• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Andreas Mazland | Risalah Tikus

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
7 Februari 2021
in Sastra
1.3k 68
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Langau Berlagak Nabi

Aku menenteng seluar yang benang di kerampangnya
sudah tak beraturan, ‘sejak kampung kita dipimpin pandir;
pandir pula pandita kita,’ kata langau hijau yang menemani
jalan sufi yang kutempuh dari zaman ke zaman.

Dengan bunga malu yang telah layu, kulanjutkan terus
perjalanan sambil telanjang dengan menenteng seluar
yang benang di karampangnya sudah tak beraturan.

‘Kudukung kau berkirap dari kampung busuk ini Mail;
daripada karam di darat, lebih baik mati di lautan,’
katanya lagi, dengan mulut menyemburkan ludah api.

Nun jauh dalam sanubari, bahkan sunyi pun sudah takkutemukan
lagi, kukirim diam pada keriput bibir,
kuliarkan pandang mencari puntung kretek sisa,
kudengar pituah langau hijau dengan telinga kanan,
lalu kukeluarkan lewat telinga kiri.

Padang, 2020

Risalah Tikus

Sekumpul wanita lapar, tengah bersyair panjang
tentang ‘Padi di tanam, mengapa yang tumbuh ilalang?’
sehimpun bocah busung, dipaksa berhikayat tentang,
‘Sedekah obat kaya, tak apa kita menanam, orang berlaba;
asal masuk surga.’

Itu terjadi sejak penghulu membiarkan tikus menguasai gudang
pangan kami, mereka mulai merabab-ria di atas tumpukan padi
‘Lulur saja itu hikayat sampai mati,” syair mereka sambil menari

Lapar dan busung sekerumun orang belum hilang, tikus pun
pergi, sembari mengucapkan terimakasih pada penghulu kami.

Padang, 2020

Hari Kawin Punuk

Rembulan dan Punuk telah kawin dan mereka tak bilang
hanya angin mendesir yang mengabarkan 
bahwa cinta Punuk telah direstui Sultan.

Di belantaran Batang Arau, tempat di mana
segala yang aneh berada. Seekor anjing hutan terduduk
ia iri setengah mati mendengar sultan merestui Punuk.

“selera mau berbini tinggi, tapi mendengar baung betina
saja, kau tak punya berani.” sindir Bunian penjaga hutan, 
“aii, inginnya memanen timun raya, namun menanam
timun bungkuk. Mana boleh”

Makin jatuh terduduk anjing hutan itu
tak dapat lagi ia menyalak sekedar melepas palak.

Sungai Mandau, 2020


Penulis Andreas Mazland; lahir di Banda Aceh, 21 Juni 1997. Menulis cerpen, puisi, essai dan opini. Unggulan II Payakumbuh Poetry Festival. Bergiat di komunitas Lapak baca Pojok Harapan, sebuah komunitas literasi di Kota Padang.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Pinjaram: Kuliner yang Tidak Lagi Menjadi Khas di Daerah Asal

Pinjaram: Kuliner yang Tidak Lagi Menjadi Khas di Daerah Asal

KADISPAR Provinsi Sumatra Barat Tantang “Kito Fishing” Gelar Turnamen

KADISPAR Provinsi Sumatra Barat Tantang "Kito Fishing" Gelar Turnamen

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In