
Antara guru kulit terang dan guru lokal sawo matang ada jenjang tak kepalang. Gaji guru sawo matang merangkak-rangkak seperti prajurit di bawah kawat berduri bergelung-gelung mendung. Gaji guru kulit terang seperti angkasa, yang silau dan sentosa. Aduh, butter and cheese alangkah mahal di sini, keluh mereka. Bagaimana kalau mereka belajar makan tumis kangkung, ikan peda, dan sambal belacan dengan terasi ekstra. Bukankah gaji dihabiskan. Bukankah gaji dihabiskan surfing di Selong Belanak dan kuta, lalu coba-coba mini golf just because. Tapi Surely kami harus dibayar handsomely, kata mereka. Kami mengajar English, sementara you-you hanya mengucap enggih dan inggih. Perawatan kulit kami harus extra, sebab tak tertanggung bila mendapat melanoma. Guru-guiu sawo matang belajar memendekkan busana dan meninggalkan kemeja. Guru-guru kulit terang belajar memakai batik dan kadang mengkritik: azan di pagi buta sungguh berisik!1
Dalam serial Breaking Bad, Walter White yang diperankan oleh Bryan Cranston, hadir sebagai guru kimia yang pintar, rasional, dan penuh kontrol. Ia didukung oleh sosok Jesse Pinkman yang diperankan Aaron Paul. Namun, ketokohan Jesse Pinkman justru merupakan antitesis dari Walter White. Jesse Pinkman ditampilkan sebagai pemuda yang impulsif, emosional, dan berantakan. Dengan kata lain, mereka mempunyai sifat yang sangat berlawanan tapi ditempatkan berdampingan.
Penyandingan dua sifat yang saling bertolakbelakang ini bertujuan untuk menonjolkan perbedaan antara dua sosok terus berada dalam dimensi yang sama. Dalam puisi hal ini dapat terbaca sebagai strategi jukstaposisi, di mana dua kutub yang saling berlawanan hadir berbarengan demi menciptakan kontras yang jelas. Teknik jukstaposisi ini terlihat dominan dalam puisi “Jenjang” karya Julia F. Gerhani Arungan. Jukstaposisi mulanya ditampilkan melalui gambaran ekonomi.
/Gaji guru sawo matang merangkak seperti prajurit di bawah kawat berduri bergelung-gelung mendung/ sementara /Gaji kulit terang seperti angkasa yang selalu sentosa/.
Perbedaan gaji yang jomplang menghasilkan kontras antara perjuangan dengan kenyamanan, antara penderitaan dengan kemewahan. Juktaposisi kemudian digunakan sebagai pembenturan budaya dan gaya hidup.
/Aduh, butter and cheese alangkah mahal di sini, keluh mereka/ /Bagaimana kalau mereka belajar makan tumis kangkung, ikan peda, dan sambal belacan dengan terasi ekstra/.
Makanan tidak lagi dimaknai sebagai pemenuh kebutuhan fisiologis tetapi memperlihatkan jarak kelas dan superiotas budaya. Oleh karenanya, budaya superior dapat membedakan diri dari budaya inferior.
Jukstaposisi juga tampil dalam bentuk lain, yakni ketimpangan berbahasa. /Kami mengajar English, sementara you-you hanya mengucap enggih dan inggih/. Bahasa Inggris, sebagai lingua franca dunia, diposisikan sebagai simbol kuasa dan modernitas, sedangkan bahasa lokal dipandang sebaliknya. Ketimpangan tersebut dipertegas oleh kata ‘hanya’ sehingga subordinasi terlihat jelas. Maka, juktaposisi difungsikan untuk menampilkan hierarki bahasa.
Pada bagian akhir, juktaposisi memperlihatkan ironi, /Guru-guru sawo matang belajar memendekkan busana dan meninggalkan kemeja/ /Guru-guru kulit terang belajar memakai batik/. Meskipun tampak seperti proses pertukaran budaya, namun terdapat ketimpangan kuasa. Adaptasi guru lokal tampak sebagai bentuk penyesuaian terhadap standar global, sementara guru asing tetap mempertahankan posisi dominan. Guru asing bahkan mengkritik budaya lokal, /azan di pagi buta sungguh berisik!/, yang memperlihatkan sikap kritis dan superior terhadap lingkungan lokal.
Jukstaposisi, sebagai nafas dalam puisi ini, menghasilkan dua kubu yang berlawanan dengan garis begitu tebal. Guru sawo matang dan guru kulit terang merepresentasikan dua identitas sosial, yakni kelompok lokal yang rentan dan kelompok asing yang dominan. Jenjang tidak hanya diasosikan sebagai penghubung antara atas-bawah tetapi batas ekstrem yang memisahkan tinggi dan rendah.
Julia menghadirkan dua kutub yang saling berlawanan demi melihat dengan terang mana kutub yang timpang. Alhasil, strategi jukstaposisi dapat dicermati sebagai cara pandang dalam melihat persoalan pendidikan, di mana sengkarut dalam dunia pendidikan tidak perlu lagi ditampilkan secara abu-abu karena persoalan demi persoalan sudah berada di wilayah hitam-putih yang dengan jelas menunjukkan timpang-tindih.
1. Julia F. Gerhani Arungan, 2025, Kutu-Kutu Joni, Yogyakarta: Diva Press.
- Kata Ruang: Strategi Mendang-Mending dalam Puisi | Dandri Hendika - 7 Agustus 2026
- RUBRIK KATA RUANG - 4 Agustus 2026





Discussion about this post