• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Fadhillah Hayati | Sajak Untuk Ibu

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
3 Juli 2023
in Sastra, Puisi
1.3k 83
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

SAJAK UNTUK IBU

Nasib membalut mata
lukis keriput mimpi jadi abadi
dan gores senyum,
menyatu dengan senja yang tenggelam
di tepi Padang
di akhir pusaran ombak
di tempat suara meredam pada kerudungnya

Dan sebuah kehidupan menggantung di pipi, tentang
suara kanak-kanak yang hancur
ditinggal ayah, ditinggal mama
Kata berduri yang dimutiarakan orang-orang
Perlahan, mulai dipatahkannya

Dengan napas yang berhembus
pada rumah-rumah yang reot
pada jalanan penuh sampah
pada malam yang menakutkan lautan.
Ke mana batu-batu dihempaskan?

Kerudungnya kian menawan
Melerai malam yang tak pernah hening, di antara
serak suara nona-nona menemani
kanak-kanak di perkumpulan koa.
Adakah malam masih bercahaya?

Bulan berbuai dalam bedungan Ibu
Dengan kecintaan sajak-sajak bernyanyi
tanah berombak, laut berpurus
terang benderang dari kerudungnya.

Padang, 30 Mei 2023

SULUH

Setitik api menggantung di dinding rumah
Samar dari baris-baris wajah
Beranjak buat redupkan malam

Suluh menyinari senandung Amak
Tapuk-menapuk tangan
Menidurkan masa depan dengan cerita
Masa lalu sambil menyeka rambut kita

Bacalah, katanya
Orang pergi bermain di tepi sawah
Lupa hari telah senja
Jalan pulang meraba-raba
Anak kandung amak, elok-eloklah bersekolah
Jaga budi Bahasa
Jangan sampai pulang bila ilmu tidak dibawa

Suluh kembali pada tampuknya
Menerangi bilik yang sepetak
Terbuai dalam mimpi-mimpi
Apa itu, Mak?
Yang diisi dalam bambu
Yang bersuara dalam sunyi
Yang semakin dilihat, semakin tampak rupanya
Apakah pesan? Atau surat? Atau cerita lagi?

Amak berseteru pada ingatan
Di Pundak yang tak bertonggak
Menanam kata: Mambangkik Batang Tarandam.

Padang, Maret 2023

SEPASANG BURUNG DALAM SANGKAR

Kita tak perlu menghiraukan daun-daun gugur
di musim yang sama. Bergantian malam dan siang
Setiap pertanyaan yang datang, akan pergi tanpa jawaban.

Bukankah kita perlu menghabiskan
Segumpal air yang tersisa
Di badan-badan pohon tua

Barangkali kita akan dibuat mabuk
Dibesuk impian hari
Atau kita akan dibuat tak lagi bermimpi
Hingga terbawa cinta angin buta.

Padang, April 2023

JURAI KOTA

Membentang jurai sedekap Padang Panjang
Dingin kota kawan dendang saluang
Cerita mandeh terkenang Masjid Asasi

Bersama maka menjadi
Dari empat nagari bersimpul tangan
menyatu langkah di antara lereng-lereng bukit
Tegak berdirilah yang disebut dulu Surau Gadang

Masihkah bunyi tabuh yang membangunkan sunyi kota
Sarung-sarung berjalan menuju panggilan kuasa
Jernih air Bulaan dari batang Sigando
Sebab air adalah pangkal
Menuju hulu kesucian

Namun lelap tidur kadang tetap berkawan
Seolah kayu jati menjelma batu
Orang-orang ditinggal kenangan masa lalu

Masihkah dibaca naskah yang mengobati kota
Luka disayat perang, bencana, dan celaka
Sembuh dengan cerita tetua
Sebab alam adalah guru
Terkembang menuju hulu, di dada, di kota
Sampai terpejam usia.

Padang Panjang, 2022

BILA KAU LIHAT SUATU PADANG

Bila kau lihat suatu padang
Terdampar di bawah dekap bukit
Air matanya yang berpasir
telah memusar keramaian
Menjadi satu di hadapan sang laut

Bila kau lihat lebih jauh
Pada suatu padang yang terdampar
Tak akan ada cinta yang seperti gunung
Semakin didaki semakin tampak matanya

Sebab dari kerendahan, air matanya lebih jelas
Menghembus kesepian.

Padang, 2023

WARNA-WARNI LAMPU KOTA

Warna-warni lampu kota saat sore bertamu
Menyatu dengan asap di tepi jembatan
Memandang kapal-kapal yang menanti
Perpisahan

Telah berbuat apa, aku
Menjelang api membakar jagung
Menjelang matahari beranjak pergi
Meninggalkan tiang-tiang berumur panjang
Tegak sendirian, seperti berdoa pada muara,
Untuk pulang.

Padang,  2022


Tentang Penulis
Fadhillah Hayati
. Alumni Sastra Indonesia, FIB, Unand. Aktif berkegiatan di Teater Langkah, Labor Penulisan Kreatif, dan Komunitas Tanah Ombak, Kota Padang. Instagram: @fdlhyti.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: Marewaimarewai tvpuisi

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Puisi-puisi M.Z. Billal | Kaifiat

Puisi-puisi M.Z. Billal | Kaifiat

Cerpen Dion Rahmat Prasetiawan | Membungkam Orang Tidak Waras

Cerpen Dion Rahmat Prasetiawan | Membungkam Orang Tidak Waras

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In