• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Juni 27, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Tradisi Maucok: Pergesaran Tradisi dan Adat Dalam Proses Pelaksanaan

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
22 September 2021
in Budaya, Esai
1.7k 17
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Indonesia memiliki budaya yang beragam. Tiap-tiap daerah mempunyai langgamnya masing-masing, meski di beberapa daerah memiliki budaya yang sama, namun pada prosesinya tetap berbeda. Sama halnya dengan budaya, masyarakat di Indonesia juga memiliki tradisi dan adat yang berbeda-beda di setiap daerah.

Makna terdalam dari sebuah tradisi dan ritual juga penting untuk digali sebagai upaya menafsirkan simbol-simbol yang ada dari kedua hal itu. Secara mendalam, tradisi dan ritual menjadi sesuatu yang berhubungan dengan simbol-simbol yang berada di hadapan manusia sekaligus dilakukan secara sadar dan turun-temurun, khususnya di Minangkabau seperti tradisi dan ritual pernikahan (manakok hari, maantaan siriah, manjapuik marapulai, dan seterusnya). Hingga tradisi dan ritual kematian, seperti manigo hari, manujuah hari, manyaratuih hari, dan seterusnya.

Terkait dengan tradisi di Minangkabau, di Pesisir Selatan tepatnya di Kecamatan Sutera Kabupaten Pesisir Selatan terdapat tradisi maucok baralek (manyiriah) bagi masyarakat. Dalam tradisi itu, terdapat komponen pragmatik, yakni tindak tutur. Tindak tutur merupakan pertuturan atau speechact, speechevent, yakni pengujaran kalimat untuk menyatakan sesuatu maksud agar suatu maksud dari pembicara itu diketahui pendengar. Tindak tutur merupakan suatu tuturan atau ucapan dari seseorang kepada lawan bicara yang saling berinteraksi antar sesama dan hasil dari suatu kalimat dalam kondisi tertentu serta merupakan satuan terkecil dari komunikasi bahasa.

Tindak tutur terbagi atas tiga bagian, tindak tutur kemudian dikembangkan menjadi lima jenis, di antaranya; 1. Representatif (asertif), jenis asertif ini meliputi bagian menyatakan, melaporkan, memberitahukan, menjelaskan, mempertahankan dan menolak.

2. Direktif, jenis direktif meliputi bagian meminta, mengajak, memaksa, menyarankan, mendesak, menyuruh, menagih, memerintah, memohon, menantang dan bertanya.

3. Ekspresif, jenis ekspresif meliputi bagian mengucapkan terima kasih, mengeluh, mengucapkan selamat, menyanjung, memuji, menyalahkan dan mengkritik.

4. Komisif, jenis komisif meliputi bagian bersumpah, berjanji, mengancam, dan menyatakan kesanggupan.

5. Deklarasi, jenis deklarasi meliputi bagian mengesankan, memutuskan, membatalkan, melarang, mengabulkan, mengizinkan, menggolongkan, mengangkat, mengampuni, serta memaafkan.

Referensi: Jurnal, Tindak Tutur Dalam Tradisi Maucok Baralek (manyiriah) di kecamatan Bayang, Kab. Pesisir Selatan. https://ejurnal.bunghatta.ac.id/index.php/JFKIP/article/view/17552

Meski begitu, tradisi maucok di Pesisir Selatan, terutama kecamatan Sutera, tidak lagi melulu menggunakan siriah/manyiriah. Pergesaran alat bantu atau alat ucok tersebut berganti dengan rokok. Menurut amatan penulis, terjadinya pergesaran itu dilatarbelakangi oleh keadaan lingkungan dan perubahan zaman. Masyarakat mulai mengganti hal-hal yang pada dasarnya tidak wajib dan mutlak dalam adat dengan sesuatu yang lebih praktis. Seperti yang terjadi dalam proses tradisi maucok. Pada adatnya, tradisi maucok menggunakan sirih; si pelaku (maucok) akan menawarkan sirih kepada lawan bicaranya (yang diucok) sebagai tanda/simbol bahwa ia mengundang dan yang diucok mengiyakan dengan mengambil siriah (manyiriah).

Alasan lain pergantian siriah ke rokok tersebut ialah, masyarakat sekarang tidak lagi terbiasa atau katakanlah tidak suka manyiriah (mengunyah siriah dengan kapur). Perubahan zaman dan pergesaran tersebut membuat masyarakat mensiasatinya dengan rokok. Karena pada umumnya masyarakat di daerah tersebut mengkonsumsi rokok. Maucok yang dimaksud di sini adalah maucok kaum lelaki. Pergesaran tradisi maucok ini bukan terjadi di daerah Pesisir Selatan saja. Beberapa wilayah di Padang juga mengalami pergesaran tradisi maucok ini, yaitu menggunakan permen dan rokok.

Dalam pelaksanaan tradisi dan adat, bukan hanya maucok saja yang mengalami pergesaran. Ada lagi pada pelaksanaan mancaliak baralek (melihat pesta). Tradisi awalnya, tamu yang datang mendapatkan buah tangan berupa salamak yang terbuat dari beras ketan, ditambah dengan pangek/luwo (pangek dibuat dari pisang, luwo adalah parutan kelapa yang diolah dengan gula aren).

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dalam proses pelaksanaan tradisi maucok di atas. Karena inti dari tradisi dan adat maucok tetap terlaksanakan, yaitu mengundang/mengabarkan/mengajak dan menyampaikan bahwa adanya alek baik. Atau ”maucok” mengundang orang kampung apabila ada warga yang hendak menikah, menyeraya (bergotong royong) ke sawah, membangun rumah, batagak pangulu, atau memperbaiki surau.

Tapi tidak dipungkiri pula bahwa pegeseran tradisi dan adat itu akan semakin mengantarkan generasi selanjutnya kepada pelaksanaan dan prosesi adat dengan cara-cara praktis. Sehingga aturan-aturan yang sifatnya turun-temurun semakin lenyap. Terlebih dalam persoalan adat dan tradisi. Hal ini patut dipertimbangkan juga untuk kelangsungan adat dan tradisi itu sendiri. Walau hakikatnya adat dan tradisi takkan pernah hilang. Namun prosesi pangkalnya bisa saja tersingkirkan oleh pergesaran tersebut karena terus dipakai dan dibudayakan. Sehingga menjadi sebuah kebiasaan yang turun-temurun pula dikemudian hari.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra - 26 Juni 2026
  • Cakap Film – KARA: Karakteristik Film Tamil dan Isu Terdekat Mereka - 2 Juni 2026
  • The Bluff: Priyanka Chopra dan Peran Keterasingannya dalam Cerita, Dendam dan Pembalasan Masa Lalu - 27 Maret 2026
Tags: BudayaEsaiMinangkabauPelesiranTradisi

Related Posts

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

GUA Lokal: Perkuat Ekosistem Seni Visual Sumatera melalui Kumpul IV

Oleh Redaksi Marewai
14 Mei 2026

Medan, 10 Mei 2026 - Kumpul IV menandai keberlanjutan sebuah ruang yang diinisiasi oleh GUA lokal, yang dalam beberapa...

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata

Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
25 April 2026

Tidak ada hukum wajib atau teori khusus yang mengharuskan sebuah komunitas teater memiliki penulis naskah tetap. Keberadaannya bukanlah sekadar...

Next Post
Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe | Tiga Perempuan dalam Sajak Lugu

Puisi-puisi Muhammad Asqalani eNeSTe | Tiga Perempuan dalam Sajak Lugu

Carpen Kisah Ateis Yang Tak Ingin Terbang | Ferry Fansuri

Carpen Kisah Ateis Yang Tak Ingin Terbang | Ferry Fansuri

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In