• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi De Eka Putrakha | Ditimpo Galo-galo

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
19 Desember 2020
in Sastra
1.3k 84
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

nanti tiba di sebuah rumah

tanyakanlah apa dari sanakah

puisi berasal

De Eka Putrakha, Ditimpo Galo-galo

AIR MATA PUISI

:dalam sebuah surat kabar ibukota

terlalu banyak berita hari ini

peristiwa kemarin ditelan kasus baru lagi

semua ingin tahu

semua media memberitahu

bahkan memberitahu apa yang sebenarnya tidak ingin diketahui

dan sebagiannya lagi bersikap tidak mau tahu

orang-orang menyuapi berita-berita itu

sambil terus mengunyah opini

“berita selebritis ibukota lebih menarik dari pada para politisi”

“kabar dunia olah raga sangat menghibur di kala jemu”

sementara

sepotong puisi nyaris tidak pernah dibaca

            setiap minggu, sepekan sekali

sepotong puisiku menangis sesegukan

ia mengadu selalu diabaikan

“tenanglah, kau lebih abadi dibandingkan berita-berita itu”

Bandung, 2020

DITIMPO GALO-GALO

perkenalkan puisiku tentang hujan

berarak, mengarak, mengurak

lari saja sekencang-kencangnya

bawa serta puisiku                                              

nanti tiba di sebuah rumah

tanyakanlah apa dari sanakah

puisiku berasal

Bandung, 2020

BERULANG-ULANG

dulu aku terbiasa menghirup embun dalam-dalam

kemudian menyimpannya dalam paru-paru

aku sengaja melakukannya berulang-ulang

rasa bosanku takkan pernah hilang

meskipun embun pagi telah lama menghilang

aku telah lebih dulu menyimpannya

sesekali kuambil cermin lalu meniupkan sisa-sisa embun

yang telah kusimpan banyak-banyak itu

            __cermin pun buram

lantas jemariku menari-nari

melukiskan ingatan pada cermin yang berembun tadi

sebelum menghilang terbawa angin

jikalau (pun) hilang

aku masih menyimpan banyak embun dalam diriku

kulakukan hal serupa berulang kali tanpa bosan

hingga kuterbiasa dengan cermin

menatapnya untuk menciptakan sesuatu yang baru melalui jemari

aku terbiasa menghirup embun dalam-dalam

kemudian melukisnya pada cermin

dan membiasakanku mengenal kebosanan itu.

Bandung, 3 Agustus 2019

BARU SAJA KAU PERGI

Sesuatu menyelinap dan mengetuk pintu hatiku

Tunggulah sebentar akan kubukakan untukmu

Berceritalah tentang semua yang terpikir olehmu

Sebab aku selalu berada di dalam ruang yang kapan pun bisa kau masuki

Waktu menuntun setiap helaan napas merangkai kata

Di setiap doa kata-kata menemukan sendiri maknanya

Kita bercerita sudah cukup panjang

Dalam pertemuan yang teramat singkat

Pergilah selama aku menunggu

Datanglah selama aku menanti

Baru saja kau pergi

Baru saja aku mulai menunggumu kembali.

Bandung, 26 Februari 2020

ASA YANG BETERBANGAN

langkah takkan berhenti menapaki arah tujuan pencarian

temukan aku pada sebuah arah

di mana asa beterbangan

ingin kugapai dengan jari jemari

kurangkul setiap kisah yang dilalui

sepanjang perjalanan hidup

pahit manis itu menjadi duri

membentang pada setiap penjuru arah

aku terus berjalan menapaki gelisah

puing-puing harap memberi arti

bahwa pernah ada bangunan pengharapan

serta asa memayunginya senantiasa

Bandung, 7 April 2020

IZINKAN AKU MENCINTAI

rapalan doaku tidak pernah berhenti

demi setiap harapan yang kuinginkan

aku aminkan satu demi satu doa

agar cinta menemui tempat berlabuhnya

izinkan aku mencintai …

seperti caraku tidak pernah meninggalkan

himpunan harap dalam setiap kata

agar tetap selalu di sampingmu

aku memiliki cinta

aku mengaharapkan mencintai dan dicintai

seperti bagaimana jalinan doaku

tak pernah berhenti pada Sang Maha Cinta

Bandung, 7 April 2020


DE EKA PUTRAKHA. Profilnya dapat dibaca dalam buku “Ensiklopedi Penulis Indonesia jilid 6” FAM Indonesia. Tulisannya dimuat lebih dari 100 judul buku antologi. Buku tunggalnya antara lain; Hikayat Sendiri (2018) dan Perayaan Kata-Kata (2019). Baru-baru ini terpilih sebagai Pemenang 10 Resensi Terbaik “Resensi Buku Peringkat ASEAN 2020” anjuran Persatuan Penyair Malaysia. Dapat dihubungi via Facebook: De Eka Putrakha, instagram: @deekaputrakha, WA/SMS: +6281363750751. Berharap dengan menulis sebagai sarana berbagi, memberikan inspirasi serta motivasi bagi orang banyak. (#DEP)

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: CaritoPelesiranPunago Rimbun

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen: Arika Memeluk Boneka, Minggu Pagi Itu | M. Rifdal Ais Annafis

Cerpen: Arika Memeluk Boneka, Minggu Pagi Itu | M. Rifdal Ais Annafis

Sisampek: Tradisi Nasi Lamak Kuning Dalam Acara Pernikahan di Pesisir Selatan | Melany Marza

Sisampek: Tradisi Nasi Lamak Kuning Dalam Acara Pernikahan di Pesisir Selatan | Melany Marza

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In