• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Kiki Nofrijum | Kumpulan Puisi Untuk Tuhan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
3 April 2021
in Sastra
1.3k 96
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan


Kumpulan Puisi Untuk Tuhan

Sepanjang hari, berjuta-juta puisi lahir dari jiwa manusia.
Dan malaikat sibuk naik turun langit memungutinya.

Bersabarlah tuan-tuan dan puan-puan.
Sebentar lagi Tuhan akan mengumumkan penyair terbaiknya.

Sijunjung, 2020

1000 Tahun Sesudahnya

Gunung merapi sudah besar. Tidak lagi sebesar telur itik yang dibayangkan.
Maharaja Diraja si nenek moyang telah lebih dulu meninggalkan daratan.
Mengejar matahari terbenam, sampai ke ujung laut seberang,
dan hanya meninggalkan jejak pudar dan cerita tak bersilsilah.

1000 tahun sesudahnya, para tetua yang tertinggal.
Hanya membanggakan lukisan-lukisan yang bertuah.
Dulu begini dan dulu begitu
Membuang cerita harga diri yang terjual,
kisah tanah-tanah yang menghilang,
juga legenda kayu yang tumbuh batu, dan padi yang tumbuh gedung baru.

Kata dahulu hilang sengat, kata kemudian mengambang-ngambang.
Patah tumbuh hilang berganti
Patah ditambal dulu, hilang baru dicari
Patah ya patahlah, hilang ya sudahlah
Patah tidak tumbuh, hilang tidak berganti

Sijunjung, 2020

Pada Benang Sehelai Yang Putus

Sebelum memilih pergi untuk melupakan Datuk Panglima Kumbang,
pada benang sehelai yang telah putus, kemana aku akan mengadu?

Sebelum melupakan tari piring dan nyanyian,
pada benang sehelai yang telah putus, kemana aku akan mengadu?

Sebelum meninggalkan gunung merapi dan kekuasaan,
pada benang sehelai yang telah putus, kemana aku akan mengadu?

Ia menjamahi tanah seberang,
menjatuhkan segala ingatan di laut dalam,
demi mengadu nasib dan kenangan.
Pada benang sehelai yang telah putus, aku telah menemu malam demi malam yang terus datang.

Sijunjung, 2020

Replika Pom Bensin

Di suatu petang, sang penyair mematut pom bensin itu di seberang jalan.
Bukan tentang warna merah putih yang mengkilat pada dindingnya.
Tetapi untuk mengubahnya menjadi sebuah puisi.
Sepertinya itik pulang petang judul yang tepat.

Lalu, ia mematut lagi dengan dalam.
Melihat ada banyak jerigen yang antri di balik pagar,
ada sepasang seniman yang berdendang dan menggesek rabab tua,
dan orang-orang yang mungkin kaya, mengisi bahan bakar yang murah.
Ataupun orang-orang yang biasa, yang terpaksa mengisi bahan bakar yang mahal.

“Begitulah lukisan bung. Orang gila datang dan memintas.
Ondeh tuan oi. Penyair itu terbuai dan tersayat-sayat.

Sijunjung, 2020

Orang Gila Berkhotbah

Dewa-dewa mendadak datang dari sudut tak terhingga.
Dengan setumpuk ilhamnya di sepanjang jalan, dan hari belas kasih berserakkan dimana-mana.


Kepada pengemis-pengemis yang lapar, pedagang-pedagang yang kurang laku,
dan para petani yang tidak punya sawah.
Seperti kaum Essena yang kedatangan guru kebenaran.
Di sudut lain, di atas sampah yang menumpuk.


Tertinggal orang gila yang sedang berkhutbah,
yang disaksikan oleh langau-langau yang mencari makan.

Sijunjung, 2020

Supir Truk Itu Penyair

Hari berangsur petang, petang disambut dengan malam.
Supir itu masih saja datang dan pergi, mengejar waktu dengan oto truknya.
Bila lapar, mereka menyinggahi rumah makan padang,
Ataupun rumah makan batak yang tidak seperti rumah makan.

Ketika tusuk giginya mencari sisa daging yang mengumpat di gusi kuningnya,
supir itu berkata kepada penyair yang sedang membaca di sebelahnya.


+ Aku ini seorang penyair. Puisi-puisiku bisa datang dari mana saja.
– Lantas puisi apa yang bapak senangi?
+ Segala puisi aku senangi. Puisiku yang terpampang di bak truk itu, lebih dibaca banyak penikmat. Daripada puisi-puisi yang terhimpun di kertas-kertas, yang hanya digunakan pedagang untuk membungkus cabai dan bawangnya.

Lintas Sumatera, 2020



Penulis, Kiki Nofrijum lahir dan besar di Sijunjung, Sumatera Barat. Bergiat di kampung belajar dunia menulis kepada siapa saja. Temui saya di Ig/Fb: Kiki Nofrijum

— Puisi-puisi Kiki Nofrijum

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: BudayaCerpenEsaiPelesiranpuisiSastra

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Next Post
Cerpen Hadiwinata | Ritual Penyembelihan Lima Ekor Kerbau Jantan

Cerpen Hadiwinata | Ritual Penyembelihan Lima Ekor Kerbau Jantan

Punago Rimbun: Menyilau Nagari Palangai Kecamatan Ranah Pesisir | Zera Permana

Punago Rimbun : Dipatuan Rajo Mudo Sultan Maharajo Dewi Dengan Suku Nan Ampek | Zera Permana

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In