
Siang yang mendung. Jalanan lembab, dan langit masih berarak. Aku sampai di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Ini kali pertamaku ke Bali. Tentu saja sudah banyak kumpulan rencana dan segala hal tentang Bali yang kurangkum. Setelahnya, aku dijemput panitia Ubud Writers and Readers Festival menggunakan mobil. Sejak keberangkatan dari Bandara Soekarno Hatta, aku telah berencana untuk tidur di mobil sembari menunggu sampai di Ubud tempat agenda UWRF berlangsung dari 23-27 Oktober 2024. Sebagai Emerging aku memilih berangkat agak cepat (22) agar punya waktu lebih untuk melihat suasana di Ubud. Setelahnya, tentu saja aku juga menyiapkan bagaimana menjalani hidup sampai tanggal kepulangan (28). Mulai dari makanan, kebiasaan, dan lain sebagainya. Cuaca di Ubud agak mendung sampai hari selanjutnya. Saya menginap di Shelter Island Jl. Raya Sanggingan No.21, Kedewatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar. Bersama dua penulis lainnya, kami bicara banyak. Tema obrolan tentu saja sedikit, selebihnya hanya bual-bual belaka.
Dikutip dari website resmi Ubud Writers and Readers Festival, para pengarang dan penyair pemenang penghargaan dan ternama dunia dari Indonesia dan seluruh dunia dalam 200 acara dalam akhir pekan sastra raksasa yang penuh dengan cerita dan kekuatan kata-kata. Acara sastra dan budaya terbesar, terlama, dan paling beragam di Asia Tenggara, yang menarik rata-rata kehadiran tahunan lebih dari 10.000 penonton yang antusias.
Ubud Writers and readers Festival menjadi agenda tahunan yang cukup dinanti-nanti. Mulai dari pengumuman penulis emerging sampai tamu undangan yang akan hadir. Ini menjadi salah satu Festival besar di Indonesia. Aku tentu saja menantikan bagaimana Festival berjalan dan bahasan-bahasan yang akan disajikan panelis. Dari Aceh paling barat hingga Papua paling timur, kami menerima total 449 karya dari seluruh pelosok negeri. Baik proses pra-kurasi maupun kurasi dilakukan secara anonim, dengan tiga kurator memilih finalis semata-mata berdasarkan karya yang dikirimkan. “Tanpa mengetahui nama, tempat tinggal, dan sebagainya, saya sangat senang dengan hasilnya. Tidak hanya berimbang secara gender, tetapi juga terdistribusi secara geografis,” kata penulis fiksi Indonesia dan anggota dewan kurator Dee Lestari. Cuaca ubud cerah, aku telah melewati malam dan subuh yang begitu diam. Segala nampak aman saja di sini; parkir motor dan segala kesunyian.

Di UWRF tahun ini, ikut pula saya satu di Main Program yang bertajuk “Waves of Imagination: Maritime Novels” bersama penulis laris dan jurnalis internasional berpengalaman Marga Ortigas, penulis pemenang penghargaan David Whish Wilson, dan emerging writer 2024 dari pesisir selatan Sumatera Barat Arif P. Putra. Dimoderatori oleh Dr. Natali Pearson, dosen senior di University of Sydney dan peneliti warisan maritim di Asia Tenggara. Saya membahas beberapa hal yang mempengaruhi tulisan-tulisan saya selama ini, termasuk Cerita Pendek yang saya kirim ke Ubud Writers and Readers Festival 2024 berjudul “Mencari Seorang Tua di Bandar Sepuluh”. Sebuah cerpen yang bercerita perjalanan seorang Pendekar ke Bandar Sepuluh (Pesisir Selatan sekarang). Bagaimana Pendekar tersebut menemukan banyak kemungkinan-kemungkinan aneh, bahkan membuat dia bingung. Lalu, pada kesempatan itu saya juga menjelaskan egaliter-nya daerah Bandar Sepuluh. Terdiri dari sepuluh bandar/pelabuhan, mayoritas pendatang adalah pedagang dari mancanegara. Di sepuluh bandar tersebut tidak mempunyai “tuan”, mereka sejajar dan memiliki kekuasaan masing-masing. Setelahnya, cerita-cerita masa kolonialisme di daerah pesisiran pantai barat sumatera. Singkat memang, tapi aku cukup senang dapat berbagi momen-momen kepenulisan itu dengan orang-orang asing yang ikut serius mendengarkan apa yang aku utarakan.

Beruntung memang, di hari berbeda, saya berkesempatan pula mendatangi pameran salah seorang pelukis asli Sumatra Barat, Aprililia. Di waktu bersamaan dengan festival UWRF 2024, pelukis yang akrab dipanggil Lili itu melangsungkan pameran di Sika Galery, Ubud. Saya mengenal Lili semasa ia berproses di Padang, kami kuliah di kampus yang sama dengan jurusan yang berbeda (STKIP PGRI PADANG). Lukisan-lukisan Lili di panjang layaknya segerombolan kuda yang menemukan padang baru. Lili melakukan tata letak sendiri, menyiapkan pameran tersebut secara pribadi. Lili nampak bersemangat ketika kami bersua, ia mengutarakan halhal diluar dari pamerannya. Tapi aku tentu saja menanyakan bagaimana perasaanya di lingkungan baru dan iklim baru pula. Saya tidak ingin menjelaskan bagaimana jawaban tersebut, yang pasti ia terlihat menikmati sekali suasana serta iklim berkesenian di Bali. Padang yang berbeda telah ia temui agaknya. Barangkali.
Discussion about this post