• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Jumat, Januari 16, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-Puisi Dhery Ane | Daintine

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
24 April 2021
in Sastra
1.3k 54
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan


Rumah Bikinan Tuan
:Gereja

Untuk kau  yang cerdik dan cemburu
Mari bertandang ke rumah kami
Rumah harmonis  bikinan  Tuan
Yang  selalu kami sebut rumah kemenangan atas maut

Sabda dari epifat kitab suci
Nyanyian veni creator
Akan kau dengar di telingamu

Ini rumah mengobati luka-lukamu
Dari altar yang memutih
Memoria kemenangan dirayakan
Puncak sabda menjadi manusia
Roti dan anggur melepas derita

Supaya tak enggan kau lelah
Supaya rindumu tak enggan beranjak
“Kami siapkan dua belas bakul roti
Untuk anak-anakmu dan  sisa-sisa kerabatmu”

Nanti di sini akan kau lihat
Banyak kepala ingin jadi pastor
Hanya sedikit kaki yang jua tak ingin

Jika nanti hatimu rapuh
Akibat terlalu lama mencintai yang terlanjur dekat
Mari bertandang ke rumah kami
Sebelum lukamu  jadi mayat yang terkubur dalam-dalam

Kupang, 2020

Untuk Surga Di Kulit Kepalaku

Ini tubuh bukan kelebat kalut
Tubuh dari taman Eden kutukan
Tempat Adam mengurai dosa, tempat kau yang terluka

Di sejuk pohon tigris
Bukan kau yang berkenan mengutuk
Angin  resah pun juga gelisah.
Tapi mulut Bapa empunya kuasa segala sesal
Aku ingin mengalir, mengalir sepanjang nil, mesopotamia, dan yordan
melesapkan merah dosa ini, dalam riak sungai.
Tuhan yang dibabtis mengetuk pintu diriku
“Damailah”

Sebab, Sabda telah menjadi daging.
Dari betlehem kesiur angin menghembus semesta
Riwayat damai mengendap, meresap di horizon pendosa

Nanar  siksaan di golgota
Mati di pukul tiga sore bangkit di waktu ketiga
Sampai kini kupepat benar lafal damaiNya
Untuk jiwa yang sabar semayam.
Untuk surga di kulit kepalaku.

Kupang, 2020.

Merawat Firman

Tanganmu serupa kolam
menumbuhkan teratai yang halus dan berbudi  di kepalaku.
Namamu adalah  petir, yang menghanguskan sedih dari susahku,
Ketika aku bermimpi waktu telah menghapus separuh dirimu

Dalam waktu yang terus lepas
Memilikimu adalah kemenangan;
Katika aku yang seutuhnya kau miliki
Dan seutuhnya aku jadi milikmu

Kelak kubayangangkan kita
sebagai ruh bersayap
yang bebas melintas di angkasa semesta

Sebab kita selalu pandai merawat firman
Dengan cita-rasa harmonis
Pernah di luas bumi
Yang dijejali debur dan dosa.
Kupang, 2020.

Daintine

/1/
Di halaman rumah yang lain
Ia lihat secarik kain berwarna putih
Setelah sekian lama ia mengubur kemurungannya  sendiri
Dalam koridor-koridor batin yang paling hening
/2/
Ia melintas di jendela rumah Maria
Persis ketika ia bertanya kepada ibunya
“Kenapa kemenangan selalu ditandai dengan kain putih?”
Setelah langit masih biru laut
Ia membayangkan tubuhnya dua sungai
Yang mengalir ke lubuk hati para pendosa
/3/
Di halaman-halaman rumah yang lain
Sebuah kabar perihal kemenangan dari mata orang-orang kalah
Tiba ditelinganya persis saat kepalanya dihempas sebongkah peluru
Di ujung jalan seorang petani megenakan topi jerami
Menamainya anak yang hilang di musim sekarat

Daintine, 2

Di hatinya meraih kemenangan selalu berarti kematian
Maka
Ia ingin pergi sebelum fajar
Sebelum kepala ina menjelma anak-anak harimau
Yang nakal dan buas

Ia ingin  pergi sebelum senja
Sebelum mata ina memancarkan  anak-anak  kerang
Yang ganas  dan buas

Maka pada ahkirnya ia menginginkan kematian
Sebelum bulan memasang cahaya berkilauan
Sebelum langit melimpahi daun-daun dengan kabut yang gemerlap
Sebelum burung-burung mati di musim dingin yang hanyut
Sebelum negara ini berantakan diterpa badai korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Sebab, untuk apa lahir
Jika hidup hanya  serupa  lelehan sampah
Yang jika harmonis seperti maut  yang tak enggan dipelihara
Di telaga-telaga batin.


Kupang, 2020.


Dhery Ane bernama lengkap Aloisius Hestronius Deri, berasal  dari  Seon-Malaka, Nusa Tenggara Timur.  Ia Menulis puisi, cerpen, esai dan opini. Tulisannya dimuat di majalah, buletin sastra, dan media daring seperti Nttprogresif, Sumbavoice, Metamorfosa, Apajake.id, Biem.co, Intipkuliah.com, Rembukan.com, dan media lainya. Karya puisinya  dibukukan dalam lebih dari sepuluh antologi bersama. Sekarang menetap di Kupang sebagai mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira,  dan aktif dalam komunitas sastra Filokalia Kupang. Dapat dihubungi melalui instagram @dhery_ane.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026
  • Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram - 1 Januari 2026
Tags: ArtikelBudayaEsaiOpiniPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Iswadi Bahardur | Sumpah Bang Upret Untuk Corina

Cerpen Iswadi Bahardur | Sumpah Bang Upret Untuk Corina

Sabung Ayam: Tradisi pada Puasa Pertama Ramadan | Yori Leo Saputra

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In