• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Senin, Agustus 3, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pesisir Selatan: Masyarakat Pesisiran yang Bergantung Hasil Laut

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
23 November 2020
in Budaya
2.4k 24
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan
Poto: Marewai.com

Pesisir Selatan, Marewai– Sebagai daerah yang berada dekat dengan pantai, tak heran lagi bila masyarakatnya Pesisir Selatan banyak berprofesi sebagai nelayan. Dibeberapa muara/pelabuhan di Pesisir Selatan, masyarakat pada umumnya berprofesi sebagai nelayan, ada yang Memukat, Meneri (Teri) dan lainnya. Beberapa nelayan di Pesisir Selatan banyak memakai bagan harian.  Bagan harian merupakan bagan yang hanya pergi ke laut dalam jangka waktu singkat. Berbeda dengan bagan yang memang pulang berminggu-minggu. Bagan ini lumayan menghasilkan, jika mendapatkan 10 baskom ikan dalam sekali derek, maka hitungan uangnya adalah 500 ribu rupiah. Sekali melaut itu mereka bisa menderek 3-4 kali.

Jika sekali derek mereka bisa mendapatkan 500 ribu rupiah, maka 4 kali derek sudah Berpenghasilan 2 juta rupiah dan para awak yang terdiri dari 8-13 orang bisa mendapatkan upah 60 ribu rupiah, ditambah lagi ikan tangkapan untuk dibawa pulang. Itu jika cuaca sedang bagus dan mendapat rejeki.

Seorang awak bagan mengatakan, biasanya sekali pergi melaut bisa menghabiskan 2 jerigen minyak untuk mesin kapal. Harga satu jerigen kurang lebih 200 ribu rupiah. Ditambah bekal makan ketika melaut hanya menghabiskan 100 ribu paling banyak. Kalau dijumlahkan dengan pendapatan tadi, mereka sudah mendapat uang 1.5 juta dan itulah yang akan dibagi nantinya sebagai upah awak bagan. Namun jika rejeki sedang benar-benar bagus, nelayan bisa mendapatkan upah lebih, jika sedang buruk, pernah tak membawa apa-apa pulang.

Nah, situasi ini juga kadangkala diperparah dengan adanya kapal luar yang masuk ke wilayah melaut nelayan Pesisir Selatan dengan memakai Pukat harimau, lengkap dengan alat-alat canggih yang mereka miliki untuk mendapat ikan lebih banyak. Tentu saja berpengaruh kepada nelayan lokal, terlebih lagi alat mereka gunakan terbilang biasa yang masih mengandalkan tenaga manusia. Permasalahan ini memang tidak separah beberapa tahun lalu, karena pemerintah sudah memberlakukan tanda pengenal –semacam surat kapal penangkap ikan yang berbadan hukum. Bila dilihat secara langsung, di Pesisir Selatan, Surantih merupakan daerah yang paling banyak masyarakat berprofesi sebagai nelayan. Bisa dilihat saat hari tarang (sebutan untuk hari nelayan tak melaut) menumpuk kapal-kapan nelayan di pelabuhan Penyebrangan (jembatan Penyebrangan) sebelum Pasar Surantih.

Beberapa hari terakhir, cuaca tidak menentu, sebagian nelayan memilih memarkir kapalnya di muara demi menghindari cuaca ekstrim di tengah laut. Selain kapal bagan, beberapa kapal yang digunakan nelayan untuk melaut adalah kapal Payang, Tongkang dan Bagan. Bagan sendiri artinya adalah sebuah tempat menangkap ikan yang berada di cadik kapal, menggunakan lampu untuk menarik perhatian ikan.

Untuk sementara beberapa nelayan belum pergi melaut, karena masih menunggu cuaca bagus. Hampir di seluruh kecamatan di Pesisir Selatan mengalami hal serupa.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra - 26 Juni 2026
  • Cakap Film – KARA: Karakteristik Film Tamil dan Isu Terdekat Mereka - 2 Juni 2026
  • The Bluff: Priyanka Chopra dan Peran Keterasingannya dalam Cerita, Dendam dan Pembalasan Masa Lalu - 27 Maret 2026
Tags: CaritoPunago RimbunSastra

Related Posts

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

Next Post
Pawang Hujan: Sebuah Kebiasaan yang Berangkat Dari Kepercayaan dan Tradisi

Pawang Hujan: Sebuah Kebiasaan yang Berangkat Dari Kepercayaan dan Tradisi

Yuang Sewai: Jan Lansuang Dilulur | Rori Aroka Roesdji

Yuang Sewai: Jan Lansuang Dilulur | Rori Aroka Roesdji

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In