• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Budaya: Senjakala Tradisi Cowongan | Chubbi Syauqi

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
2 Agustus 2021
in Budaya
1.4k 88
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Hujan yang turun ke bumi menjadi fenomena yang dielu-elukan oleh para petani padi, karena padi membutuhkan air yang berlimpah agar dapat tumbuh dengan bahagia. Namun, banyak pula yang membenci bahkan mencela hujan, bila ia berdendang, payung-payung siap menghadang. Di Kabupaten Banyumas, jika hujan tak kunjung turun para petani biasanya akan mengadakan ritual untuk mendatangkan hujan yakni, cowongan. Tradisi cowongan merupakan ritual utama bagi masyarakat Banyumas untuk mendatangkan hujan dengan sarana peralatan berupa siwur (gayung) atau irus (centong sayur) yang dirias menjadi boneka berwujud putri nan cantik. Tradisi cowongan digawangi oleh seorang dukun dan juga didampingi oleh para wanita. Para wanita ini haruslah wanita yang suci (baca: tidak haid,  tidak nifas, dan tidak melakukan hubungan seksual). Selain itu, para perempuan juga mengiringi cowongan dengan tembang-tembang jawa. Dalam ritual tersebut, masyarakat melantunkan mantra dan tembang-tembang Jawa sebagai ungkapan doa kepada Ilahi, sehingga terjadi komunikasi dan negosiasi dengan entitas spiritual dalam doa, sedangkan materialitisnya sebagai permohonan berupa sesajen. Dalam masyarakat luas, sesajen kerap dipahami sebagai simbol relasi hierarkis dua subjek yang berbeda.

Dalam sesajen, dukun akan membakar kemenyan dan dupa sebagai piranti dalam memanjatkan doa. Hal ini dalam worldview Islam merupakan cara untuk menghimpun chemistry kepada sang Ilahi dengan aroma harum. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i bahwa Muhammad Sang Kekasih menyenangi wewangian. Aroma wangi bisa memberikan ketenangan orang yang berdzikir, shalat, dan ibadah lainnya. Para malaikat pun senang kepada bau wangi, sehingga rahmat Allah akan turun kepada orang yang memakai wangi-wangian. Selain kepada tuhan, masyarakat juga memanjatkan doa kepada Dewi Sri sebagai ingkang mbaurekso ladang sawah dan penurun hujan. Keyakinan seperti ini pada dasarnya merupakan ekspresi penghormatan masyarakat Jawa kepada makhluk Ilahi bukan manusia (malaikat). Biasanya makhluk tersebut disimbolkan dengan Dewa, Dewi, Nyai, dan Kyai yang dipercaya sebagai makhluk utusan Ilahi untuk menguatkan dan menumbuhkan tumbuhan.

Kepercayaan ini lantas tidak bisa kita maknai sebagai wujud kepercayaan yang mutlak terhadap selain tuhan Yang Maha Esa. Namun, sebagaimana yang disebutkan tadi, hal itu hanya pencandraan atau simbolisasi atas bentuk keyakinan kepada Tuhan. Jadi, dapat kita simpulkan bahwa, dibalik keyakinan akan Allah yang bersifat transenden, ternyata mereka juga meyakini adanya sosok berupa Dewi Sri yang berasal dari Allah. Mitos mengenai Dewi Sri merupakan manifestasi (tajalli) kerinduan kepada Allah yang bersifat imanen. Hal ini pun tak bertentangan dengan ajaran Islam, karena menurut Islam, orang beriman salah satu indikatornya adalah percaya kepada sesuatu yang ghaib (Alladziina yu’minuna bil ghoib). Lelaku syirik kerap kali disematkan pada para pemain ritual cowongan di daerah Banyumas. Beberapa kali saya mendengar omongan yang kurang mengenakan dari penduduk setempat. Namun, sebagaimana penuturan dari Titut Edi Purwanto (Seniman Banyumas), tradisi cowongan merupakan upaya memanjatkan doa kepada Ilahi agar turun hujan (2021). Asumsi miring akan mereka yang menjalankan ibadah (baca: lelaku) yang bernuansa sinkretik agaknya telah terukir dalam benak mayoritas kita. Apa-apa yang berkaitan dengan ritual leluhur seolah-olah vis a vis dengan ajaran Islam. Dari pandangan itu kemudian kita akan menge-cap adanya identitas kaum Islam abangan (kejawen) dan Islam putihan (santri). Kondisi ini dapat kita telisik kebelakang akan perjalanan kaum abangan di tengah arus globalisasi dan moderenisasi. Nancy K. Florida, dalam bukunya yang berjudul “ Jawa-Islam di Masa Kolonial” (Nancy, 2020), menyebutkan bahwa pembelahan identitas Islam berupa abangan dan putih merupakan politik yang dilancarkan kolonial Belanda sebagai bentuk penyangkalan penyatuan Islam dan Jawa. Politik ini dilatarbelakangi oleh adanya Perang Diponegoro (Perang Jawa) 1825-1830 yang didukung oleh berbagai kalangan masyarakat di Jawa. Berimbas terhadap tewasnya 200.000 orang Jawa dan 15.000 pasukan Belanda. Perlawanan sengit itu membuat Belanda trauma, hingga menelan kerugian besar. Sikap heroik dalam perlawanan Perang Diponegoro (Perang Jawa) datang dari identitas pemersatu orang Jawa berupa Islam.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Page 1 of 2
12Next
Tags: BudayaCerpenPelesiranpuisiSastra

Related Posts

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

Next Post
Puisi-puisi Imam Khoironi | Membicarakan Rindu di Pantai Cermin

Puisi-puisi Imam Khoironi | Membicarakan Rindu di Pantai Cermin

Cerpen Khoirul Abidin | Buku dan Boneka Pikachu

Cerpen Khoirul Abidin | Buku dan Boneka Pikachu

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In