• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Kiki Nofrijum | Kumpulan Puisi Untuk Tuhan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
3 April 2021
in Sastra
1.3k 96
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan


Kumpulan Puisi Untuk Tuhan

Sepanjang hari, berjuta-juta puisi lahir dari jiwa manusia.
Dan malaikat sibuk naik turun langit memungutinya.

Bersabarlah tuan-tuan dan puan-puan.
Sebentar lagi Tuhan akan mengumumkan penyair terbaiknya.

Sijunjung, 2020

1000 Tahun Sesudahnya

Gunung merapi sudah besar. Tidak lagi sebesar telur itik yang dibayangkan.
Maharaja Diraja si nenek moyang telah lebih dulu meninggalkan daratan.
Mengejar matahari terbenam, sampai ke ujung laut seberang,
dan hanya meninggalkan jejak pudar dan cerita tak bersilsilah.

1000 tahun sesudahnya, para tetua yang tertinggal.
Hanya membanggakan lukisan-lukisan yang bertuah.
Dulu begini dan dulu begitu
Membuang cerita harga diri yang terjual,
kisah tanah-tanah yang menghilang,
juga legenda kayu yang tumbuh batu, dan padi yang tumbuh gedung baru.

Kata dahulu hilang sengat, kata kemudian mengambang-ngambang.
Patah tumbuh hilang berganti
Patah ditambal dulu, hilang baru dicari
Patah ya patahlah, hilang ya sudahlah
Patah tidak tumbuh, hilang tidak berganti

Sijunjung, 2020

Pada Benang Sehelai Yang Putus

Sebelum memilih pergi untuk melupakan Datuk Panglima Kumbang,
pada benang sehelai yang telah putus, kemana aku akan mengadu?

Sebelum melupakan tari piring dan nyanyian,
pada benang sehelai yang telah putus, kemana aku akan mengadu?

Sebelum meninggalkan gunung merapi dan kekuasaan,
pada benang sehelai yang telah putus, kemana aku akan mengadu?

Ia menjamahi tanah seberang,
menjatuhkan segala ingatan di laut dalam,
demi mengadu nasib dan kenangan.
Pada benang sehelai yang telah putus, aku telah menemu malam demi malam yang terus datang.

Sijunjung, 2020

Replika Pom Bensin

Di suatu petang, sang penyair mematut pom bensin itu di seberang jalan.
Bukan tentang warna merah putih yang mengkilat pada dindingnya.
Tetapi untuk mengubahnya menjadi sebuah puisi.
Sepertinya itik pulang petang judul yang tepat.

Lalu, ia mematut lagi dengan dalam.
Melihat ada banyak jerigen yang antri di balik pagar,
ada sepasang seniman yang berdendang dan menggesek rabab tua,
dan orang-orang yang mungkin kaya, mengisi bahan bakar yang murah.
Ataupun orang-orang yang biasa, yang terpaksa mengisi bahan bakar yang mahal.

“Begitulah lukisan bung. Orang gila datang dan memintas.
Ondeh tuan oi. Penyair itu terbuai dan tersayat-sayat.

Sijunjung, 2020

Orang Gila Berkhotbah

Dewa-dewa mendadak datang dari sudut tak terhingga.
Dengan setumpuk ilhamnya di sepanjang jalan, dan hari belas kasih berserakkan dimana-mana.


Kepada pengemis-pengemis yang lapar, pedagang-pedagang yang kurang laku,
dan para petani yang tidak punya sawah.
Seperti kaum Essena yang kedatangan guru kebenaran.
Di sudut lain, di atas sampah yang menumpuk.


Tertinggal orang gila yang sedang berkhutbah,
yang disaksikan oleh langau-langau yang mencari makan.

Sijunjung, 2020

Supir Truk Itu Penyair

Hari berangsur petang, petang disambut dengan malam.
Supir itu masih saja datang dan pergi, mengejar waktu dengan oto truknya.
Bila lapar, mereka menyinggahi rumah makan padang,
Ataupun rumah makan batak yang tidak seperti rumah makan.

Ketika tusuk giginya mencari sisa daging yang mengumpat di gusi kuningnya,
supir itu berkata kepada penyair yang sedang membaca di sebelahnya.


+ Aku ini seorang penyair. Puisi-puisiku bisa datang dari mana saja.
– Lantas puisi apa yang bapak senangi?
+ Segala puisi aku senangi. Puisiku yang terpampang di bak truk itu, lebih dibaca banyak penikmat. Daripada puisi-puisi yang terhimpun di kertas-kertas, yang hanya digunakan pedagang untuk membungkus cabai dan bawangnya.

Lintas Sumatera, 2020



Penulis, Kiki Nofrijum lahir dan besar di Sijunjung, Sumatera Barat. Bergiat di kampung belajar dunia menulis kepada siapa saja. Temui saya di Ig/Fb: Kiki Nofrijum

— Puisi-puisi Kiki Nofrijum

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaCerpenEsaiPelesiranpuisiSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Hadiwinata | Ritual Penyembelihan Lima Ekor Kerbau Jantan

Cerpen Hadiwinata | Ritual Penyembelihan Lima Ekor Kerbau Jantan

Punago Rimbun: Menyilau Nagari Palangai Kecamatan Ranah Pesisir | Zera Permana

Punago Rimbun : Dipatuan Rajo Mudo Sultan Maharajo Dewi Dengan Suku Nan Ampek | Zera Permana

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In