• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Thomas Elisa | Langgam Lama

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
11 September 2021
in Sastra
1.3k 67
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

LANGGAM LAMA

Di langgam lama namamu kembali berputar
Kisahmu lirih terurai bersama sore yang menua
Adakah batas henti untuk semua kisah masa silam?
Sedangkan kalender berulangkali memajang nama yang sama

Aku tahu tak seorangpun ingin tinggal dalam kenangan
Tak ada yang mau terperangkap pada malam yang tak berwarna
Dan berhenti dengan rupa yang sama serta senyum yang tak berbeda
Tetapi, adakah yang ingin menolak sebagian kenangan yang singgah datang?

Di langgam tua aku tahu engkau dan jutaan manusia lainnya telah pergi
Sementara aku dan jutaan manusia lainnya mendatangi lagi stasiun ingatan
Bukan untuk bertamu pada hari-hari pedih atau bulan penuh sumringah
Sebaliknya, aku ingin membuat sketsa wajah yang baru untuk cerita berikutnya

( Semarang, 2021)

RUANG SANG MAHA

(Terinspirasi Lirik Lagu Ruang Rindu)
Telah lama aku salah mencari letak ruanganmu
Aku mendatangi riuh rendah kota untuk mencarimu
Namun engkau tak di sana dan kini kota telah poranda
Aku lantas berlari ke gedung-gedung langit tinggi
Tetapi engkau tiada diantara gedung warna-warni dan kaca raksasa
Apakah aku sudah terlambat mengunjungimu?

Aku berjalan dan bertanya kepada sesiapa saja
Sayang tak ada kata dan denah tentang ruang keberadaanmu
Buku-buku telah diikat keegoisan dan manusia terkurung ruang maya
Dimana dan kepada siapa aku menemukan kunci jawabannya?
Dalam lelah dan perangkap maya aku memutuskan istirah
Menerima perjalananku yang tak sampai padamu

Kini kuputuskan dalam bimbang dan istirah
Untuk memilih terang dibandingkan warna maya
Dan lamat-lamat kudengar engkau berbisik
“Akulah makna apabila engkau melepas wujud dan bayang”
Inikah ruangmu Sang Maha?

Semarang, 2021

MENGEMAS PERJALANAN

Dalam ransel usang ini rindu melipat kabut di punggung
Gelap berjalan menjadi sinar lentera oleh kata kecil doa
Jarak berubah menjadi selembar peta dengan sejumput tabah
Dingin terbalut hangat oleh harum tanah kampung halaman

Tiada yang benar-benar jauh
Tak ada musim yang membuat merapuh
Bagi para rantau mengemas perjalanan
Adalah sebuah kecup nikmat keniscayaan 

Solo—Semarang


BIODATA PENULIS

Thomas Elisa, berasal dari kota Surakarta. Penulis juga telah menyelesaikan program Strata-1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) 2018 lalu. Karya terbaru penulis adalah novel fiksi anak berjudul Bangunnya Peri Merah (2017). Penulis mengajar di SMA Kolese Loyola  Semarang. Temui saya di Facebook: Thomas Elisa P



  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: BudayaCerpenEsaipuisiSabtuSastra

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Next Post
Cerpen Iswadi Bahardur | Jejak Tak Tercatat

Cerpen Iswadi Bahardur | Jejak Tak Tercatat

Maligi, Mozambik di Sumatra Barat

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In