• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Joni Hendri | Gadis Penjual Jamu

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
21 November 2020
in Sastra
1.7k 107
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

sebuah perasaan gugur,

mengikuti tali hujan yang putus-putus

mengendarai hidup tak bersuami

Joni Hendri, Gadis Penjual Jamu

Malam itu Kita Mabuk Kopi

dan Mie

:Srimeliani (Melly)

Malam itu kita ke kedai kopi, mencuri pandang

dari hati yang sedang mabuk

hampir mati dibunuh cinta yang diam-diam

di gelas menunggu hangatnya perasaan

dari takdir Tuhan.

Mestinya mie itu kita simpan,

sebagai bekal masa tua

potongan-potongannya untuk memperpanjang usia

 jadikan kekasih hidup

di rumah ayahmu.

Masa lalumu, sering menyentuh kegagalan

harus rela mengucapkan selamat jalan

membawa rasa sakit untuk pergi

ke perut ibu.

Kalimat ini seperti ungkapan yang menyerap,

ia akan mengeringkan atau jadi penderitaan

dibasah hujan malam itu.

Goa cafe & resto 2020

Puisi Untukmu

Tinta pertemuan, aku tulis puisi

sebelum coretan nakal menyentuh tubuhmu

secepatnya kertas diambil dari saku

dan membuat kata-kata masa lalu.

Ia tidak sia-sia setelah dirangkai

membacanya dari hati sendiri

bibir komat-kamit seperti gelombang

yang tak pernah berhenti.

 “Ana!” Kerap dipanggil

pada sebutan, pertemuan

setelah menciummu sekali saja.

Pekanbaru, 2020

Gadis Penjual Jamu

Gadis bermain embun, menggigil dingin

pada basah ia mulai nakal, hingga kesal

menggendong harapan di punggung,

berisi gelas yang menampung untung.

Ia tidur pada musim yang susah bangun

berteman roti yang basi

tanpa mencium bau busuk, ia menyuap mabuk.

Nasib cari pagi makan pagi,

langkah kaki jadi mobil dan bus

lelah berubah dan hanyut

hilang ditelan panas.

Sebuah perasaan yang gugur,

mengikuti tali hujan yang putus-putus

mengendarai hidup tak bersuami.

Gadis bermain embun pagi,

menyerupai kunang-kunang kesepian

mengetuk pintu rumah di tepi jalan

ditusuk duri masa lalu.

Tepi Jalan, Pekanbaru, 2019

Lonceng Hati Kepada Kuli-kuli

Lihatlah aku berdiri,

tak ada senjata apalagi jabatan

memegang garis-garis lurus pada senapan

juga ujungnya yang patah

kau hanya duduk pada pangkuanku.

Sepuluh angka bertanda

kelahiran hubungan kita

menjahit nasib sepanjang hari

sebagai mimpi-mimpi yang diklasonkan

atau membunyikan lonceng hati.

Para kuli-kuli tayang sepanjang hari

saat tontonan malam di TV

kehidupan hanya sebagai alaram

di tiang-tiang dunia maya

hanya menyuarakan lagu kesenduan.

Penyalai, 2020


Joni Hendri, kelahiran Teluk dalam, 12 agustus 1993. kabupaten Pelalawan. Alumni AKMR jurusan teater. Sekarang bergiat di Rumah kreatif Suku Seni Riau. Karya tulis berupa puisi dan cerpen sudah terbit di beberapa media cetak seperti; Harian Tanjungpinang Pos, Solo pos, Pontianak Pos dan beberapa media online lainya

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: CerpenpuisiSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Fahrul Rozi | Parang Putih

Cerpen Fahrul Rozi | Parang Putih

Pesisir Selatan: Masyarakat Pesisiran yang Bergantung Hasil Laut

Pesisir Selatan: Masyarakat Pesisiran yang Bergantung Hasil Laut

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In