdi Tuhannya, kupikir tidak akan mudah ingin meninggalkan rumah Tuhan yang telah sekian waktu diramaikannya. Sayangnya aku tidak menemukan bayang kata “iman” itu di wajahnya. Ah, betapa sok tahunya aku tentang “iman”.

“Boleh, toh?” terdengar kalimatnya pendek bertanya.
Kulirik lelaki lain yang ada di dalam kedai Mang Somse, Aku memberi kode dengan mengangguk kepada mereka. Maksudku agar kedatangan Ahmad Kosim diterima saja. Hitung-hitung menambah jumlah lelaki yang bisa diajak main kartu.
Mang Somse dan lelaki lainnya sepertinya cepat mengerti dengan kode yang kuberikan. Mereka turut mengangguk tanda setuju. 

“Oke, Mas kami bolehkan pindah sini,” Mang Somse mewakili kami semua, menyanggupi permintaan Ahmad Kosim. Keputusan Mang Somse disambut dengan senyum nyengir oleh lelaki tersebut.
Tak banyak lagi yang ingin kami tanyakan atau interogasi dari Ahmad Kosim. setelah dia bercerita penyebab keinginannya pindah ke kampung Perobek. Kami terima lelaki bermata sedikit sipit itu dengan senang hati. Kami panggil dia bang Upret karena sejarah masa lalunya adalah seorang ustad dari kampung Babakan yang terkenal alim penghuninya. Alasan kami menerima kepindahan lelaki itu bukan karena kenaifannya mengubah jalan hidup menjadi membelakangi Tuhan adalah gambaran yang sama dengan kehidupan kami yang bajingan-bajingan. Penerimaan itu semata-mata karena rasa senasib yang mendadak menjalari batin–bagaimana rasa senasib itu datang, itu bukan pertanyaan cerdas. Kami penghuni kampung Perobek adalah para bajingan yang sudah merasa mampus mimpi bahagianya jauh sebelum bang Upret datang, tetapi kami masih memiliki kepedulian dengan sesama.

**

Setelah menetap di kampung Perobek, bang Upret sungguh mengubah semua rupa penampilannya. Ia tidak lagi memakai kopiah. Janggutnya ia tebas habis. Celananya berganti dengan jeans robek. Gamis putih berganti dengan kaos lengan pendek seperti kebanyakan dipakai laki-laki kampung Perobek. Peristiwa kematian istrinya yang tragis telah memutar haluannya sangat tragis. Kini Ahmad Kosim adaah bang Upret yang seharai-hari mencari makan dari pekerjaan tukang parkir di pasar Senen. Ia telah meleburkan hidupnya ke dalam dunia yang meniadakan ibadah apa pun. Dunia dari sekian belas rumah bedeng yang dihuni orang-orang tak tercatat di jalan lurus kampung Petobek. Dunia orang-orang yang menaruhkan otot dan kekerasan di statsiun Senen agar bisa bertahan hidup. Ada Mang Somse, pencopet yang nyambi buka kedai kopi pada malam hari. Juga ada bang Jono, pengemis yang setiap hari mangkal di depan pasar Senen dengan lagak pura-pura cacat kaki kiri. Lalu aku, Samson, pemulung berkaki pincang. Selain aku, ada bang Udel, dan belasan aki-aki peot di komplek yang cari hidup sebagai jambret, pemulung, pengedar, tukang jagal, dan segala macam pekerjaan busuk lainnnya. Kamilah yang menamai kampung Perobek; singkatan dari Perkumpulan Orang-orang Brengsek.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata - 4 Agustus 2026
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
Page 2 of 3
Prev123Next
Tags: ArtikelBudayaCerpenEsaiPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Kata Ruang: Strategi Mendang-Mending dalam Puisi | Dandri Hendika

Kata Ruang: Strategi Mendang-Mending dalam Puisi | Dandri Hendika

Oleh Dandri Hendika
7 Agustus 2026

Antara guru kulit terang dan guru lokal sawo matang ada jenjang tak kepalang. Gaji guru sawo matang merangkak-rangkak seperti...

RUBRIK KATA RUANG

Oleh Dandri Hendika
7 Agustus 2026

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Oleh Redaksi Marewai
11 Juli 2026

Pulang Kampung             Haris keluar dari bus angkutan antar kota. Langkahnya pelan menghentak seakan menumpahkan kekesalan di hatinya. Bagaimana...

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Oleh Redaksi Marewai
26 Juni 2026

KEPADA SHEI Aku senang membayangkan hal-hal yang indah. Kubayangkan matamu menjadi rumah paling megah: tempat di mana lelah perlahan...

Next Post

Sabung Ayam: Tradisi pada Puasa Pertama Ramadan | Yori Leo Saputra

Merespon Tantangan Gubernur Sumbar: Sejarah PDRI Menjadi Konsep Pertunjukan yang Akan ditampilkan pada Hari Bela Negara

Merespon Tantangan Gubernur Sumbar: Sejarah PDRI Menjadi Konsep Pertunjukan yang Akan ditampilkan pada Hari Bela Negara

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In