• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Juni 27, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Catatan Penutup Tahun 2023: “Perkenalkan Akulah Kebudayaan”

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
31 Desember 2023
in Budaya, Esai
1.1k 72
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Manumpang di Tangah Jalan
Manumpang di tangah jalan/menumpang di tengah jalan/ikut pergi ketika kendaraan sudah dalam perjalanan merupakan sebuah ungkapan/pameo yang secara umum berarti–seseorang atau kelompok mempunyai tabiat mengklaim suatu kerja yang sudah nampak hasilnya. Ketika kerja tersebut sudah nampak benang merahnya menuju ke satu titik (baik/untung), barulah ia mau ikut dalam kerja tersebut.

Tahun 2023 banyak peristiwa yang terjadi di dunia, tidak terkecuali di kebudayaan. Meski masih persoalan-persoalan klasik dan penyakit lama yang terus diobati, kebudayaan mempunyai peran penting dalam perkembangan dunia pada tahun 2023. Sebagian terus saja mengusap-usap masa lalu. Tentu saja dalam catatan ini saya tidak akan mengupas persoalan kebudayaan luar negeri, tapi persoalan negara Indonesia tercinta. Tetati tentu saja saya tak sanggup pula mengupas kebudayaan Indonesia tercinta dengan catatan penutup tahun yang bersifat suka cita dan riang gembira, maka saya persempit Sumatra Barat.

Sumatra Barat dengan individu serta kelompok-kelompok intelektual dan totalitas tanpa batasnya paling tidak sudah mulai berjuang di kebudayaan sejak lama, bahkan sejak Gunung Marapi masih sebesar telur itik. Mulai dari durian di takuak rajo, sampai sikilang aie bangih sampai buayo putiah daguak. Begitulah Sumatra Barat tumbuh, kebudayaan telah mengakar sebagai warisan leluhur, sehingga mengalir dalam urat nadi setiap insan yang dilahirkan di tanah Sumatra Barat. Lebih dari itu, bahkan ia rela bertungkus lumus demi kebudayaan. Hal demikian yang selalu saya kagumi dengan orang-orang di Sumatra Barat, para budayawan muda dan tuanya saling sinergi dari segala sisi. Acara-acara bertemakan kebudayaan, mulai dari budayawan tulen, sampai budayawan dadakan. Tentu saja hal tersebut bagus bagi perkembangan iklim kebudayaan di Sumatra Barat, walau saya kerap mendengar seorang intelektual regional merangkap budayawan eropa berkata, “mana pula bisa kebudayaan dilestarikan”. Waw.

Setelah saya pahami maksud dari kalimat intelektual regional merangkap budayawan eropa itu, ada benarnya juga ternyata. Baginya kebudayaan adalah jati diri yang sudah ada sejak lahir, ia akan terus mengakar dan mengalir sampai kapanpun. Kebudayaan itu telah melekat dan tak bisa digugat atau dilestarikan. Selagi masih ada manusia, maka kebudayaan tersebut masih terus tumbuh dan berkembang. Namun, objek yang menjadi kebudayaan itulah yang patut dilestarikan; sesuatu yang berbentuk benda. Entahlah, segalanya nampak rumit kalau dijelaskan. Sebagaimana orang-orang memandang kebudayaan sebatas seni-senian.

“Siapa yang menyuruhmu bergerak di kebudayaan, siapa yang memaksamu meneruskan kerja kebudayaan?”
Pertanyaan bodoh ini bahkan tak sanggup dijawab oleh pakar kebudayaan segala bisa dalam banyak forum bertemakan pelestarian kebudayaan. Nyaris disepanjang tahun 2023 saya menemukan tema acara yang sama; pemetaan, pelestarian, sumber daya, penguatan, objek kebudayaan dan lainnya. Tapi ini 2023, kawan. Segala melesat cepat dan siapa saja boleh ambil bagian menjadi pengurus kebudayaan, bahkan menjadi kurator kebudayaan. Disisi lain, para pegiat kebudayaan yang sejak lama bertungkus lumus menggalas kebudayaan ke sana kemari hidup terseok-seok penuh drama dalam banyak pertemuan-pertemuan bahwa dialah yang paling penggerak, si paling aktif dan si paling pelestari. Paling tidak di kampungnya, kita iya kan saja. Tapi kembali kepertanyaan sebelumnya tadi, “Siapa yang menyuruhmu bergerak di kebudayaan, siapa yang memaksamu meneruskan kerja kebudayaan?” Jika kau bukan dari instansi atau lembaga pemerintahan yang mengurus kebudayaan, tidak usah bersedih. Yang boleh bersedih dan berdrama-drama hanya mereka, sebab mereka secara resmi diletakkan di sana sebagai pemegang kebijakan, bergaji dan dilantik sebagai pegawai pemerintah. Nah, hanya mereka yang pantas bersedih dan berdrama-drama soal kebudayaan. Merekalah yang pantas bicara sudah bertungkus lumus mengurus kebudayaan yang letaknya hanya sampai, “besok kita infokan lagi kelanjutannya.”

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra - 26 Juni 2026
  • Cakap Film – KARA: Karakteristik Film Tamil dan Isu Terdekat Mereka - 2 Juni 2026
  • The Bluff: Priyanka Chopra dan Peran Keterasingannya dalam Cerita, Dendam dan Pembalasan Masa Lalu - 27 Maret 2026
Page 1 of 2
12Next
Tags: Berita seni dan budayaBudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

Oleh Redaksi Marewai
14 Mei 2026

Medan, 10 Mei 2026 - Kumpul IV menandai keberlanjutan sebuah ruang yang diinisiasi oleh GUA lokal, yang dalam beberapa...

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
25 April 2026

Tidak ada hukum wajib atau teori khusus yang mengharuskan sebuah komunitas teater memiliki penulis naskah tetap. Keberadaannya bukanlah sekadar...

Next Post
Cerpen Depri Ajopan | Akan Aku Lawan

Cerpen Depri Ajopan | Akan Aku Lawan

Echo Flow Rilis “Di Balik Tirai” untuk Soundtrack Film Pendek SIA? Produksi Marewai N’Co

Echo Flow Rilis "Di Balik Tirai" untuk Soundtrack Film Pendek SIA? Produksi Marewai N'Co

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In