• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

SOSIOLOGI SASTRA MASYARAKAT PADA NOVEL KEMARAU KARYA A.A NAVIS – Sabina Yonandar

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
5 November 2025
in Opini
996 41
0
Home Budaya Opini
BagikanBagikanBagikanBagikan

Di tengah teriknya panas kemarau yang merajai lanskap fiksi dalam novel Kemarau karya A.A. Navis, tersembunyi sebuah kisah yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kekeringan fisik. Novel ini adalah medan pertempuran nilai dan sikap sosial yang dirangkum dalam karakter-karakter yang hidup dan interaksi mereka, terutama melalui sosok utama, Sutan Duano. Dalam kajian sosiologi sastra, tokoh ini menjadi penanda kunci dalam mengamati perubahan sosial yang berlangsung di masyarakat Minangkabau, baik dari segi norma, sikap, maupun pola pikir masyarakat yang banyak dipenuhi dengan kontradiksi.

Sutan Duano bukan sekadar tokoh protagonis dengan wibawa dan keberanian, tetapi juga mewakili gagasan besar tentang kerja keras dan kesadaran sosial sebagai jawaban atas krisis kemarau yang dialami. Dalam novel ini, Navis dengan cermat melukiskan bagaimana keteguhan hati Sutan Duano berhadapan dengan masyarakat yang cenderung pasrah dan bergantung pada doa serta kepercayaan lama yang mengakar kuat. Hal ini bukan sekadar mempertentangkan dua sikap, melainkan menampilkan gesekan budaya yang memicu dialog sosial penting terkait penerimaan inovasi dan perubahan dalam menghadapi masalah bersama.

Kisah tersebut menyajikan gambaran masyarakat yang awalnya menolak gagasan Sutan Duano untuk mengalirkan air ke sawah di saat musim kemarau. Penolakan ini mencerminkan kaku dan konservatifnya pandangan masyarakat terhadap perubahan, sekaligus menunjukkan bagaimana nilai-nilai tradisional berperan dalam membentuk sikap sosial. Mereka percaya bahwa bencana alam seperti kemarau adalah takdir yang harus diterima, sehingga usaha keras dianggap kurang relevan jika dibandingkan dengan ritual dan doa. Sikap ini, dalam perspektif sosiologi sastra, mengindikasikan fenomena sosial di mana struktur nilai lama berpotensi menghambat perubahan yang diperlukan demi keberlangsungan bersama.

Namun, yang menarik adalah bagaimana Navis menulis proses perubahan tersebut. Tidak ada paksaan yang dilancarkan, melainkan bukti nyata dari keberhasilan usaha Sutan Duano yang akhirnya meluluhkan keraguan masyarakat. Proses ini menegaskan adanya dinamika sosial yang wajar, di mana penerimaan atas ide baru memerlukan waktu, bukti, dan dialog. Ini sekaligus memperlihatkan bagaimana karya sastra dapat menjadi medium refleksi sosial, yang menghubungkan realitas internal cerita dengan fenomena sosial nyata di masyarakat pembacanya.

Dalam penggambaran tokoh Sutan Duano, Navis memberi penekanan besar pada kualitas moral dan kultural yang melekat pada karakter ini. Tokoh ini digambarkan sebagai pribadi yang matang, penuh kesabaran, dan memiliki keteguhan hati yang kuat. Wajah dan fisiknya yang keras, seperti kulit yang hitam oleh sengatan matahari, bukan saja melukiskan realita kehidupan petani yang keras berjuang, namun juga simbol ketangguhan mental dan spiritual yang menjadi cerminan sikap produktif dan bertanggung jawab dalam masyarakat. Sutan Duano mewujudkan jiwa seorang pemimpin sekaligus pendidik sosial yang mendorong masyarakat untuk lebih terbuka terhadap perubahan demi kebaikan bersama.

Novel ini juga secara halus mengkritik sikap masyarakat yang hanya berpegang pada ritualisme tanpa diimbangi usaha. Navis menegaskan bahwa iman yang sejati adalah iman yang bukan hanya pasif, melainkan aktif mewujudkan usaha nyata sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan spiritual. Sikap pasif yang diperlihatkan masyarakat dalam novel menggambarkan sebuah kemarau spiritual, di mana kepercayaan tidak dilaksanakan secara produktif dan berdaya guna. Pesan ini sangat relevan untuk konteks sosial mana pun, karena menyodorkan ajaran bahwa perubahan harus berakar pada kesadaran kolektif dan tindakan riil.

Dari segi bahasa dan narasi, Navis menggunakan gaya yang efektif dan mudah dicerna, namun sarat dengan simbolisme dan makna sosial. Setiap deskripsi kekeringan di alam bukan sekadar penggambaran fisik, melainkan metafora atas kekeringan nilai dan mental yang menghinggapi masyarakat. Bahasa sederhana yang meluncur lancar membuat pembaca tidak hanya menghayati cerita, tetapi juga diajak untuk merenungkan realitas sosial yang lebih luas. Ini adalah kelebihan sastra sebagai medium kritik sosial yang mampu menyampaikan pesan dengan cara yang mengena, tanpa terkesan menggurui.

Konflik dan dialog sosial yang terjadi dalam novel membentuk alur yang tidak hanya menarik secara naratif, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai nilai-nilai sosial dan kebudayaan. Proses perubahan sikap masyarakat terhadap gagasan Sutan Duano memperlihatkan bagaimana kebudayaan itu dinamis, bukan statis. Ini memperkaya pembaca dengan pemahaman bahwa masyarakat tradisional pun memiliki kemampuan adaptasi, asalkan ada fasilitasi melalui dialog dan bukti keberhasilan.

Keseluruhan narasi dalam novel Kemarau sekaligus menjadi studi tentang hubungan manusia dengan alam yang tidak selalu harmonis. Navis mengangkat tema ekologi dalam konteks sosial, menyoroti sikap manusia terhadap lingkungan alam yang mendukung kehidupan. Sikap acuh dan eksploitasi tanpa perhitungan dalam konteks kemarau menjadi ancaman nyata, sehingga novel ini menyiratkan pentingnya hubungan harmoni antara manusia dan alam sebagai bagian dari kebijaksanaan sosial.

Lebih jauh lagi, novel ini juga menyinggung konflik internal dan eksternal yang dialami oleh tokoh-tokohnya, khususnya dalam hal perkawinan yang dianggap terlarang dan bertentangan dengan adat dan agama. Konflik ini memperkaya dimensi sosial novel dan menjadikan karya ini bukan saja cerita tentang alam dan perubahan sosial, tetapi juga gambaran kompleksitas moral dan adat masyarakat Minangkabau, yang menghadirkan refleksi terhadap norma sosial yang mengikat kehidupan sehari-hari.

Jadi, dalam novel ini, A.A. Navis berhasil membangun dunia yang penuh warna—dunia di mana konflik sosial, nilai budaya, kondisi alam, dan perjalanan moral bersatu padu membentuk narasi yang menggetarkan sekaligus menggugah. Tokoh Sutan Duano berdiri kokoh sebagai ikon perubahan yang melalui kerja keras dan kesabaran mampu membuka jalan bagi masyarakatnya keluar dari kesulitan yang tak hanya bersifat fisik, tapi juga sosial dan spiritual. Novel Kemarau dengan demikian layak menjadi bacaan penting yang mengajarkan bahwa perubahan sosial memang tidaklah mudah, tapi selalu mungkin jika dilewati dengan sikap terbuka, kerja keras, dan kesadaran kolektif yang tinggi.

Novel ini bukan sekadar cerita, melainkan juga panggilan moral yang lembut namun kuat bagi pembacanya untuk melihat lebih dalam ke dalam realitas kehidupan dan menyadari pentingnya menjadi agen perubahan yang aktif dan bertanggung jawab dalam masyarakat. Dengan gaya bahasa yang tetap bersahaja namun cerdas, Navis membuka ruang bagi pembaca untuk berpikir kritis sekaligus merasakan empati bagi perubahan sosial yang diperlukan. Sebuah karya yang tidak hanya hidup di dalam halaman buku, tetapi juga di benak dan hati pembaca.

Sabina Yonandar, Kelahiran 19 Januari 2004. Merupakan Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: Berita seni dan budaya

Related Posts

Persinggungan saya dengan Pilem | Nukilan dan Ritus Pawang Pukat; Sebuah Memori Kolektif dan Masyarakat Tradisional – Arif Purnama Putra

Persinggungan saya dengan Pilem | Nukilan dan Ritus Pawang Pukat; Sebuah Memori Kolektif dan Masyarakat Tradisional – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
17 Oktober 2023

Sebuah catatan yang saya tulis untuk screening pilem Tulak Bala dan Diskusi Film Siasat Warisan Budaya dalam serangkaian acara...

Dampak Belajar Daring Pada Siswa | Latifah Naswa

Dampak Belajar Daring Pada Siswa | Latifah Naswa

Oleh Redaksi Marewai
30 Agustus 2021

Saat ini, semua negara di dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19. Semua aktifitas dibatasi untuk mencegah penyebaran virus corona, termasuk...

Opini: Inez Syawalytrie F | Transplantasi Sekolah Modernitas dan Multi-Global Serta Religius Sebagai Landasan Kemajuan Bangsa

Opini: Inez Syawalytrie F | Transplantasi Sekolah Modernitas dan Multi-Global Serta Religius Sebagai Landasan Kemajuan Bangsa

Oleh Redaksi Marewai
12 Agustus 2021

Sekolah merupakan hal yang umum bagi sebagian masyarakat luas, peminatan masyarakat terhadap pendidikan mulai tinggi semenjak meningkatnya pembangunan di...

Pelabuhan Panasahan, Mengaktifkan Kembali Imajinasi Masa Lalu | Irwandi

Pelabuhan Panasahan, Mengaktifkan Kembali Imajinasi Masa Lalu | Irwandi

Oleh Irwandi
21 Mei 2021

Rencana pemerintahan daerah Kabupaten Pesisir Selatan untuk melanjutkan kembali pembangunan Pelabuhan Panasahan yang telah terbengkalai dari 2017 memberi semacam...

Next Post
AJI MANTROLOT: Penggalan VIII – Kabau Gadang (Bagian VI) Dewang Kara Sutowano

AJI MANTROLOT: Penggalan VIII - Kabau Gadang (Bagian VI) Dewang Kara Sutowano

Indonesia Performance Camp 2025 Hadirkan Workshop Dramaturgi Postdramatic di Sumatera Barat

Indonesia Performance Camp 2025 Hadirkan Workshop Dramaturgi Postdramatic di Sumatera Barat

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In