• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Punago Rimbun: Timbulnya Pulau Cingkuek Taluek Sinyalai Tambang Papan Tenggelam | Zera Permana

Zera Permana Oleh Zera Permana
28 Maret 2022
in Punago Rimbun
1.1k 46
0
Home Punago Rimbun
BagikanBagikanBagikanBagikan

Ketika di Pulau Simundam Sati mengadakan pesta besar, Raja Dipatuan Hitam menujuk Putri Sari Silinduang Bulan menggantikan dirinya menjadi raja di Pulau Simundam Sati. Keputusan itu telah di sepakati oleh Rindang Bumi dan disetujui pula oleh ibundanya Puti Rimbun Jani, serta seluruh pembesar kerajaan. Dalam proses pemberian kebesaran (tahta dan istana) itu kepada Puti Sari Silinduang Bulan dipertahruhkan seekor ayam jantan bernama Ayam Kinatan dan seekor Kucing Sabun untuk menemani Putri Sari Silinduang di Bulan Pulau Simundam Sati. Akan tetapi sebelum Dipertuan Hitam dan seluruh pembesar kerajaan Pulau Simundam Sati pergi meninggalkan pulau, Dipatuan Hitam terlebih dulu menikahkan Puti Sari Silinduang Bulan dengan seorang anak Raja Bayang Kubang Ula yang bernama Binu Alim Gelar Sutan Junjungan.

Di Kualo Bungo Pasang datang seorang ulama besar penyebar Agama Islam yang bernama Syaikh Nan Bajubah Putieh, masyarakat Kualo Bungo Pasang lebih suka memanggilnya dengan sebutan Angku Nan Sagalo Putiah. Ulama ini di Kualo Bungo Pasang membuka Surau-surau kecil di sepanjang Kualo Bungo Pasang untuk “basurah” mengurai, dan menjabarkan kaji. Kehadiran Syaikh Nan Bajubah Putiah di Kualo Bungo Pasang dalam penyebaran Agama Islam dan memperkokoh pemahaman mengenai agama. Banyaklah orang-orang yang datang untuk berlajar ilmu agama kepadanya. Baik Ilmu Mantik, Ilmu Fiqih, Ilmu Tauhid, dan Ilmu Mengenai Keruhanian ilmu Ihsan. Sehingga banyak masyarakat di Kualo Bungo Pasang menjadi orang siak, orang yang taat beragama.

Mendengar kehadiran seorang ulama besar itu, ikut belajar pula Binu Alim berserta istrinya Puti Sari Silinduang Bulan Raja Putri Pulau Simundam Sati. Akan tetapi selama Puti Sari Silunduang Bulan belajar ilmu agama selalu membawa seekor kucing sabunnya, kucing itu hilang dan lari ke bawah surau tempat belajarnya itu. Di saat puti belajar di dalam Surau Puti sering berkata kepada orang-orang yang belajar “mana kucingku, mana kucingku, kucingku, kucingku”. Maka di berinama oleh orang-orang Kualo Bungo Pasang Puti Cingku, dan Pulau Simundam Sati tempat kediaman Puti Sari Silinduang Bulan diberi nama pula Pulau Puti Cingku. Sehingga dalam kebiasaan masyarakat menyebut Pulau Cingku berubah menjadi Pulau Cingkuek. Dari situlah pangkalnya kemudian hari Pulau Simundam Sati disebut dengan nama Pulau Cingkuek.

Sedangkan dimasa ini Negeri Taluek Sinyalai Tambang Papan terjadi perperangan besar melawan Bajak Laut Rupik dan Kaum Garagasi Hitam. Raja Taluek Sinyalai Tabang Papan yang telah kualahan menghadang serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Panglima Sonsang Lawik. Memutuskan untuk mundur dan menyelamatkan diri dibantu oleh saudaranya Dipatuan Rajo Mudo Raja Kualo Banda Mua datang bersama raja dari Taluek Andam Puro, menyingkir ke tempat asalnya Kualo Aie Batu Negeri Rimbo Panjang Sungai Pinang Lamo.

Disaat Raja Nan Sati dapat lolos menyelamatkan diri yang dibantu oleh saudaranya membuat kaum perompak mapeh mareh (kesal) dan marah, karena tidak dapat membunuh Raja Taluek Sinyalai Tambang Papan. Kemudian Taluek Sinyalai Tambang Papan di jadikan basis dan kedudukan Panglima Sonsang Lawik mengendalikan monopoli perdagangan seluruh pelabuhan-pelabuhan di sekitar Taluak Sinyalai Tambang Papan yang juga dalam misi penaklukan oleh Raja Sonsang Lawik.

  • About
  • Latest Posts
Zera Permana
ikuti saya
Zera Permana
Redaksi Marewai at Media
Zera Permana
Salimbado Buah Tarok (Anggota Pusat Kajian Tradisi Salimbado Buah Tarok). Sekarang bekerja fokus di Serikat Budaya Marewai. Berasal Dari Nagari Sungai Pinang, Koto XI Tarusan Pesisir Selatan. Pengelola dan Penulis Tetap Rubrik "Punago Rimbun". Zera merupakan arsiparis muda manuskrip-manuskrip Minangkabau, selain fokus mengarsipkan manuskrip, Zera juga aktif berkegiatan dalam Alih Aksara dan Alih Bahasa. Salah satu manuskrip yang sudah terbit, "Kitab Salasilah Rajo-Rajo Minangkabau".
Zera Permana
ikuti saya
Latest posts by Zera Permana (see all)
  • Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana - 3 September 2025
  • Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2 - 2 Oktober 2024
  • Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung - 26 September 2024
Tags: BudayaKabaMinangkabauPesisir selatanPunago Rimbun

Related Posts

Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana

Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana

Oleh Zera Permana
6 November 2025

Burek Tunggang Ka Karajaan Indopuro Lunang Bapucuak Bulek Di Minangkabau Pagaruyuang Bajulai si aka jambai, di Tepian Sungai Muara...

Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2

Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2

Oleh Zera Permana
6 November 2025

Seri Punago RimbunSejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan (Bagian 2) Maka...

Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung

Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung

Oleh Zera Permana
26 September 2024

Suatu waktu terjadi peristiwa di Alam Surambi Sungai Pagu, tiga orang pembesar; Raja Kampai Tuangku Bagindo, Raja Panai Tuangku...

Punago Rimbun: Hilangnya Keris Kesaktian Bunga Kesayangan | Zera Permana

Punago Rimbun: Hilangnya Keris Kesaktian Bunga Kesayangan | Zera Permana

Oleh Zera Permana
21 September 2024

Sumatra yang lebih dikenal dalam bahasa tradisi Pulau Perca, ujungnya Negeri Aceh pangkal hingga Lampung. Orang yang mendiami Pulau...

Next Post
Puisi-puisi Dandri Hendika | Rahim di Desember

Puisi-puisi Dandri Hendika | Rahim di Desember

Puisi-puisi Putri Erline | Tidak Ada yang Perlu Diselamatkan

Puisi-puisi Putri Erline | Tidak Ada yang Perlu Diselamatkan

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In