• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Punago Rimbun: Antara Hulu dan Kualo Sungai Nyalo | Zera Permana

Zera Permana Oleh Zera Permana
12 November 2020
in Punago Rimbun
1.4k 28
0
Home Punago Rimbun
BagikanBagikanBagikanBagikan

Negeri tertua di bagian selatan Minangkabau Tengah, adalah Pariangan terletak di hulu Sungai Nyalo dari kaki Gunung Selasih dan Gunung Sigiri, Pariangan Sungai Nyalo. Sebagaimana perjalanan nenek moyang yang berada di kaki Gunung Selasih yang bertolak dari kaki Gunung Marapi yang berpusat di Pariangan Padangpanjang menuju Pariangan Sungai Nyalo Gunung Selasih Kembar Dua dalam “Kaba Tareh Jambak Jambulilin” didirikan oleh empat orang pemuka dari Pariangan Padangpanjang yaitu: Datuak Bagindo Basa (suku koto), Datuak Indo Basa (suku piliang), Datuak Tunaro Basa (suku bodi), dan Datuak Tan Basa (suku caniago).

Sedang gelombang kedua, datang untuk menyusul yakni Dt Maharaja Basa, dan Datuak Patuan Basa keduanya membawa kebesaran suku malayu, tetapi kedua pembesar ini tidak bergabung dengan pembesar yang telah datang duluan (pembesar yang berempat) dan mendirikan pula sebuah perkampungan tua yang disebut Banda Mua.

Banda Mua berbentuk kerajaan sebagaimana raja adalah Dt Maharaja Basa dan sebagai Hulubalang adalah Datuak Patuan Basa, pada masa ini perkawinan antara pemili Datuak Maharaja Basa pada mula-mulanya adalah dengan kerabat di Pariangan. Setelah mereka sudah berkembang barulah terbatas antara anak kamanakan “kawin ujung ke pangkal dalam suatu rumah gadang” orang lain yang di terima sebagai orang sumando, hanyalah anak-anak raja dari kerbat raja di Lagundi Nan Baelo, Saruaso Bungo Satangkai, dan Pariangan.

Sedangkan bagi sanak keluarga Datuak Patuan Basa, melakukan perkawinan hanya antara keluarga atau orang lain yang jadi ”handam” di rumah raja Banda Mua. Penduduk dari kerajaan Banda Mua, terdiri dari keluarga raja, keluarga hulabalang, dan budak-budak (handam, dan budak-budak hina) handam-handam ini kemudian menjadi penduduk negeri, dan meneruka tanah untuk raja (karena status masih handam).

Sedang negeri Pariangan Sungai Nyalo, tidak memilih pemerintahan yang demikian, penghulu-penghulu suku, sama berdaulat, dan bergabung dalam balai nagari, “Di Medan Nan Bapaneh, Nan Baatok Langik, Badindiang Hari” balai negeri inilah yang memegang kekuasaan tertinggi negeri. Pemimpin terpilih anggota sidang biasanya yang yang berusia tua.

  • About
  • Latest Posts
Zera Permana
ikuti saya
Zera Permana
Redaksi Marewai at Media
Zera Permana
Salimbado Buah Tarok (Anggota Pusat Kajian Tradisi Salimbado Buah Tarok). Sekarang bekerja fokus di Serikat Budaya Marewai. Berasal Dari Nagari Sungai Pinang, Koto XI Tarusan Pesisir Selatan. Pengelola dan Penulis Tetap Rubrik "Punago Rimbun". Zera merupakan arsiparis muda manuskrip-manuskrip Minangkabau, selain fokus mengarsipkan manuskrip, Zera juga aktif berkegiatan dalam Alih Aksara dan Alih Bahasa. Salah satu manuskrip yang sudah terbit, "Kitab Salasilah Rajo-Rajo Minangkabau".
Zera Permana
ikuti saya
Latest posts by Zera Permana (see all)
  • Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana - 3 September 2025
  • Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2 - 2 Oktober 2024
  • Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung - 26 September 2024
Tags: BudayaCaritoPelesiran

Related Posts

Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana

Punago Rimbun: Indrapura Urat Tunggang Daulah Kesultanan Minangkabau – Zera Permana

Oleh Zera Permana
6 November 2025

Burek Tunggang Ka Karajaan Indopuro Lunang Bapucuak Bulek Di Minangkabau Pagaruyuang Bajulai si aka jambai, di Tepian Sungai Muara...

Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2

Sejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan – Bagian 2

Oleh Zera Permana
6 November 2025

Seri Punago RimbunSejarah Makanan Adat: Gulai Pangek Bada Jo Gulai Kacang, Tanda Penghormatan Raja Kepada Cendikiawan (Bagian 2) Maka...

Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung

Seri Punago Rimbun: Sejarah Menepinya Raja Alam Surambi Sungai Pagu, Samsudin Sandeowano Setelah Penobatan di Pagaruyung

Oleh Zera Permana
26 September 2024

Suatu waktu terjadi peristiwa di Alam Surambi Sungai Pagu, tiga orang pembesar; Raja Kampai Tuangku Bagindo, Raja Panai Tuangku...

Punago Rimbun: Hilangnya Keris Kesaktian Bunga Kesayangan | Zera Permana

Punago Rimbun: Hilangnya Keris Kesaktian Bunga Kesayangan | Zera Permana

Oleh Zera Permana
21 September 2024

Sumatra yang lebih dikenal dalam bahasa tradisi Pulau Perca, ujungnya Negeri Aceh pangkal hingga Lampung. Orang yang mendiami Pulau...

Next Post
Rabab Pasisia: Butuh Regenerasi Untuk Melestarikannya

Rabab Pasisia: Butuh Regenerasi Untuk Melestarikannya

Cerpen: Sudin Lebih Setan | Bahrul Ulum

Cerpen: Sudin Lebih Setan | Bahrul Ulum

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In