“Begini adat baralek orang zaman dahulu, boleh meminjam marapulai tetapi sampai magrib; berbeda lagi dengan Minangkabau tempo dulu sekali, dimana bersanding di atas pelaminan di rumah sendiri-sendiri.”
“Bedaknya tebal bana tek” bisik One kepada Ibu. Aku melihat one dan ibu berusaha menyembunyikan tawa. Lalu pinggang One di cubit kecil oleh Ibu.
Tiba-tiba orang rumah membawa one, menyuruh masuk untuk makan. Kami pun masuk ke dalam rumah orang yang Baralek. Dari pintu saya bisa menyaksikan, Rumahnya memanjang, posisi pintu ada di sebelah kiri. Sedangkan ke kanan adalah pelaminan dan kursi pengantin. Disana tampak anak daro yang tinggal sendiri. Saya terkejut dan heran melihat dinding pelaminan yang di hias dengan kain kelambu yang tidak biasa, meskipun berwarna warni. Tetapi tidak seperti dekorasi masyarakat pada umumnya, yang sudah menggunakan pelaminan modern. Tempat duduk tamu pun masih menggenakan kasur, di alasi kain panjang. Terlihat anak-anak muda seusia saya, menggunakan kemeja putih, peci, dan kain sarung di selempangkan di dada. ikut duduk di atas kasur. Kasur yang di buat memanjang di kedua sisi rumah, membuat Saya berhadapan dengan masyarakat yang juga datang Baralek. Saya merasa benar-benar harus menjaga sikap saat makan. Kami pun makan bajamba, menikmati hidangan. Sementara anak daro duduk sendiri di atas Pelaminan.
Magrib usai sudah, langit gelap dengan udara yang lembab membuat siapa saja yang berada di sana meringkuk kedinginan. Gigi Saya ikut bergetar, saking dinginnya. Bahkan udara lembab yang menerpa badan, mengilukan tulang saya. Di halaman rumah di pasang terpal, untuk tenda. Juga, di tanah di alasi terpal, tak sengaja kaki Saya hampir saja menginjak sebuah dulang. Ketika Saya terangi dengan senter, tampaklah ada tiga Dulang beserta panyongkok (penutup) yang terbuat dari rotan.
Kata Uwo “itu hantaran yang di bawa oleh Marapulai sebagai syarat untuk datang ke rumah perempuan atau Anak Daro. Tetapi sekarang adat serupa itu sudah sangat jarang di gunakan”
“Apa saja isi hantarannya Wo?” tiba-tiba Saya merasa tergugah untuk bertanya.
“ isi hantarannyo tu berisi bareh (beras), sirih, rokok, pitih (uang). Sirih harus langkok (lengkap) pakai sadah, gambia, di buat seperti carocok.”
Kami bergegas menaiki mobil pick up. Perjalanan yang terjal, licin, dan berbatu, belum di aspal, sangat menguji nyali. Apalagi gerimis datang menerpa badan.
Uwo Eli memecahkan keheningan “Mereka masih menggunakan adat, dan dekorasi pelaminan orang maso isuak” (artinya orang lama).
“lihatlah, mereka masih mengunakan dekorasi Garediang, sangat jarang orang zaman sekarang masih menggunakan itu sebagai hiasan dinding pelaminan. Kalau di kampung kita, terakhir mungkin generasi Ibu Anggi yang memakai itu di akhir tahun 2000-an. Masyarakat di sini masih menggunakan adat lama seperti itu, tidak hanya hiasan pelaminan, tapi juga cara hidup mereka yang masih melestarikan nilai-nilai zaman dulu, mulai dari tata cara jemput-menjemput, pelaksanaan pernikahan, bahkan sampai pada cara mereka berpidato saat menjelang makan bajamba.” Uwo menjelaskan panjang lebar.
“Garediang tu bagian mananya Wo?” tanyaku.
“Garediang nama yang di gunakan untuk dekorasinya, kain yang di gunakan untuk Garediang biasaya kain tabie, atau biasa di sebut juga kapan paludu, dan di ukir dengan benang warna emas.”
“kelambu yang di gunakan masih kelambu zaman dahulu. Hantaran juga sangat di perhatikan. Pesta pernikahan Uwo dan Ibu dulu sesederhana itu. Sebenarnya itulah hakikat baralek, tidak memberatkan keluarga, juga tidak menghilangkan budaya.”
“tapi kenapa mereka tidak beranjak pada modernisasi pesta pernikahan Wo, kan sudah banyak penyewaan pelaminan yang bisa mereka sewa, dengan pelaminan luar dan orgen tunggal?” Tanyaku pada Uwo.
“Hal itu di sebabkan karena dekorasi yang mereka kenal dari dulu adalah seperti itu, bukan mereka tak mau beranjak, hanya saja terkadang banyak kesulitan untuk merubah apa yang sudah ada.”
“kemungkinan lainnya ialah lebih ekonomis, menggunakan kain yang di dekor sendiri, tanpa menyewa” Uwo bercerita panjang lebar, sedangkan di samping kiri saya terlihat kerlap-kerlip lampu perahu dari danau Kembar, sangat indah.
“wah, sudah sampai saja di Danau Kembar!” Ujarku terkejut.
Bionarasi Penulis : Anggi Oktavia, Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Sedang bergiat di UKM fakultas yakni Labor Penulisan Kreatif (LPK).






Discussion about this post