• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Minggu, Februari 15, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Roy Andika | Spektrum

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2021
in Sastra
1.3k 52
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

DAMAI NATAL

Di tangan anak-anak, lilin-lilin menjelma doa-doa

Lalu terbang menjelma burung

Berjalan limbung depan gereja

Tapi matanya penuh damai, semacam kicau burung yang bertengger di ranting-ranting

Di mulut anak-anak itu, semua menjelma kitab suci

Menjelma damai di tubuh bapak

Menjelma berkat di tubuh anak-anak itu

R.a

2020

DI TANAH MAMA

Horas

Horas

Dang adong hepeng

Kata yang aku mengerti dari tanah mama

Tidak banyak; kata-kata aku makan

Beda dengan tanah bapak!

Aku makan ribuan kata hingga kenyang

Tanah mama

Di sana, ia hidup dengan ribuan kata

Masa muda, ia cukup lahap memakannya dengan juang!

Sedang aku, hanya bisa menikmati tanah mama dengan khayal

Ke danau toba

Menikmati tor-tor dengan iringan gondang

Memakai ulos;

Dengan angan-angan dalam puisi

R.a

2020

SPEKTRUM

Temaran bersemayam di wajah
Perempuan senja beribadah
Setiap petang
Di kala menyambut kenang

Jatuh dalam detik
Seperti kata tak berdetak
Yang mengetuk
Seluruh pasang mata

Perempuan senja khyusuk merapal
Meminta kasih sekepal
Pada tuan di tepian

Hujan membasahi jagat
Kala langit-langit kelabu

Hidupkan sekat-sekat
Yang merekat

Perempuan senja jatuh
Di kaki barat

Rapuh
Patuh
Patah
Dari tangkai langit-langit

R.a
2021

REALITAS NASIB

Koran-koran berkelakar
Media-media membakar
Suara-suara di bungkam

Kaki tangan
Terlunta-lunta
Di jalanan

Satu-satu
Berdesau parau
Jiwa-jiwa
Terbawa-bawa

Semuanya luntang-lantung
Tergantung
Menggantung
Di panggung
Sandiwara

Pohon-pohon ikut tersungkur
Tikus-tikus malah bersyukur

Ngeri negeri ironi

R.a
14/01/21

GADIS-GADIS MALANG

Malam makin matang
Gadis-gadis pinggang biola menari
Dengan bibir merah
Di aspal-aspal basah

Tuan-tuan kedinginan
Gadis-gadis berjualan iman
Di pinggir jalanan

Baju penuh noda

Tak bergoyang-goyang
Perut keroncongan

Sungguh malang
Gadis-gadis itu
Hidup di tanah tuan yang penuh utang

R.a
2021


Roy Andika, bisa di sapa Roy lahir di desa Marana, kecamatan sindue, Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, pendidikan terakhir S1 di Universitas Tadulako Palu, program Studi Pendidikan Geografi dan aktif belajar dalam grup kepenulisan online, karya pertama saya. Yaitu buku puisi solo terbit pada bulan oktober 2020 dengan judul Ketika Puisi Bercerita

— Spektrum, Roy Andika

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya - 15 Februari 2026
  • Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia - 8 Februari 2026
  • Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan - 5 Februari 2026
Tags: BudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia

Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia

Oleh Redaksi Marewai
8 Februari 2026

Kapiturunan                Marsiah menambahkan beberapa potong kayu ke dalam tungku, lalu memungut talang yang tergeletak di samping tungkahan yang...

Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram

Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram

Oleh Arif P. Putra
5 Februari 2026

Resensi Buku Ade Mulyono agaknya telah menjadikan buku ini satu kesatuan cerita yang tematik. Ia nampak minimalis, tetapi kompleks....

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Next Post
Tonggak Kendali Penuh, Urusan Dalam Negrinya Alam Minangkabau | Zera Permana

Tonggak Kendali Penuh, Urusan Dalam Negrinya Alam Minangkabau | Zera Permana

Punago Rimbun: Langkah  Awal Jajakan Orang Rupik | Zera Permana

Punago Rimbun : Garuda Orang Eropid (Rupik) Bangsa Portugis Tengelamnya Kerajaan-kerajaan Pesisir Barat | Zera Permana

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In