• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Kamis, Agustus 6, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Persinggungan saya dengan Pilem | Nukilan dan Ritus Pawang Pukat; Sebuah Memori Kolektif dan Masyarakat Tradisional – Arif Purnama Putra

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
17 Oktober 2023
in Budaya, Berita Seni Budaya, Esai, Opini
2.2k 45
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Saya dan Film India
Referensi lain, aku menemukan banyak ritus serupa juga masih dipakai oleh masyarakat di India. Dalam banyak pilem India yang saya tonton terkait masyarakat tradisional, saya nyaris tersesat oleh beberapa tradisi yang dihadirkan dalam kebudayaan Hindu di sana, bagaimana ritus mereka selalu menggunakan syarat serupa dengan apa yang ada di kampungku; dedaunan, bunga, asam, air dan pantangan. Sederhananya, segala tumbuhan menjadi syarat ritus mereka. Ini barangkali juga banyak dipakai pada ritus masyarakat tradisional. Namun agaknya kebudayaan ini saling memengaruhi (ini baru asumsi saya). Misalnya, saya beberapa kali menemukan tradisi masyarakat tradisional yang nyaris sama dengan apa yang ada di kampung saya, selain tulak bala, ada juga ritus perkawinan dimana selesai ijab kabul, mempelai wanita membakarkan rokok untuk mempelai pria. Prosesi itu dilakukan di kamar, dengan ditemani pengawal pengantin. Belum lagi ritus melautnya, pantangan tidak boleh menginjak bagian kepala kapala, melangkahi kisa (pukat), tanda-tanda hari buruk dan banyak lagi. Tapi ini baru asumsi dan cocokologi saya saja, seperti banyak narasi saya diatas yang tidak yakin, karena saya bukanlah orang yang berkegiatan di dunia perpileman secara memdalam, atau memiliki ilmu penyutradaraan yang cukup. Membuat ‘Pilem’ saja saya salah.

Saya banyak terpengaruh oleh pilem-pilem India, terutama Telugu, Hindi, Kannada dan Malayalam. Bagaimana mereka sangat konsisten dengan gaya pilemnya, meski ide cerita yang ditawarkan nyaris serupa, yaitu tentang sosial budaya, agama dan pemerintah. Nyatanya, mereka sanggup bertahan sesuai dengan apa yang menjadi jati dirinya. Sangat jarang saya temukan kepura-puraan keadaan di sana, keadaan sosial budaya dan pemerintah diekspos begitu bebas. Bagi sebagian penonton barangkali tidak menyukai pilem-pilem dari India karena durasi nyanyi dan tariannya yang begitu membosankan. Tapi itulah yang membuat perpileman di sana berkarakter dan jelas. Bila dibandingkan Indonesia, nyaris tidak ada yang mencolok dari apa yang mereka hadirkan. Konsistensi tersebutlah yang barangkali nampak senjang di perpileman Indonesia secara keseluruhan. Kita menertawakan pilem-pilem India yang norak dan lebay, nyatanya tahun kemarin salah satu pilemnya memenangkan penghargaan paling bergengsi: Oscar. RRR yang berangkat dari history India semasa Inggris bercokol, dibalut konflik sosial budaya, agama dan pemerintah. Budaya yang dihadirkan cukup mencolok dan nampak rapat. Takjubnya, RRR meraih penghargaan tersebut lewat salah satu lagu “Naatu Naatu mengantar musisi M. M. Keeravani dan Chandrabose naik ke panggung lalu menerima Piala Oscar di The Dolby Theatre Los Angeles, AS, pada Minggu (12/3/2023). Film India RRR mengalahkan para raksasa musik Hollywood antara lain Diane Warren, Lady Gaga, dan Rihanna. Mantap. Jadi saya berpendapat, konsistensi adalah hal utama yang mereka tonjolkan dari tahun ke tahun dan membentuk warna.


Keseluruhan pengambilan video berada di Sungai Pinang, Tarusan, Pesisir Selatan, yang secara geografis sangat pas untuk dokumenter tulak bala pukat. Daerah yang halaman rumahnya berhadap-hadapan dengan lautan luas yang mengangkang. Lengkap dengan teluk dan pulau-pulau yang kadang tampak bagai dada gadis puber. Jadi dicatatan awal, saya berangkat dari kenangan masa kanak-kanak tentang tulak bala, kemudian menyusun dua gagasan antara Tulak Bala Nagari dengan Tulak Bala Pukat. Walau dibeberapa tutur masyarakat, tulak bala pukat juga kadang dilangsungkan sebagaimana prosesi tulak bala nagari dengan cara berkeliling kampung sambil membaca ratik. Barangkali juga demikian diketahui masyarakat awam, bahwa tulak bala itu ialah pembacaan ratik di masjid guna menjauhkan nagari dari malapetaka. Nyatanya, di masyarakat tradisional (paling tidak di daerah Pesisir Selatan) ada juga tulak bala pukat, tulak bala sawah, dan tulak bala banjir. Yang semua prosesnya nyaris berbeda.

Saya menganggap pilem ini sebagai memori kolektif yang divisualkan, diambil sebagaimana kesanggupan. Pilem ini juga jadi garapan pertama Komunitas Marewai dan Marewai N’Co. Meski dalam pilem ini sayalah orang paling awam didunia pembuatan pilem. Tapi paling tidak, saya bisa mengaku-ngaku orang yang paling penonton pilem di antara mereka. Mantap.


Ada beberapa poin yang ingin saya bagi dalam catatan ini: konsisten, ruang dan waktu, dokumentasi/arsip, dan kolaborasi. Meski tidak mewakili secara keseluruhan, saya kira halhal tersebut cukup krusial posisinya.

Sebagai penonton, berikut beberapa kutipan paling menarik dalam film yang saya tonton:

“Kalau kau buat keputusan mau membunuh, maka bunuh saja! Jangan bacot doang. Aku dalam mood membunuh. Percakapan Petta dalan Devaram saat pesta kematian ayah Devaram. (Petta, 2019, Film Telugu, India)

Tolong bangunin bapak, presiden memanggil. Situasi genting. Percakapan pasukan Cakrabirawa dengan anak Jendral Ahmad Yani dalam film G30SPKI.

“Apa anda bisa hidup bahagia setelah orang yang anda cintai menghilang?
“Kau tahu apa yang terjadi setelah kematian?
“Tidak… apa?
bagaimana aku tahu, aku masih hidup. Tapi, setelah aku mati dan jati hantu, baru akan kuberitahu.
Dalam Film Dil Bechara, Hindi, India, 2020. Film yang dirilis setelah hitungan bulan sang Aktor Sushant Sing Rajput ditemukan bunuh diri.

“Dahulu, wanita memprotes hukum membuka toket. Sekarang, di suruh menutup toket, malah protes.
Dalam film Aadai, Tamil, India, 2019. Film yang menceritakan tradisi Pajak Payudara di Desa Nangeli, India
.

“orang yang takut sering bersembunyi di balik kata-kata.” Ranbir Kapoor dalam Ae Dil Hai Muskhkil, Hindi, India, 2016.

“Jangan meremehkan kekuatan seorang penjual manisan.” Sharulkhan, Chenai Express, 2013.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra - 26 Juni 2026
  • Cakap Film – KARA: Karakteristik Film Tamil dan Isu Terdekat Mereka - 2 Juni 2026
  • The Bluff: Priyanka Chopra dan Peran Keterasingannya dalam Cerita, Dendam dan Pembalasan Masa Lalu - 27 Maret 2026
Page 2 of 2
Prev12
Tags: Berita seni dan budayaBudayaMarewaiSastra

Related Posts

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
4 Agustus 2026

"Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA" di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.Oleh: Irawan...

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Next Post
Puisi-puisi Fitri Wijaya | Dekat Teluk

Puisi-puisi Fitri Wijaya | Dekat Teluk

Puisi-puisi En. Aang MZ | Sudah Berapa Kali

Puisi-puisi En. Aang MZ | Sudah Berapa Kali

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In