• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Juni 20, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Budaya: Senjakala Tradisi Cowongan | Chubbi Syauqi

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
2 Agustus 2021
in Budaya
1.4k 88
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Perkembangan sains dan teknologi sebagai keniscayaan dalam globalisasi membuat rasionalitas masyarakat terhadap tradisi semakin menipis. Lambat laun tapi pasti, tradisi ini tak kunjung ada. Sains memang begitu ampuh menjelaskan berbagai fenomena alam, seperti gempa, hujan, tsunami bahkan gerhana matahari. Munculnya sains disambut suka cita oleh masyarakat. Peristiwa alam yang dahulu disangkut pautkan dengan mitos-mitos  seperti dewi sri atau bidadari mandi sebagai penjelas fenomena alam. Kini hanya menjadi bahan tertawaan. Maka tak ayal, ritual adat meminta hujan pun hanya sekadar menjadi pertunjukan dan tontonan. Segala hal yang menyangkut tentang mitos, kata Irfan Afifi  dalam artikelnya “Saat sains menjadi rujukan, kita kehilangan cerita” (2016) mitos merupakan cara simbolis yang lentur dalam menafsirkan peristiwa alam, supaya memberi ruang misteri dan kegentaran Pada-Nya (tremendum et fascinosum).

Misteri dalam mitos kemudian akan melahirkan sebuah pengakuan kepayahan bahwa kita kecil, diantara belantara benda kosmis dalam bayang. Mitos memberikan sense of religion pada fenomena alam sebagai peristiwa sakral. Ia, mitos, mengajari cerita: imajinasi, sedangkan sains, mengajarkan fakta. Dan kita tahu, peristiwa turunnya hujan hanya membuahkan sumpah serapah dan jualan jas hujan. Dalam benak saya bertanya, lebih baik mana mitos dengan sains? Apakah sains mampu melahirkan rasa tadabur kepada alam, dan ]tawadhu kepada yang kuasa?. Saya tak tahu akan hal itu, tetapi yang jelas, kita sudah kehilangan “cerita” juga imajinasi.


Bak matahari di penghujung senja, kearifan lokal berupa tradisi merupakan entitas budaya Jawa. Ia menjadi semacam cahaya yanng memberi arah untuk gerak, memberi terang untuk hidup. Bila melihat konteks zaman sekarang, eksistensi kearifan lokal tradisi cowongan dalam senjakala, cahayanya temaram. Kendati demikian, bukan berarti ia telah usai. Sebagaimana meminjam pendapat Suyanto dan Gunawan (2005, hal. 207) bahwa, sinkretisme Jawa berhasil mempertahankan kebudayaan hingga paruh waktu kerajaan Mataram, hadirnya ide Barat (modernitas) tidak menghilangkan nilai.  Pada titik ini perlu saya tegaskan; tidak hilang melainkan terselimuti oleh kegelapan. Manifestasi kegelapan itu berupa modernitas dan pendidikan formal. Koentjroningrat dalam Kebudayaan Jawa (1994) telah menyadari kegelapan dalam diri orang Jawa.

Pertama, akibat modernitas, orang Jawa mendapat keraguan antara nilai tradisional yang ada dalam budaya,  lalu lamat-lamat hilang. Kedua, Sebagaimana pendapat Kismoyo (2018) yang menganggap pendidikan formal merupakan instrumen mendekonstruksi kejawaan (kebudayaan) manusia saat ini. Sejalan dengan Irfan Afifi (2019) pendidikan formal sebagai produk sains (ilmu pengetahuan) yang berimbas terhadap bergesernya pandangan hidup dari aspek batiniah ke aspek rasional. Kedua faktor yang telah dijelaskan merupakan ritme perubahan kesadaran dan eksistensi dari segala bentuk kebudayaan Jawa tak terkecuali kearifan lokal.

DAFTAR PUSTAKA


Afifi Irfan. 2016. Saat sains menjadi rujukan, kita kehilangan cerita. Dalam borneonews.co.id. 9 Maret 2016. Palangkaraya.

Afifi Irfan. 2019. Saya, Jawa, dan Islam. Yogyakarta: Buku Langgar.

Nancy K.Florida. 2020. Jawa-Islam di Masa Kolonial. Yogyakarta: Buku Langgar.

Koentjoroningrat. 1994. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

Suyanto, I., & Gunawan. 2005. Paham Kekuasaan Jawa: Pandangan Elite Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Antropologi Indonesia, 29, 207-218.

Edi, Titut. (2021, Januari 31). Residensi Penulis Panginyongan. (Chubbi Syauqi, Pewawancara).

Biografi Penulis

Chubbi Syauqi lahir di Banyumas, 1 Maret 2000. Dia tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Tarbiyah, Prodi Manajemen Pendidikan Islam IAIN Purwokerto. Dia tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan (HMJ MPI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Purwokerto komisariat Agussalim IAIN PURWOKERTO. Facebook: syauqi chubbi. Ig:syauqichubbi..

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera - 14 Juni 2026
  • GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV - 14 Mei 2026
  • Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata - 25 April 2026
Page 2 of 2
Prev12
Tags: BudayaCerpenPelesiranpuisiSastra

Related Posts

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

Oleh Redaksi Marewai
14 Mei 2026

Medan, 10 Mei 2026 - Kumpul IV menandai keberlanjutan sebuah ruang yang diinisiasi oleh GUA lokal, yang dalam beberapa...

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
25 April 2026

Tidak ada hukum wajib atau teori khusus yang mengharuskan sebuah komunitas teater memiliki penulis naskah tetap. Keberadaannya bukanlah sekadar...

Kesuksesan Totalitas Aktor Ku-Liek pada Festival Nan Jombang Tgl3, Menggantung Hak Intelektual Penonton dalam Dekonstruksi Nilonali | Irawan Winata

Kesuksesan Totalitas Aktor Ku-Liek pada Festival Nan Jombang Tgl3, Menggantung Hak Intelektual Penonton dalam Dekonstruksi Nilonali | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
6 April 2026

Nan Jombang Dance Company selalu memberikan kesejukan bagi jiwa seniman, menyediakan ruang agar mereka dapat terus tumbuh dan berkembang...

Next Post
Puisi-puisi Imam Khoironi | Membicarakan Rindu di Pantai Cermin

Puisi-puisi Imam Khoironi | Membicarakan Rindu di Pantai Cermin

Cerpen Khoirul Abidin | Buku dan Boneka Pikachu

Cerpen Khoirul Abidin | Buku dan Boneka Pikachu

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In