• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi J. Akid Lampacak | Aforisme

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2021
in Sastra
1.5k 79
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Menyulam Jejak Ikan di Akuarium

kupilih berbagai mutif
untuk melintasi bayangan
di antara ikan dan ingatan.

di akuarium ini
bisa jadi kita sepasang ikan
yang saling menyilaukan siripnya
menjelang lampu hias menyala.

di sana, kita akan berlomba-lomba
menelan udara dari percik air
supaya tubuh kita mengambang
dan bisa memandang langit,

barangkali dengan warna langit
kita dapat merias doa-doa
seperti hidup sepasang ikan
yang dengan gembira
menganggap akuarium seluas semudra.

Lubtara, 2021

Siur Rindu

terlalu lama aku terdiam
saat hujan datang bercampur angin,
aromanya menyampaikan getir rindu
ketika kau dan aku melepas pelukan
di tepi waktu yang masih panjang.

selalu aku yang berangsur ragu
melihat mata tajammu menahan dingin
dan daun-daun tak bisa berlambai lagi
sebab musim telah lama dipeluk sepi

antara pertemuan dan perpisahan
nyata jadi mawar-mawar merah
gugur bersama sejarah
sementara kau hanya bisa berlambai
keriput rinduku di bawah pohon rindang.

Lubtara, 2021

Aforisme

tiba-tiba aku seperti debu
yang mengenal sedih helai daun-daun
di musim kemarau yang baru datang

sementara kau terus saja memandang
kerlip embun-embun di awal pagi
seakan kau tak percaya lagi
bahwa cinta ini masih sanggup berdiri.

Lubtara, 2021

Di Bawah Gugurnya Daun

di bawah gugurnya daun
senyummu sejenak bersiur
sekedar memandang lambai gelisah
dari puncak gunung sebelum gelap
beragam warna menyelinap
menyamar harum masakan ibu
di atas tungku yang masih basah.

barangkali di sini kau akan menemukan
segelintir aroma kerinduan
menebar ke lembah kemungkinan
menemani rendah tarian angin kampung
ketika senyummu semakin pandai merasuki renung.

Lubtara, 2021

Sejenak Menatap Langit

kutatap langit di bawah embun
menjelang jatuh di ujung duri.
orang-orang saling berjabat tangan
seakan kebahagian sedang dituangkan
pada segalas janji di ruang tamu
sebab tiada yang memang mampu
meminumnya sepanjang waktu.

Lubtara, 2021

Riwayat Jarak

pada akhirnya kuhentikan juga langkah ini
di ujung aspal yang samar dengan tanah
semut-semut bergilir memilin takdir
memasuki semak-semak rumput gersang
pada sebuah pagi yang masih telanjang.

demikian kau persembahkan
riwayat kematian di ujung ilalang
aromanya menyangkut nafasku
seperti lipatan buku-buku
selalu mengingatkan bait-bait rindu.

aku belum tau pasti
seperti apa cintamu padaku
yang aku tau tempat langkahmu berakhir
karena di situlah rinduku mencair
membasahi kebun ingatan
dengan seberkas sajak tua
yang masih menderita dibaca.

Lubtara, 2021

Setelah Pergi

sengaja aku mengakhiri sajak ini
tepat ketika bayang-bayangmu berhenti
memasuki rindang pohon mangga
di persimbangan antara cinta dan derita.

sejak saat itu
lelaki sepertiku hanyalah debu
yang mampu mengikuti siuran angin
yang bisa bercakap dengan daun
tak pernah tersenyum
kendati hujan membasahi renung.

Lubtara, 2021

Mendengar Aroma Ladang

di tengah liar lambayan daun siwalan
beragam aroma menebar tak dikenal
ada yang pasrah berdiam di bawah batu
ada pula yang sengaja tersulam jadi rindu.

ada memang perkara yang lebih indah
ketika langkah selalu berakhir di ujung resah
kembang-kempang menggurgur
tak sanggup menahan dingin musim
lantaran langkah lebih menyulam takdir
dan engkau semakin pandai menata kata
seperti senyum yang menahan air mata.

Lubtara, 2021


J. Akid Lampacak, lahir 03 Mei 2000. Mahasiswa IST Annuqayah, Guluk-Guluk Sumenep Madura Jurusan Teknologi Informasi, Sekarang Aktif Membina Komunitas Lesehan Sastra Ponpes Annuqayah. Ketua komunitas laskar pena Lubangsa Utara dan pengamat literasi di sanggar becak sumenep. Tulisan-tulisannya telah tersiar di berbagai Media cetak seperti Republika, Minggu Pagi, Suara Merdeka, Haluan, Harian Fajar, Dan Sebagainya.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: ArtikelBudayaCerpenEsaiPelesiranpuisiSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Aflaha Rizal | Fiani

Cerpen Aflaha Rizal | Fiani

Yori Leo Saputra | Rontgen dan Ronsen

Yori Leo Saputra | Rontgen dan Ronsen

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In