• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Minggu, Februari 15, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Fadhillah Hayati | Di Simpang Empat

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
31 Juli 2021
in Sastra
1.4k 91
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

BERSUA

Kita mendengarkan alunannya berangsur-angsur
pelan pada bunyi yang pernah didambakan
Meski satu per satu, ia hilang bersama dengan teriakan
lagu terkeras yang pernah tenggelam, sebelum mengatakan sampai jumpa
atau juga selamat datang
Kepada waktu yang cukup untuk
alasan kita menjadi lautan.

Namun, angsurannya kembali pada status awan
Yang slalu menggetarkan hati
Seolah-olah ia mengatakan rindu
Dan kita menghujaninya pada bunga
Yang disiram setiap waktu
Seolah-olah waktu akan tumbuh dengan
layar yang kita pandang
suara yang kita dengar.

Cahaya yang kita harapkan
terbang dan terhapus seiring
kita tidak lagi bersua, Teman.

Bukittinggi, 2021

EMBARA

Jalan panjang, kerikil berserak
Aspal yang melepuhkan kaki
hilang bila hujan meluruh.
Ya, barangkali ia sedang memijak
di tepi-tepi jalan, bergandeng menjadi pagar.
Ya, mungkin ia sedang menyanyi
biar sampai pada ujung embara, semoga.

Bukittinggi, 2021

DI SIMPANG EMPAT

“Aku sering mengulang”, katanya
saat malam yang panjang
pada hari yang berkelok-kelok.
Di simpang empat, ia menanti sebuah ayat,
“Mengapa kita harus mengambil kesepakatan?”

Bukittinggi, 2021

PADA HALAMAN

Sekira malam kian berjalan pada halaman
kemudian kau meninggalkan pengantar
melahap waktu semu-semu padam
hingga kembali kosong

Hanya halaman yang kaupandang
dan berharap ia berada di sana
tulisan yang menjumlahkan cerita
yang berharap temu setelah usai.

Bukittinggi, 2021


TENTANG PENULIS:
Fadhillah Hayati. Lahir di Pariaman, 12 April. Sedang menjalankan studi di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia - 8 Februari 2026
  • Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan - 5 Februari 2026
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
Tags: BudayaCerpenIndonesiapuisiSabtuSastra

Related Posts

Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia

Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia

Oleh Redaksi Marewai
8 Februari 2026

Kapiturunan                Marsiah menambahkan beberapa potong kayu ke dalam tungku, lalu memungut talang yang tergeletak di samping tungkahan yang...

Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram

Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram

Oleh Arif P. Putra
5 Februari 2026

Resensi Buku Ade Mulyono agaknya telah menjadikan buku ini satu kesatuan cerita yang tematik. Ia nampak minimalis, tetapi kompleks....

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Next Post
Cerpen Pati Barau | Senyum Pembasmi Amarah

Cerpen Pati Barau | Senyum Pembasmi Amarah

Budaya: Senjakala Tradisi Cowongan | Chubbi Syauqi

Budaya: Senjakala Tradisi Cowongan | Chubbi Syauqi

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In