• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, April 29, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026
in Sastra, Puisi
972 73
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak

rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit di depan rumah. menjadi titik mula kaki berjalan ke ladang-ladang pohon lontar dan kelapa. pergi menyadap napas.

sedang menaiki bukit rumah kekasihku melewati bau amis tubuh kota, setelah hujan atau kemarau hari ini; membuat beribu lorong ketidakpastian di tubuh tropisnya.

tungku berhenti menyala pada musim tak pasti, katamu. tapi api di dapur mesti tetap dinyalakan. mesti waktu telah remang di ladang-ladang masa kini.

Desa Sambirenteng, Buleleng, 2025-2026.



Kaki—Tulang Punggung Petani Garam

aku baru saja melihat seorang lelaki menanak garam

pada ladang yang tak luas

kakinya menjadi tulang punggung

bersender di antara benih-benih asin

dipandangnya laut dengan tajam dan biru

tangannya erat menggenggam kayu bergigi tua

membuat tubuhnya liat dan liar namun jinak pada rasa

asing musim hujan dalam kemarau

Desa Les, Buleleng, 2025-2026.


Singaraja dalam Napas Tua

buat penyair made adnyana ole

kota ini mulai ramai

setelah beratus tahun lalu

cerita turis dan hilir mudik kendaraan

berhenti di gedung bioskop.

orang-orang bau napas pensiun

yang menguar di kota ini sekarang

mau ditutup hidungnya

hidup seakan mau dipadatkan di sini

setelah semua pernah tersedia dulu

mau diadakan ulang;

garis pantai, danau, juga desa-desa tua

yang meraba-raba kekasihnya ke mana,

mau dimunculkan dari dalam roh-roh batu tua

dipaksa keluar.

segala rencana dikuatkan di kota ini

kios dan gedung mulai dibangun ulang

disilahkan siapa mau buka usaha dan investasi

vila dan hotel termasuk sekolah pariwisata

terdengar wacana itu seperti mantera pengusiran leak

membuat orang-orang keluar dari dalam rumah menunda

sarapan paginya dengan ayam betutu. dialihkan pada makan

siang dengan ayam goreng dari amerika telah tersedia

di pinggir jalan bertabur saos tomat dan cabe

bangunannya masih baru.

yang muda nongkrong di sana

yang tua tetap minum tuak

di bale banjar. enjoy.

Singaraja, 2025-2026


Liar Rumput Kuda-Kuda Api

buat angelina arfat

kuda-kuda berlari ke matamu

kuda-kuda api

rumput-rumput tumbuh di dadamu

yang jinak hangus terbakar

yang liar tumbuh subur

di matamu di dadamu

liar rumput

kuda-kuda api

Padang Savana Tianyar, Karangasem, 2026.


Kematian dalam Gelap

buat angelina arfat

dan pada akhirnya

kita memeluk malam

lebih panjang dari biasanya

setelah kita tidak tahu

telah berhenti di mana

pergi mau ke mana

masih tidak tahu itu,

semua terasa jauh

tapi waktu semakin padat

yang membuat kita hanya memeluk

hari esok lebih sebentar

setelah malam ini lebih lama

dalam gelap,

apakah kematian itu?

Singaraja, 2026.


BIONARASI SINGKAT PENULIS

Son Lomri, kelahiran Serang, Banten, tinggal di Singaraja, Bali. Menulis puisi, cerpen, esai, dan karya jurnalistik. Tulisan-tulisannya dimuat di media cetak dan digital, seperti Tatkala.co, Sudut Kantin Project, Majalah Elipsis, Jawa Pos Radar Banyuwangi, Harian Rakyat Sultra danHarian Nusa Bali.Kini berjualan buku di Anima Toko Buku dan bergiat di Komunitas Mahima. Salah satu cerpennya berjudul “Hamparan Kematian” pernah dialihwahanakan menjadi pertunjukan teater dengan judul “Mulih” oleh Kelompok Teater Cibetus pada Acara Pesta Pinggiran 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Harum Penulis Naskah pada Komunitas Teater di Sumatera Barat Kurang Semerbak – Irawan Winata - 25 April 2026
  • Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen | Venari In Gehenna (2026) - 18 April 2026
  • Kesuksesan Totalitas Aktor Ku-Liek pada Festival Nan Jombang Tgl3, Menggantung Hak Intelektual Penonton dalam Dekonstruksi Nilonali | Irawan Winata - 6 April 2026
Tags: puisiSastra

Related Posts

Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen | Venari In Gehenna (2026)

Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen | Venari In Gehenna (2026)

Oleh Redaksi Marewai
18 April 2026

Venari In Gehenna (2026)             — Michelle Petrelll Aku memandangi lukisan anomali persis melihat api melawan gravitasi : alkisah...

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Next Post
Cakap Film: Ketika Manusia Belajar Melihat Dunia dari Mata Alam | T.H. Hari Sucahyo

Cakap Film: Ketika Manusia Belajar Melihat Dunia dari Mata Alam | T.H. Hari Sucahyo

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In