• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Profil Tokoh & Karya: Sastrawan Raudal Tanjung Banua dan Cerita “Nyaris Wartawan” | Arif P. Putra

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
1 Januari 2022
in Sastra, Tokoh
1.7k 108
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Alkisah, pada suatu libur semester, Raudal sengaja berlibur jauh ke pedalaman, yakni Kampung Langgai di hulu Batang (sungai) Surantih. Perjalanan ke sana melewati jalan setapak dan sebagian jalan makadam yang hancur. Kendaraan yang penuh sesak penumpang hanya bisa sampai Kampung Ampalu, selanjutnya kita harus berjalan kaki melewati jalan setapak menyusuri Bukit Barisan, dan beberapa kali menyeberangi sungai (hanya satu kali yang pakai sampan, di Batu Balah karena airnya terlalu dalam, selebihnya dengan berenang atau melibas air lebih sepinggang).

Waktu itu beliau membawa mesin tik Olimpia yang ia peroleh sebagai hadiah pemenang sayembara menulis surat pos dan giro tk. Sumbar-Riau waktu kelas 3 SMPN Taluk. Kala itu Raudal berniat menulis novel ketika berada di Langgai, dengan menumpang nginap di rumah seorang paman.

Tapi selama di Langgai ia malah lebih banyak menulis tangan sebagaimana kebiasaan sebelumnya. Mesin tik lebih banyak ia gunakan mengetik halhal menarik yang  diamati waktu di Langgai, mulai akses jalan, jembatan yang hanya menggunakan dua lembar kawat, hasil duriannya yang dijual murah karena jauh dari pasar, anakanak yang banyak tak sekolah, sampai pada kisah perubahan sikap beberapa gadis Langgai yang sekolah ke “kota” dan pulang dengan rambut pendek setengkuk, dst. Itu dia tulis dalam bentuk “jurnalisme kampung”.

Alhasil, setelah lebih dua minggu berlibur, Raudal pulang kembali dengan berjalan kaki dan menyeberangi sungai. Nah, saat tiba di Ampalu, ia lihat ada keramaian yang tak biasa. Kemudian ia pun menyeruak kerumunan ingin melihat. Ternyata sedang ada kunjungan kerja Komisi D DPRD Pesisir Selatan, salah satunya meninjau persiapan atau kemungkinan dibangunnya jembatan gantung Ampalu-Kayu Aro. Dalam rombongan tersebut ada sejumlah wartawan, salah satunya Bang Haslim, wartawan Harian Semangat. Ketika berwudu di sungai, Raudal mendekatinya dan bilang bahwa ia punya catatan “jurnalistik” hulu sungai. Segera ia disambut dengan mengatakan bawalah catatan itu ke Painan, kebetulan Pemda Pessel punya kontrak kerjasama denga Harian Haluan dalam edisi KMD (Koran Masuk Desa).

Pendek cerita, setelah kembali ke Painan catatan itupun ia bawa ke kantor Biro Haluan, dan Raudal diperkenalkan Bang Haslim kepada koordinatornya, Bang Imran Rusli, yang setiap Rabu datang langsung dari Padang, untuk menyiapkan edisi Pessel sebanyak 4 halaman yang terbit tiap Sabtu. Selain itu juga diperkenalkan dengan wartawan lain seperti M. Joni, Damsyamsul Djimar, Mardinas N. Syair, Rinaldi, Bang Sabrul Bayang, Yuharzi Yunus, dan ada juga dua orang perempuan. Tulisan Raudal tersebut dimuat berseri mulai minggu itu juga, itu merupakan tulisan “jurnalistik” pertama beliau di media, meski sayangnya tak sempat terdokumentasikan oleh beliau.

Selanjutnya, energi menulis berita beliau terus meletup, sehingga banyak tulisan beliau yang tak tertampung edisi KMD Haluan. Bang Haslim kemudian mmengarahkan Raudal untuk mengirim tulisan ke Semangat, namun tetap meminta ia menulis di Haluan. Tapi masa iya menulis berita di dua media? Kalau menulis kreatif atau opini tentu tak masalah. “Begini saja, untuk Semangat pakai namamu sendiri, untuk Haluan pakai nama lain,” kata Bang Haslim. Akhirnya mereka sepakat menggunakan nama Dian untuk Haluan, itu nama anak perempuan Bang Haslim yang masih kecil. Maka mulailah Raudal enulis untuk dua media Sumbar itu terus-menerus, menulis berita dari mana saja, mulai dari sekolah, RT, kampung, sampai mengolah rilis yang dikirim organisasi pemuda atau masjid. Raudal juga menulis halhal di luar berita, semacam feature, esei dan opini, dan uniknya, beberapa tulisan dijadikan Tajuk Rencana dan sebagian Surat Pembaca oleh redaksi. Beritaberita itu ia peroleh dengan bepergian ke beberapa tempat tiap akhir pekan dengan menumpang kendaraan umum, atau ikut kawan satu sekolah yang berasal dari kecamatan lain (yang kost di Salido), beberapa ia tulis saat datang ke Padang untuk ambil honor. Sering sekali untuk honor saat itu harus menunggu dua tiga hari, biasanya Pimred Semangat, Pak MS Sukmawijaya akan menjelaskan dengan tenang–membuat jiwa muda kita meleleh untuk tidak menerima, “Belum ada uang masuk pekan ini, Jang, mengolah media memang tak mudah. Kabupaten anu belum setor uang iklan, biro itu belum setor hasil penjualan. Tunggu dulu di, nanti kita prioritaskan kalau uang sudah ada.”

Kala itu Raudal tidur di kantor redaksi Semangat, dan setiap malam sebenarnya hampir tak pernah tidur karena kesempatan itu ia gunakan menggeber mesin tik kantor, menulis apa saja yang bisa ditulis. Yang bikin beliau nyaman, redaksi/wartawan senior Semangat sangat bersahabat. Raudal juga mengingat beberapa: Bang Wistian Yutri, Bang Khairul Jasmi, Firdaus, Rhian D’Khincai, dll. Mereka selalu menyapa, bahkan beberapa mengajarinya menulis dengan lebih baik. Bang Ciweg misalnya, mencarikan buku Sumbar dalam Angka, dan ia bilang, kalau menulis tentang infrastruktur lihat data, nah, di buku itu semua ada; berapa panjang jalan kabupaten, provinsi dan seterusnya. Ini melengkapi “pelajaran” yang ia dapat di kota kabupaten, misalnya dari Bang Sabay, “laporkanlah halhal yang dicemaskan masyarakat tapi tak diperhatikan atau tak ada yang menyampaikan.” Bang Sabay mengajak Raudal melihat penambangan pasir liar di Batang Salido yang menggerus tepian kampung Bungo Pasang sampai tiang jembatan di Buah Palo. Laporan itu membuahkan penertiban aparat.

Dalam beberapa hal muncul juga kejenuhan menulis berita seputar “kampung” sendiri, maka dalam kesempatan liburan Raudal memutuskan untuk pergi ke kabupaten tetangga, Kerinci. Ia ingin menulis sejumlah hal di sana. Berbekal sepucuk surat tugas dan pinjaman kamera Bang Haslim, berkelilinglah ia ke instansi pemerintah di Sungai Penuh dan berkeliling Kerinci dari danau, air hangat, sampai kebun teh Kayu Aro. Lugunya atau lucunya saat itu, tak terpikirkan olehnya di mana tempat menginap. Mau cari hotel tak mungkin karena uang pas-pasan. Untunglah beliau ketemu kawan sekelas yang kebetulan akan berlibur ke kampung asalnya di Sungai Penuh, Syafrizaldi, dan ke rumahnya untuk menumpang.

Saat libur panjang berikutnya, Raudal bersama dua kawan satu sekolah, Indra Bastian dan Sunaldi, melakukan kegiatan sedikit gila, yakni keliling Sumbar menggunakan becak barang!
Selama sebulan perjalanan, naluri “jurnalistik” Beliau benarbenar dapat tempat. Beliau melaporkan atau menulis berita tentang kampung/daerah yang ia tempuh, mengetiknya ( Raudal bawa mesin tik) dan dikirim di kantor pos, kadang nitip pada kendaraan agen koran yang lewat. Selain menginap di surau, masjid, kantor polisi dan tenda, dia juga mengajak kedua kawannya itu (mereka sangat mendukung kerja “jurnalistik” Raudal) untuk menginap di kantor biro Semangat, misalnya di Solok dan Muaro Sijunjuang.

Nah, suatu hari tibalah mereka di Kota Bukittinggi. Raudal sangat gembira dan rasa tak sabar numpang nginap di kantor biro kota itu, sebab dari yang ia ikuti berita-berita dari Bukttinggi/Agam sangat banyak di Semangat dan beberapa nama wartawannya juga berkesan di hati beliau karena tulisannya (tapi ia benar-benar lupa nama-nama mereka saat ini). Raudal memperkenalkan diri, dan dengan bangga mengatakan tetap meliput selama di jalan.

Tapi apa yang terjadi, saudara-saudara? Salah seorang wartawan menyambut beliau dengan dingin, lalu melotot, “Ambo sudah baca liputan Angku. Tapi angku tak tahu aturan. Itu kan bukan wilayah tugasmu!”

Raudal mundur, dan tak punya kemampuan untuk mendebat karena jangan-jangan memang ada aturan pers yg menggariskan “wilayah liputan”. Ia terus memendam pertanyaan itu, sampai akhirnya mereka sampai di Padang.

Becak ia kayuh ke kantor Semangat di Jalan Imam Bonjol. Beliau pun disambut Bang Rhian D’Khincai, dan kepadanya Raudal langsung bertanya apakah ada “batas-batas wilayah liputan” bagi seorang wartawan, sehingga ia “dimarahi” salah seorang wartawan? Bang Rhian, dengan gayanya yang slengek’an meradang dalam bahasa Minang, “Memangnyo iko nagari amak-e! Lamak se larang-larang!” (Emangnya ini negeri mak dia, enak saja laranglarang!).

Raudal dan kedua kawannya tertawa. Dan begitulah, bukan karena gertakan si kepala biro jika ia akhirnya tak jadi wartawan (hal yang membuat Raudal selalu tertawa mengenangnya), tapi garis hidup dengan pilihan-pilihannya yang membuat beliau tak lanjut berkecimpung di dunia jurnalistik yang sesungguhnya ia cintai. Tapi periode itu selalu beliau kenang dengan takzim.

“Nyaris Wartawan” Adalah tulisan yang diedit ulang dari postingan FB Raudal Tanjung Banua oleh Arif P. Putra (Penulis)

marewai.com
(Raudal Tanjung Banua, Sastrawan Indonesia)


  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Page 2 of 2
Prev12
Tags: CerpenIndonesiaMarewaiPenulisProfilpuisiRaudal Tanjung BanuaSastraSastrawan

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Pelesiran: Ampiang Parak dalam Bayang-bayang Kejayaan Masa Lampau Sebagai Ibukota Bandar Sepuluh | Arif P. Putra

Pelesiran: Ampiang Parak dalam Bayang-bayang Kejayaan Masa Lampau Sebagai Ibukota Bandar Sepuluh | Arif P. Putra

Cerita Rakyat: Kali Mambu Mandirancan | Lely Nur Tachi

Cerita Rakyat: Kali Mambu Mandirancan | Lely Nur Tachi

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In