• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Senin, Agustus 3, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Iswadi Bahardur | Abad Robek

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
10 Oktober 2020
in Sastra
2.4k 125
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Anggun Nan Tungga Sejarahmu Adalah Laut

Bukankah bundo telah beranak

janji keramat air kelapa gading

“takdir mencatat negeri perempuan dalam ranji.

lelaki, jika tak untung, relakan saja sebilah tulang rusukmu

berkirap ke ujung langit”

demikian kaba Bundo telah berdendang

Anggun, tambo telah mencatat silsilah,

ibumu laut, bapakmu ombak

maka padamu laki-laki tak berumah di rumah gadang

pergilah membawa untung

“ka rantau madang dahulu babuah babungo balun

ka rantau bujang dahulu, di kampuang baguno balun”

Anggun, lelakiku dari laut

kulepas engkau berlayar bersama Kinantan

sandarkan perahumu ke dermaga

jika hari telah petang

Anggun Nan Tungga, cukupkan sekali

tertulis dalam kaba Puti Bungsu kirap ke langit

walau tak tercatat pada peta rahimku,

wanita adalah ibu seribu lelaki

rindu pada air susu

pulanglah, jika laut telah memberimu asin

Ke Kampung Tarusan, Meninggalkan Kenangan

Ke kampung Tarusan

membawa ingatan tanah kelahiran

deru oto mengabarkan nafas bapak di ujung kepulangan

Ke kampung Tarusan kutinggalkan Padang

kutinggalkan segala kenang segala luka

pohon-pohon menjulang sepanjang bukit

menguar bacin karet menguar pahit masa silam Bapak

Pukul empat petang, lindap cahaya

menyusupkan nelangsa kebalik pohon maja

jalan berliku mengabarkan perjalanan bersambut sampai

di batas kedatangan kampung Tarusan

menjejak di tanah lembab

mendadak deru mesin oto menjelma

teriakanmu melontarkan umpatan perpisahan kita

Abad Robek

Aku tengah duduk di ruang kerja

menjahit abad yang robek. Istriku

membawa rengut dari dapur. Ia lupa

cara memasak rendang Padang.

pukul 12 siang matahari tegak lurus di kepalanya

dibibir istriku kerbau mengoak mengabarkan dentang bansi-bansi

di ruang keluarga anak gadisku menonton iklan

cara membesarkan payudara

Ini abad yang robek

kain songket telah habis terjual tiga puluh tahun lalu

jarum jahitku menua mencari perca penyambung lobang di lambung abad

kerampangku berangin angin

selepas celana berganti piyama

istriku bergegas ke ruang dapur

Uda, hari ini kau makan dengan selada saja

susuku mengkal dipuput iklan dari kota

arang di tungku telah melarikan diri bersama asap melimbubu

kenangannya bergantung mesra di museum maya

ini abad yang robek

bayiku meraung dalam ayunan

matanya mengepak-ngepak pedang negeri sakura

Tidurlah, Nak, besok ayah batal terbang

Tuhan sedang bermain biola

suaranya menggelegar 7, 9 skala richter

Retak Tanah Ibu

telah retak tanah ibu; silsilah bernama matrilini

gelanggang dan medan menangis kehilangan rentak

rangkiang menuatak kunjung bersua bulir padi

bajak lapuk bersandar di pematang sawah

petani menyudahi kisah musim bertanam

langit cewang berkawan awan hitam

telah retak tanah ibu

surau-surau tanpa jejak subuh

gadis perawan betah berumah di taman kota

di seberang laut para lelaki lupa membangkit jenjang rumah tarandam

telah retak tanah ibu; silsilah bernama matrilini

ampas tambo terpajang di museum bernama postkolonial

tidakkah kalian rindu megah silsilah?

bacalah, sebelum Kau turut abadi di museum itu

Ratap Puan

demikianlah awal,

puan kematian laki

lukanya mengabar perih hingga rimba mambang

dalam dendang dia kisahkan. ratapberkubur di suwung saluang

mengirim duka ke kampung-kampung

puan membujur saluang panjang

sayup di langkan rumah gadang

menyusup jauh kejantung kota

dipajang pada etalase gedung pertunjukkan menjual sacral sejarah lama

 

puan itu situkang dendang

ratap rando ditinggal laki.

dialun dendang saluang panjang

pelerai riwayat perantau sepi

demikianlah kesudahan

dendang usai nasib tak sudah

ke ujung langit puan bertanya

bagaimana sejarah tumbuhnya kul disebelum dipetik Adam?


PENULIS

Iswadi Bahardur, lahir dan menetap di kota Padang. Selain berkiprah sebagai pekerja seni tulis, ia juga tercatat sebagai mahasiswa program doktor (S-3) Universitas Sebelas Maret dan dosen tetap STKIP PGRI Sumatera Barat. Puisi dan prosanya terhimpun dalam berbagai antologi bersama serta buku tunggal. Novel dan puisi digitalnya dapat ditemukan dalam platform  Storial.co dan Novelme. Beberapa puisi pendek dan ulasan bukunya dapat dibaca di instagram: @adhi-trusardi serta facebook: Iswadi Bahardur Adhi. Ia juga dapat ditemui di blog pribadi puitikakata.blogspot.com. kontak personal dapat dilakukan via email [email protected].

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
  • Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata - 10 Juli 2026

Related Posts

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Oleh Redaksi Marewai
11 Juli 2026

Pulang Kampung             Haris keluar dari bus angkutan antar kota. Langkahnya pelan menghentak seakan menumpahkan kekesalan di hatinya. Bagaimana...

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Oleh Redaksi Marewai
26 Juni 2026

KEPADA SHEI Aku senang membayangkan hal-hal yang indah. Kubayangkan matamu menjadi rumah paling megah: tempat di mana lelah perlahan...

Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen | Venari In Gehenna (2026)

Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen | Venari In Gehenna (2026)

Oleh Redaksi Marewai
18 April 2026

Venari In Gehenna (2026)             — Michelle Petrelll Aku memandangi lukisan anomali persis melihat api melawan gravitasi : alkisah...

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Next Post
foto-marewai

Lewat Musikal Video Art, Bundo Kanduang Garap Tribute Untuk H. Agus Salim

maewai-ilustrasi

Cerpen: Syair Pengantar Tidur yang Diciptakan Mamak | M.Z. Billal

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In