• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Senin, Agustus 3, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Tradisi Badampiang: Momen Sakral Mengantar Mempelai Pria, Sutera, Pesisir Selatan

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
17 Juni 2021
in Budaya
2.7k 55
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Di halaman rumah, karib kerabat tampak telah siap mengantar marapulai pergi nikah. Jumlahnya banyak, misalnya teman sebaya, para sumando-sumandan, kaum ibu dan lainlain. Selangkah turun dari jenjang, salah seorang tetua (biasanya dari kaum ibu), mulai menyanyikan lagu dampiang. Tukang nyanyi itu mengambil tempat di posisi yang mudah didengar para pengantar marapulai.

Nyanyian yang disampaikan berisi tentang kegundahan hati ibu melepas anak laki laki berumah tangga, biasanya momen ini sangat melankolis sekali; sedih dan gembira bercampur aduk. Soalnya dari kecil hingga tumbuh dewasa ia dibesarkan dan dirawat, kini harus berpisah.

Kinantan nan panaiak kini ka pai, janjang nan indak ka baluluak lai.
Isi nyanyian itu juga mewakili kegundahan hati kawankawan sebaya, kerisauan hati dunsanak yang sejak kecil berada di sekitarnya. Anak yang dulu belia, tanggung jawab mamak dan kedua orang tua kini benar-benar berangkat, mengemban tanggung jawab yang sebenarnya seumur hidup, ibadah paling panjang manusia akhirnya ia bawa.

Sumber Foto: Wikipedia

Lagu badampaing dinyanyikan dengan irama yang khas. Mendayu dayu, meratap dan menyayat hulu hati.  Tak heran bila ibu kandung, kakak-adik si marapulai menangis berurai air mata mengenang kepergian anak itu. Ibu ibu lainnya biasanya akan berupaya menghibur hati sang ibu. Tentu bukanlah tangis kemalangan, melainkan tangis haru. Kawankawan sepermainan mengenang masa-masa bersama, bermain sedari kecil hingga remaja tak sanggup menahan haru momen tersebut. Tradisi ini sangat sakral.

Lalu rombongan mulai berjalan menuju rumah anak daro (bila jaraknya bisa ditempuh dengan berjalan kaki), di sepanjang jalan nyanyian dampiang itu juga tidak berhenti, bermacam-macam nada dan irama dilantunkan oleh pengantar mempelai pria. Sebagian bersorak “ayo dampiang”.

Sesampainya di halaman rumah anak daro, isi dan tema nyanyian dampiang tidak lagi seperti turun dari rumah mempelai pria dan di perjalanan tadi. Di sana tukang dampiang menyampaikan pesan dan nasihat kepada marapulai.

Pandai pandailah membawakan diri di rumah orang, berbicaralah merendah, usah berlaku sombong ditengah keluarga baru, sopan dan santun kepada dunsanak bini. Selain kepada marapulai, juga terdapat pesan untuk keluarga anak daro, bila anak ini salah tolong juga diajari.

Demikianlah tradisi badampiang yang ada di Kecamatan Sutera, Kab. Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Barangkali ditempat lain tradisi ini juga ada, dengan cara yang berbeda atau sama pula. Tradisi ini akan dilaksanakan secara lengkap; dari turun rumah sampai ke rumah anak daro (bila jarak rumah anak daro itu dekat). Namun jika jaraknya jauh, biasanya ada bagian-bagian dari tradisi badampiang itu terpotong. Misalnya seperti nyanyian selama di perjalanan, karena rombongan pengantar marapulai kemungkinan membawa kendaraan sendiri.

Meski begitu, tradisi akan tetap hidup di kalangan masyarakat tradisional, masyarakat yang memegang erat adat dan tradisi nenek moyang secara turun temurun. Bagi mereka akan janggal bila proses tersebut dihilangkan, momen sakral dari proses pernikahan dari awal sampai akhir terkesan hambar, ada yang tak lengkap rasanya. Tapi tentu saja tradisi tersebut dilaksanakan atau tidak dipakai sudah melalui kesepakatan keluarga. Tradisi ini akan selalu hidup, meski di kalangan tertentu saja.

Untuk saat ini, tradisi Badampiang tidak sepopuler dulu lagi, pergeseran zaman yang kelewat maju ini membuat banyak prosesi-prosesi adat dan tradisi tertinggal, dengan alasan menghemat waktu atau tidak mau ribet. Basalemak pakau!

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra - 26 Juni 2026
  • Cakap Film – KARA: Karakteristik Film Tamil dan Isu Terdekat Mereka - 2 Juni 2026
  • The Bluff: Priyanka Chopra dan Peran Keterasingannya dalam Cerita, Dendam dan Pembalasan Masa Lalu - 27 Maret 2026
Page 2 of 2
Prev12
Tags: BudayaCerpenPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

Next Post
Puisi-puisi Diego Alpadani | Si Gadih Itu Lulu

Puisi-puisi Diego Alpadani | Si Gadih Itu Lulu

Cerpen Romi Afriadi | Sudahkah Kau Menghapus Nomor Teleponku Dari Teleponmu?

Cerpen Romi Afriadi | Sudahkah Kau Menghapus Nomor Teleponku Dari Teleponmu?

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In