• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Senin, Agustus 3, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Chalvin Pratama Putra | Pramuriaku

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
15 Januari 2022
in Sastra
2.3k 119
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Mengadu Pada Tanah
:Ilyas Yacoub

pada usia yang belum seberapa, aku pernah datang ke sini. melawat pagar masjid dan sebuah kubah yang menyambut cucu adam tergopoh-gopoh mengunjungi tuhan.

setiap lima waktu, tatkala azan bermedu, tidak juga siapa yang memberi aku tahu perihal engku. tanah itu juga tak menyeru tentang siapa yang dikelumun.

hingga tiba di hari lampau, ketika halimun selepas subuh, seorang malaikat menaiki bendi menunjuk dengan ibu jarinya pada tanah pengkuburan.

“singkap ranji ini negeri, tuangkan kopi pahit tak bergula, dan beriya-iya dengan tua-tua berbau tanah berkopiah, kalimat sahih akan kau temu di atas bangku.”

katanya aku akan berkhayal dan terjungkir ke dalam suatu masa. meriam dan bedil pecah di udara, tingkah kuwau dengan seribu kata ampun yang tercecer di jejalan bandar sepuluh.

tetapi yang kita dapat hanya tatapan bukit gurapai, tangisan mayit di bukit lancing, gonggong anjing pemburu di bukit tambak, hingga lenggok gadis-gadis keturunan dewa pada empu kaki gunung jantan dan batino.

pada usia yang belum seberapa, aku pernah datang ke sini, merapalkan mantra untuk menyihir mukim orang-orang pelupa, mencari sabda-sabda lama.

tapi engku tenang sajalah, meski semakin pudur engku dari peradaban ini, suatu masa akan ada anak mecit berekor menyusuri gorong-gorong yang tersisa.

Bayang, 2021


Tak Sekira yang Terkilat
:Andreaz Mazland

jika benar gulai cubadak itu telah hangus, jangan engku buang, letakkan saja di dalam rantang, tutup rapat-rapat agar langau tak turut berlalu lalang. tentulah benar, perut lapar di tanah orang lebih melecut kalang-kalang.

jika kampung tengah sudah berkehendak, jangan sesekali engku pulang, singkap saja rantang kanso itu, gulai cubadak masih segan terkecap rasan.

di sana, di kota pedang, engku takkan henti-henti berperang. urat leher kadang bercarut bersitantang membela nasib masing-masing.

tapi setidaknya engku telah belajar cara perang yang benar, menghidu aroma kematian, dan berjaga-jaga di sekujur hari-hari buruk, engku.

Bayang, 2021


Suara dari Negeri Melayu

jika telah sampai gongong anjing di negeri melayu, katakanlah kutukan yang jatuh pada nisanku: pada pecahan kaca serupa embun subuh, pada kecipak anak air yang turun dari mudik menghantam batu, pada bunyi tingkah kuwau di unjung pandang, pada gesekkan pisau pemotong getah.

di sana sumpah-sumpah yang terkunyah api; paradigma tak sampai; ada serapah induk semang, jemawa anak ladang sehabis panen, amunisi veteran yang berkarat.

suara-suara sayup yang sakit dalam belingsatan hari tersapit. ratapan anak datuk di ujung dusun mengisak mencari takhta turun ranji.

seonggok gadang pesan luhur, sepinggan berbubung pituah moyang, semua akan habis terseka angin.

lalu, sebagaimana tuan telah tahu, ini dusun beradat berlembaga telah berkabut: induk semang tinggal semang, pedang berayun membelah memang.

tapi, jika telah sampai gonggong anjing di negeri melayu, beri izin aku menghalau dengan berburu.

Bayang, 2021


Nona Dwi

nona, aku telah sampai pada suatu masa biadab, di mana orang-orang menghimpit pusara kami dengan gedung berjenjang. tanah sepinggan milik moyangku tidak berimah sedikitpun.

kau tahu, nona? dahulu di sini kerbau saja dapat membangkit suara diam menjadi sebuah kemenangan panjang, asap kemenyan saja dapat mengusir kolonis untuk pulang.

ah… sudahlah, nona! kita tukar saja cerita ini. toh kerbau-kerbau kini sudah modern, ada yang bertopi, berdasi, bahkan berkain sarung melewati pagar masjid.

Bayang, 2021


Pramuriaku

pramuriaku, lonceng kelaparan di kelab malam dan doa ibu yang menggantung:

aku ingin menyentuhmu seribu malam, sampai aku terbang dan tertidur.

lonceng kelaparan di kelab malam, doa ibu menghantarkanku ke musim yang pecah.

bibirmu menjemput kematian, haus dan laparku. singkat, aku mencintamu, jangan mati dulu.

Bayang, 2021


Penulis, Chalvin Pratama Putra, lahir di Bayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Merupakan anggota Kajian Tradisi dan Silat Salimbado Tarok, dan aktif mengelola Rumah Baca Pelopor 19. Menulis puisi, esai dan cerpen sudah tersiar di beberapa media


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
  • Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata - 10 Juli 2026
Tags: BudayaCerpenMarewaimarewai tvpuisiSastra

Related Posts

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Oleh Redaksi Marewai
11 Juli 2026

Pulang Kampung             Haris keluar dari bus angkutan antar kota. Langkahnya pelan menghentak seakan menumpahkan kekesalan di hatinya. Bagaimana...

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Oleh Redaksi Marewai
26 Juni 2026

KEPADA SHEI Aku senang membayangkan hal-hal yang indah. Kubayangkan matamu menjadi rumah paling megah: tempat di mana lelah perlahan...

Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen | Venari In Gehenna (2026)

Puisi-puisi Cahaya Daffa Fuadzen | Venari In Gehenna (2026)

Oleh Redaksi Marewai
18 April 2026

Venari In Gehenna (2026)             — Michelle Petrelll Aku memandangi lukisan anomali persis melihat api melawan gravitasi : alkisah...

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Next Post
Mengingat Kembali Tradisi Bakaru Boniah, Bakaru Tompat Tuak Bisu, dan Bakaru Ampiang di Kenagarian Sikabau yang Mulai Terlupakan | Dino Rawan Putra

Mengingat Kembali Tradisi Bakaru Boniah, Bakaru Tompat Tuak Bisu, dan Bakaru Ampiang di Kenagarian Sikabau yang Mulai Terlupakan | Dino Rawan Putra

Puisi-puisi Raeditya Andung Susanto | Sakral

Puisi-puisi Raeditya Andung Susanto | Sakral

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In