• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Ade Faulina | Tak Usah Berlari

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
18 September 2021
in Sastra
1.3k 80
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan


Hari Ini

Sering-seringlah bertanya kepada diri
perihal sebab petaka di kepala

Selalulah mencari
jalan lurus tanpa kompas dan peta

Berkabarlah jika sudah tiba
pada diam paling khusyuk

Jika boleh hadiahkan jeda,
waktu dan cerita-cerita yang belum kutahu

ketika kita bertemu

(Padang, 17/6/2021) 

Tanah Air Tak Bernama 

Kota suci selalu menjadi puisi paling pasi
Ketika pagi tak lagi diketahui

Musim kekanak telah hilang
Segala mimpi ialah debu yang memerihkan mata

Meski harap dan doa selalu terjaga
Pintu-pintu entah kapan kembali membuka

Bagi diri yang tak henti-henti
Meneriakkan lafaz-Nya
Dan tersenyum saat ajal tiba

Barangkali hanya cinta
air mata, dan jiwa-jiwa suci
yang dapat pulang

ke tanah air tak bernama

(Padang, 8/6/2021)

Purnama di Kota Suci

Kota suci memanggil
Orang-orang berkerumun di balik layar
Air mata perih tak henti-henti
Duka serupa penyakit menular
Yang selalu tertinggal di raga
tak jua menemu obat

Kota suci menghentak
Dada pejuang lelap
Sementara suara gemuruh misil dan debu-debu
Merupa di wajah kekanak
Tanpa sukacita tanpa kenangan
Tentang tanah hilang sejarah

Kota suci mendekap
Jiwa-jiwa dahaga bahagia yang semula
Bertahan di dinding-dinding seumpama rumah
Tapi tidak,
Tiada keabadian dapat disekat
Meski waktu terus berdetak
Dan zaman tak pernah sama

Kota suci lirih berdoa
Datanglah cahaya
Pergilah nestapa
Pulanglah segala baik
Saat purnama kembali bertamu

Di kubah Al Aqsa
dan kita
bersujud pada-Nya

(Padang, 17/5/2021)

Tak Usah Berlari

Tak usah berlari
kehidupan dan dirimu seharusnya seiring
sebab perjalanan masih panjang
akan ada rupa-rupa rahasia hendak dikisahkan

Tak usah berlari
selalu ada waktu bagi keheningan untuk riuh
sebab apa yang tak terkata
bukan berarti tiada

Tak usah berlari
tunggu saja hingga ruang diri membuka
sebab akan ada hal-hal tak terduga
yang menyambut di penghujung hari

Tak usah berlari

(Padang, 18/6/2021)


Penulis, Ade Faulina kelahiran Padang, 1 Februari 1987. Ia merupakan Alumni S1 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Imam Bonjol Padang dan saat ini sedang menempuh pendidikan Pascasarjana Ilmu Komunikasi di Universitas Andalas. Telah menerbitkan karya pertamanya berupa kumpulan puisi “Pesta Bulan Air” (Penerbit Kabarita, 2016). Penulis bisa dihubungi melalui email: [email protected].


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaCerpenPelesiranpuisiPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Cerpen Widya Husin | Menjemput Pelukan

Cerpen Widya Husin | Menjemput Pelukan

Tradisi Maucok: Pergesaran Tradisi dan Adat Dalam Proses Pelaksanaan

Tradisi Maucok: Pergesaran Tradisi dan Adat Dalam Proses Pelaksanaan

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In