• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Alvida Maulida Bowo | Bangsa Roma Dan Mesir Kuno Yang Mencari Bunga

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
20 Maret 2021
in Sastra
1.5k 62
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Bangsa Roma Dan Mesir Kuno Yang Mencari Bunga

Seorang pohon yang tinggi, memangku
daun, jarum jam berayun-ayun. Para taruna pun, bertanya, “Untuk apa, Mesir kuno menghasilkan waktu?”
“Lalu, untuk apa, sebuah akhir diwujudkan?” tanya daun.

Taruna yang memiliki rasa penasaran yang tinggi, mencari bangsa Roma yang tengah mencari jari-jari Bunga raksasa. Dan taruna yang memiliki rasa penasaran yang tinggi,
Ah, angkaranya telah terwujud.

Dari 0—
Memakai sepatu ukuran dewasa—
untuk rebah di atasnya.
Dari 2, Mesir kuno
Menulis Bunga
: obat nyamuk.
Mereka, daun-daun

mengayun-ayunkan nyala. Taruna yang memiliki rasa penasaran tinggi,
ingin sepatunya memerdekakannya—
kata tiada, yang
tak pernah jumpa dengan
gelora.
Sejatinya Universitas Memiliki-Mu?

Seusai berdoa,
Tuhan, aku sudah salat, berdoa yang kuat-
kuat, deminya,
kehidupan setelahnya—

Menetap di University West Michigan,
yang tidak boleh menjadikan nyawa kertas
Ayolah, Bu. Aku tidak boleh mengabaikanmu. karena sejatinya hatiku, tidak
tenang, ingin cintaku belajar—napas
di otak. Ayolah, Bu.

Apakah kau setuju, dalam agama kita— *membuatkan
kue ulang tahun.
Dan merayakannya, bersama
api-Nya lilin

Aku Melihatmu,
Di Pub Konro-ya Di Bir Paling Murah

Pada zaman heian
Tetapi, masih tertampak pilihan-pilihan
Dalam dua terowongan, pintu-pintu hitam— tanpa kuketuki,
“Selamat malam, Nona,”

Adakah yang mau saya beri?
Tak apa yang terlebih dahulu,
kuminta

yang mengejutkanmu, mungkinkah tak apa, tetapi,
ada pun dari ketukanku— “Mungkinkah …
pagi yang akan menjadi pintuku?”

Pub Konro-ya, 12 Maret 2021

KAFE, KUCING

Di kafe, kucing, “Aku melihatnya, seperti balon— seperti batu
kepada batu, yang menjadikan sabar tidak jatuh, ke rumah
Yang tak menjanjikan, hujan,
kepada air yang menjadikannya batu,
kepada puncak gunung yang
bisa jadi sekitarnya

Di kafe,
kucing,
aku melihatnya
dia menyapaku,
bagai seorang
istriku
Memikul asma. Ia melaporkannya, seperti itu, “Dia itu mabuk agama! Dia itu
kucing jantan tanpa status duda.” Tetapi,
apakah dia seperti itu,

seperti tiada istri—
seperti tiada anak. Meskipun,
telah hujan—
mau tidak mau.


Alvida Maulida Bowo. Seorang gadis berusia 13 tahun, lahir di kota Malang, 19 Maret 2008. Tumbuh besar di kota Madiun. Terjun ke dunia sastra 8 bulan yang lalu. Bersekolah di SMPN 1 MEJAYAN.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: BudayaCaritoPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung

Oleh Redaksi Marewai
16 Maret 2026

Entah Buku Apa Namanya Aku pernah membaca tubuh bukuDan aku jatuh cinta pada manisnya kata pengantarBegitu syahduSesampai malam menemani...

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

RANJANG akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya duduk depan jendela sambil melantunkan nyanyian kecil ninabobo, ninabobo...

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Next Post
Cerpen Kiki Sulistyo | Noni Belanda

Cerpen Kiki Sulistyo | Noni Belanda

Opini: Balerong, Wadah Untuk Berdiskusi dan Bermunajat | Irwandi

Opini: Balerong, Wadah Untuk Berdiskusi dan Bermunajat | Irwandi

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In