
Pulang Kampung
Haris keluar dari bus angkutan antar kota. Langkahnya pelan menghentak seakan menumpahkan kekesalan di hatinya. Bagaimana tidak, kepulangannya kali ini telah direncanakannya jauh-jauh hari, tapi malah berantakan gara-gara mandor sialan. Masih terlintas dibenaknya ucapan sang mandor tadi pagi, “Tolonglah, Ris, kau jangan berangkat pagi ini! Bisa tak capai target kita nanti. Kalau saja Darman kerja hari ini, aku tak memohon seperti ini padamu. Kau tahu kan adik iparku cerdiknya minta ampun, capeklah katanya! Nah! Kalau kukerasi ia, aku yang akan berantam dengan istriku”. Itulah negeriku, bahkan ditingkat paling bawah pun tetap saja ada nepotismenya.
Di hadapannya terbentang simpang tiga. Untuk sampai ke kampung istrinya, Haris harus mengambil jalur kanan. Itupun nanti mesti berputar melewati lereng-lereng perbukitan, mungkin ada 10 km jauhnya. Meskipun jalannya kecil, syukurnya sudah diaspal.
Diraih HP dari saku celananya, “ hampir jam 10”, gumamnya. Pandangannya tertuju ke pangkalan ojek dekat situ. Asa-nya muncul karena di sana ternyata masih ada satu ojek yang mangkal. Haris bergegas menghampiri, semoga saja ia masih narik sewa, begitu harapnya. Seorang pemuda kira-kira berumur 20 tahunan sedang sibuk dengan gawainya. “Maaf, bang, saya tidak narik”, jawabnya sambil terus memainkan telepon genggam. Susahnya sinyal di kampung ini menjadi masalah klasik dari dulu. Makanya Haris tahu kalau pemuda tadi belum juga pulang jam segini karena ingin memanfaatkan waktu dengan dunia mayanya. Sebab, ya, itu di kampungnya di atas sana HP secanggih apapun tidak berguna.
Haris berbalik, termenung sesaat. Beginilah nasibnya kalau kemalaman. Sempat ia berpikir apa cari penginapan saja, sesaat kemudian Haris tersenyum getir. Mana mungkin ada penginapan di sekitar sini, pikirnya lagi. Lebih baik cari masjid atau surau saja, Haris akhirnya memutuskan. “Abang bukan orang sini, ya? Mau ke mana?“, rupanya diam-diam si pemuda memerhatikan gerak-geriknya. Haris menceritakan sudah hampir satu bulan ia tak pulang menjenguk istri dan anaknya yang masih bayi. Dan kenapa ia sampai kemalaman seperti saat ini.
Beruntungnya pemuda tadi, Marta namanya, menawari tumpangan. Katanya kampungnya dengan kampung istri Haris tidak jauh. Selisih satu jorong. Kalau nasib lagi baik, siapa tahu nanti ada orang di kampungnya yang juga hendak pulang ke kampung istri Haris, karena biasanya kampung-kampung yang berdekatan warganya masih berkerabat. Marta juga menceritakan banyak juga pemuda dan pemudi di kampungnya yang menikah dengan pemuda pemudi di kampung istri Haris. “Kalaupun tak dapat tumpangan, jalan kaki pun dekat bang, ada-lah sekitar 3 kiloan”, katanya. Itulah orang di kampung-kampung, 3 km dekat katanya.
***
Segelas teh hangat dihidangkan oleh ibu Marta. Bahkan si ibu sempat memaksa menawari makan, namun ditolak Haris dengan halus. Basa-basi takut malah merepotkan nantinya. Keramahtamahan yang masih dapat dirasakan ketulusannya, tidak seperti di komplek perumahan tempat Haris menetap di kota. Beda satu blok saja mungkin tidak lagi saling kenal apalagi tegur sapa. Bahkan kedua orang tua Marta tahu siapa Mertua Haris saat ia menyebutkan nama istrinya. “Oo, jadi anak menantunya pak uncu, ya?“ Begitu kata mereka setengah terkejut. “Baiknya, nak Haris tidur saja di sini, biar besok pagi diantar sama Marta. Rasanya jam-jam segini sudah tidak ada lagi warga yang naik ke atas (maksudnya kampung istri Haris, letaknya memang lebih tinggi)”, lanjut mereka. “Iya bang, jangankan malam-malam seperti sekarang, maghrib saja warga sini sudah malas melewati puncak Sialang”, Marta menambahkan. “Alah dasar kau saja yang gadang sarawa, Marta! Jangan kau menakut-takuti orang”, pangkas ayah Marta.
Setelah menimbang situasi dan didorong rasa rindu setelah sebulan tidak bertemu anaknya yang lagi lucu-lucunya, Haris akhirnya memutuskan meneruskan dengan jalan kaki. Semoga saja nanti dapat tumpangan di jalan. Marta dan orang tuanya coba menahan, tapi Haris bersikeras. Bagi mereka mungkin tidak apa-apa, tapi bagi Haris tidak enak juga menginap di rumah orang yang baru kenal. Mereka meminjamkan Haris senter, “jalanan gelap,” kata mereka.
Langkah-langkah Haris terasa berat di jalan yang agak menanjak. Sudah hampir seperempat jam ia berjalan sejak meninggalkan rumah Marta tadi. Sesekali ia menoleh ke belakang memerhatikan di sela-sela kabut malam, kalau saja ada motor atau mobil yang hendak melintas. Ditemani bunyi jangkrik dan cahaya kunang-kunang yang kadang timbul tenggelam di gelapnya malam. Haris tahu, selepas tanjakan ini jalanan akan menurun lalu bertemu dengan jembatan di ujung sana. Niatnya Haris beristirahat sejenak saat sampai jembatan tersebut. Tidak habis sebatang rokok, Haris melanjutkan perjalanan. Setelah jembatan jalan kembali menanjak panjang, dan di atas sanalah puncak sialang yang disebut si Marta. “Huh, aku lebih takut pada orang daripada setan hantu belau kalau di pesawangan seperti ini”, pikir Haris.
Sisi kanan tebing agak curam dengan tanah keras yang membatu, beberapa bagian berlumut dan ditumbuhi rumput liar. Ada juga sedikit rembesan air yang keluar dari celah-celah tebing terus merembes di jalanan yang dilalui Haris. Di kiri jurang yang tak terlalu dalam, ada beberapa pohon coklat dan kayu manis tumbuh diselingi tanaman semak hampir setinggi pinggang. Semakin mendekati puncak Sialang angin terasa semakin kencang, cukup membantu mengurangi rasa letih Haris. Namun meskipun begitu tetap saja keringat menetes dari wajahnya. Tepat di puncak rumpun bambu di kiri berderit, daunnya bersiur ditiup angin. Mungkin karena lelah berjalan sementara kendaraan untuk menumpang belum ada melintas, Haris berhenti sejenak. Kepalanya tengadah memandang ke puncak tebing. Barusan ia mendengar teriakan melengking dari atas sana, mungkin itu suara siamang. Tapi Haris tak peduli. “Hei!! Jangan kau berteriak saja di situ! Kalau kalian merasa terganggu aku di sini, bantulah aku antarkan aku ke rumah istriku! Aku tak peduli mau Siamang, beruang, bahkan hantu sekalipun”, Haris menantang. Diam sesaat, Haris menunggu. Rumpun bambu tetap berderit, daunnya tetap bersiuran, dan nyanyian jangkrik tetap sama. Haris sempat berpikir bakal terjadi “sesuatu” setelah ia menantang tadi, suasana tiba-tiba hening, angin berhenti berhembus misalnya, atau paling tidak ada lemparan pasir atau dahan kek dari atas tebing sana. “Angker!, angker apanya?. Jangkrik! “, gumamnya.
Melewati puncak Sialang, jalanan agak mendatar dan sedikit berlubang di sana-sini. Haris merasa lebih ringan dan mujurnya lagi, Haris tidak banyak barang bawaan. Hanya sedikit buah tangan dan beberapa pakaian ganti. Tak berapa jauh melangkah, sayup-sayup terdengar suara mesin motor. Haris berhenti, ke belakang. Di sana, seperti muncul dari balik gelap yang berkabut seorang lelaki paruhbaya mengendarai motor yang mungkin sama tuanya. Pakaiannya tampak kumal dan berlumpur, motornya juga. “Tak apalah, yang penting dapat tumpang”, katanya dalam hati. “Numpang ke atas pak! “. Haris duduk di jok belakang yang terasa sangat dingin, motor pun merayap pelan.
Beberapa waktu berlalu, Haris diam, si bapak pun diam. Tak ada percakapan. “Darimana, pak?“ Haris membuka percakapan. Kaku juga rasanya bila hanya diam-diaman di atas motor. Ternyata si bapak baru saja dari pintu air. Beliau bercerita bahwa hujan lebat membuat air sungai meluap sehingga tanggul pembatas irigasi jebol. Khawatir kalau-kalau tanaman padi beliau baru mulai berbuah rusak, makanya beliau dan beberapa warga coba perbaiki tanggul yang jebol. “Itulah, nak, kalau tidak diperbaiki secepatnya ujung-ujungnya bisa gagal panen”, si bapak bicara tanpa menoleh sedikitpun. Haris mengangguk coba memahami cerita si bapak. Namun dibenaknya ada sedikit keraguan, ia coba mengingat-ingat apa saat ia di jembatan tadi air sungai tinggi atau tidak?. Perasaannya biasa saja, tidak tinggi apalagi sampai meluap. Ah!, Haris jadi ragu.
Walaupun perbincangan dimulai dari berita yang rada-rada absurd dari si bapak perihal pintu air yang jebol. Suasana kaku jadi agak cair dan sesuai dugaan Haris si bapak mengenal baik keluarga istrinya, terutama mertuanya. “Si Unih itu teman sama mengaji bapak dulu,” katanya. Unih yang dimaksud si bapak tentu saja nama mertua Haris. Ternyata mereka sebaya, dan juga sama-sama tidak tamat sekolahnya. “Bagi kami yang orang kampung jaman dulu, bersekolah tidak jadi penting. Bisa baca tulis saja sudah bagus”, sambungnya. Si bapak terus bercerita tentang masa-masa mudanya dulu. Dulu katanya, kehidupan susah, uang tak banyak. Namun rasa kebersamaan sangat tinggi. Setiap ada warga yang hajatan ataupun tertimpa musibah, dibantu bersama-sama. Sawah ditanami bersama, tak perlu bayar orang. Banyak hal yang diceritakan si bapak, dan Haris hanya mengangguk-angguk saja. Sesekali ia menyela agar pembicaraan nyambung.
Terlena dengan cerita si bapak, Haris tidak ingat sudah berapa lama ia berboncengan dengan si bapak. Atau mungkin karena lampu motor yang tidak terlalu terang dan malam yang berkabut Haris jadi tidak begitu memerhatikan lingkungan sekitarnya. Haris terlalu asyik dengan cerita si bapak. Sampai pada suatu ketika ia merasakan punggungnya terkena sesuatu. Takut kalau-kalau itu ular yang jatuh dari pohon atau suatu hal yang lain, Haris mencoba meraba punggungnya. Dan tidak ia dapati apa-apa, Haris pun menoleh ke belakang. Dia tercengang, seketika kesadarannya menyentak membangkitkan ketakutan dalam dirinya. Bagaimana tidak, apa yang dilihatnya tak lain hanya pepohonan hutan yang rapat. Tak ada rumah-rumah, tak ada jalan yang biasa dia lalui. Bahkan suara jangkrik pun tak terdengar. Disadarinya alam terasa begitu hening, sunyi sesunyi-sunyinya.
Di depannya si bapak tiba-tiba berhenti bercerita, kebisuan terjadi di antara mereka. Harus membuka mulut hendak bertanya, namun tak satupun kata yang mampu ia ucapkan lidahnya kelu, tubuhnya bergetar. Perlahan-lahan tubuh si bapak mulai mengabur, membentuk bayangan. Haris dapat mencium bau busuk menyengat. Bau bangkai yang terkubur sekian lama dalam tanah. Dan kota-kota itu terdengar, pelan tapi cukup jelas di telinga Haris, “Kau yang meminta pertolongan padaku. Kau yang datang dan berteriak lantang menantangku, maka kuantar kau!“ Suara itu masih terdengar oleh Haris meskipun si bapak sudah tak terlihat lagi. Hilang lenyap, hanya kegelapan. Si bapak yang bahkan Haris tidak sempat bertanya siapa namanya.
Haris mendapati dirinya terjepit di sela-sela pepohonan bambu, tatapannya nanar, tubuhnya limbung. Sesaat kemudian tubuhnya melosot jatuh terjerembab. Dunia tampak berputar di matanya. Dan tubuhnya tak mampu lagi tegar, tak mampu lagi menopang kesadarannya. Tak jauh dari situ, terdengar lantunan azan berkumandang, azan pertanda masuknya waktu subuh.
Penulis, Risnandar Tjia. Ia adalah seorang Teknisi Ahli Reparator. Selain itu ia menyukai—mempelajari ilmu tafsir dan dunia metafisika, beliau juga terlibat dalam banyak project kreatif; film, budaya, dan sastra lisan.
- Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
- Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata - 10 Juli 2026
- Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei - 26 Juni 2026




Discussion about this post