• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Maret 24, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Kiki Nofrijum | Magrib Macet

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
30 September 2023
in Sastra, Puisi
1.2k 63
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Lima Bulan ke Depan

Baju baru
Bahan pokok terpenuhi
Sensus penduduk
Organisasi ini itu bergerak
Rumah-rumah dicat baru
Pakar non bersertifikat bermunculan
Orang-orang di kampung mendadak hebat
Perputaran ekonomi sangat cepat,
bahkan melebihi pendapatan desa
Orang-orang dari antah barantah senyum manis di persimpangan

Dan seorang penyair berkata;
Selamat memperingati hari Nicolo Machiavelli
Berbagai tradisi adat berlangsung di mana-mana

Solok Selatan, September 2023

Magrib Macet

Petang yang merah. Lengang di keramaian
Angin malam merendah kepada awan; dipenuhi gelisah dan senang
Sebelum melebur menjadi kenangan-kenangan

Hanya saja, Rakib dan Atib belum juga menembusi langit
Apalagi memungut kenangan-kenangan itu
Sebab, Magrib masih macet di kota yang sibuk ini

Padang, 2020

Nasib di Subuh Gerimis

Jalan dan bangku taman kedinginan
Pada Subuh yang menyisakan gerimis
Dan nasib sudah berlalu lalang di sepanjang jalan

(tenda-tenda pedagang kaki lima yang dibongkar,
dan gerobak dorong yang mengisi jalanan;
mencari hidup di tumpukan sampah semalam)

Sementara, gadis-gadis yang tergadai itu
Berdendang riang dalam pulang – dan membayang;
Nak. Santiang-santiang baraja yo nak!
Bia jadi urang gadang bisuak nak

Padang, 2021

Mengutuk Waktu

Menjelang pagi, kopi sudah tinggal ampas
Kisah-kisah tentang negeri peri
belum juga menemu akhir halaman

Tiba-tiba, semut datang – entah dari mana
Menggerogoti ampas kopi – yang mungkin manis baginya

Dalam hati aku mengutuk waktu
Haruskah ia melenyapkan yang tersisa?

Aku pun tertidur, di antara bayang
kisah negeri peri yang belum usai

Sijunjung, 2020

Anak-anak yang Kuyup

Hujan pun meninggalkan amis
Awan hitam melenggang dan matahari
mulai menampakkan diri.
Tetap saja, sekawanan balam dan merpati
masih enggan menapaki basahnya jalanan.

Hanyalah keluh kesah yang keluar
dari mulut-mulut yang mengutuk,
karena waktu yang telah menunda kesibukannya
TIDAK seperti anak-anak yang telah kuyup itu,
yang telah menjanjikan waktu dengan segala keriangan.

Padang, 2021

Menanggung Rindu

Cahaya matahari menyusup ke jendela
Menyoroti mataku, dan lalu membayangi sedihku.
Seperti tajamnya pisau, aku menatap tajam dan begitu dalam;
Menembus hutan – sungai – gunung – dan sampai kota.

Melihat dirimu yang masih bergelut dengan nasib
ketika ayam telah kembali ke kandangnya,
ketika itik telah pulang di petang hari,
dan ketika bangau telah kembali ke kubangannya.

Pada tatapan yang jauh ini
Aku menanggung rindu dan meratapmu
pada nasi yang telah bercampur tangis.
Ingin melihat kepulangan, berdendang riang
pada irama langkah kaki dan ayun tangan

Sijunjung, 2021

Aroma Teluk Bayur

Sore mulai memancarkan petang yang merah
Jalan-jalan sudah dipenuhi kendaraan yang berlalu lalang
Mengejar waktu – hendak pergi dan pulang

Dari bukit yang ditapaki, aku ingin melihat petang itu ke bukit yang lainnya
menuju bukit yang mungkin terabaikan sejarah.
Aku pun berjalan; menjadi kendaraan yang ikut berlalu lalang

Melewati aroma getah – yang kabarnya datang dari ujung desa
Melewati aroma kayu manis – yang kabarnya juga datang dari ujung desa yang lain

Entahlah, apakah kami ini memang hanya hadir untuk menanam
kemudian dituai oleh orang-orang yang tidak kami kenal?

Memasuki dingin malam, sekejap ingatan itu menghilang
Ketika memandang laut Teluk bayur; diselimuti petang yang merah
Dengan aroma getah dan kayu manis yang masih membekas di penciuman

Bukit Karamuntiang – Teluk Bayur, 2021


Kiki Nofrijum belajar ilmu puisi kepada siapa saja dan di mana saja. Puisinya masih bertaraf lokal – terbitnya juga di media massa cetak dan daring lokal. Sekarang menjadi wartawan untuk media cetak Harian Haluan Padang.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: Berita seni dan budayaMarewaipuisiSastra

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Next Post
Ananda Sukarlan dalam Musik, Puisi & Sastra di Payakumbuh Poetry Festival 2023

Ananda Sukarlan dalam Musik, Puisi & Sastra di Payakumbuh Poetry Festival 2023

Omah Budoyo: 5 Seniman Material Menggelar Pameran Bertajuk “The Un-Brittle”

Omah Budoyo: 5 Seniman Material Menggelar Pameran Bertajuk “The Un-Brittle”

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In