• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Menelusuri Bahasa Minang Pondok | Chalvin Pratama Putra

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
2 Maret 2023
in Berita
1.2k 91
0
Home Berita
BagikanBagikanBagikanBagikan

Di dalam gedung Long See Tong yang menghadap langsung jalanan utama Kampung Pondok dengan ditemani Gambang yang terus dibunyikan dan suara merdu seorang gadis muda menyenandungkan lagu Kampuang nan Jauah di Mato, saya menunggu Albert (45), Ketua Gambang Long See Tong, tiba sesuai janji pertemuan selaiknya murid Budha menunggu kelas dimulai.

Sejujurnya sejak masih kanak-kanak saya bukanlah murid yang patuh. Saya bosan terlalu lama menunggu. Apalagi di hari itu (11/02/2023), ada kumpul tahunan suku Lee dan Kwee yang pulang dari perantauan sehabis Imlek. Tapi karena ini pertemuan pertama saya berusaha setabah mungkin menikmati ketukan Gambang, nyanyian seorang gadis muda, lansia-lansia bersesakan saling bertukar kenangan.

Sejak duduk di sudut ruangan Long See Tong yang besar, selama itu pula saya heran setengah mati. Sebab tidak ada satu pun di antara peranakan ini yang berbicara bahasa tanah moyang mereka atau paling tidak berbahasa Indonesia baik dan benar sesuai KBBI. Dari anak-anak sampai lansia kira-kira berumur 60-an mereka semua berbahasa sebagaimana kita: Minangkabau atau serendah-rendahnya iman kebudayaan, mereka berbicara beberapa kosakata Minang yang dipaksakan Indonesia.

Sebagai perkumpulan suku terbesar di Kota Padang dan suku pewaris musik Gambang mulanya tujuan saya mendatangi Long See Tong hanyalah untuk menggali sejarah Gambang di Kota Padang. Tapi momen itu membuka mata saya, sehingga saya putuskan ketika bertemu Albert nanti, saya akan menggali bahasa yang mereka gunakan sehari-hari saja.

Sebelum Albert tiba, untuk menambah keyakinan saya bahwa orang Cina Pondok benar-benar menggunakan bahasa Minang sebagai bahasa sehari-hari, saya memutuskan untuk bertanya pada Fania (19) lewat WhatsApp, seorang mahasiswi Universitas Andalas bermarga Kwee. Fania menyebut bahwa memang begitu adanya. Di dalam lingkungan keluarganya, ia pun menggunakan bahasa Minang, hanya di kampus ia berbahasa Indonesia.

Saya juga menelvon Tjoa Sin Hui (31), seorang kenalan sekaligus Kepala Keluarga Tjoa untuk memverifikasi hal tersebut, ia menyebut bahwa keruntuhan Orde Lama dan munculnya Soeharto menjadi penyebab orang Cina Padang meninggalkan bahasa moyang mereka sebagai bahasa sehari-hari.

“Periode penggunaan bahasa Minang sebagai bahasa keseharian dimulai sejak jatuhnya orde lama. Sejak itu bahasa moyang mulai tidak lagi kami pakai sebagai bahasa sehari-hari antar keluarga, diganti bahasa Minang.” Ujarnya.

Dari kejauhan saya melihat Albert tergopoh menaiki beberapa anak tangga dan ketika melihat saya duduk seorang diri di sudut ruangan, ia lambaikan tangan, entah sebagai permintaan maaf karena terlambat datang atau hanya sapaan. Saya tidak terlalu memikirkannya, lagi pula ada sesuatu hal penting yang saya butuhkan darinya: Sejarah Bahasa Orang Pondok.
Albert menghampiri saya dengan membawa sebuah jeruk berukuran agak besar berwarna orange, katanya sebagai permintaan maaf. Dengan segan tanggung khas orang Minang saya terima jeruk itu.

Ketika saya bertanya tentang bahasa komunitas Cina Pondok padanya, ia agak tergagap untuk menjawab. Albert menyebut ia tidak terlalu tahu soal sejak kapan orang Cina Pondok menggunakan bahasa Minang sebagai bahasa sehari-hari. Sejauh ingatannya sejak kakeknya masih hidup, mereka telah menggunakan bahasa Minang sebagai bahasa keseharian.

Saya bisa mengerti karena apa ia agak tergagap, memang sejak pertama kali saya menghubunginya dan meminta waktu untuk bersua, kami berencana akan mengobrol soal Gambang. Tapi ketika bertemu saya justru mencecarnya soal bahasa.


“Tapi jangan risau, saya punya seorang kenalan yang bisa menjawab pertanyaan sanak.” Ucapnya.


Dengan keramahan ia membawa saya ke tempat duduk seorang tua. Sesampainya di sana saya menjabat tangan orang tua itu dan mengenalkan nama. Ia pun menyebut namanya, Lie Eng Hin (64). Albert membantu saya untuk membuka percapakan dengan Lie Eng Hin tentang niat saya mewawancarainya soal bahasa orang Pondok sebelum berlalu pergi mengatur para pemain Gambang dari keluarga Lee-Kwee bermain.

Lie Eng Hin menceritakan pada saya bahwa sejak dahulu komunitas Cina Pondok memang berbahasa Minang dalam keseharian. Mereka sama sekali tidak mengerti bahasa moyang mereka dari daratan Tiongkok sana.


“Coba kamu lihat papan yang tergantung di sana. Ada kosakata Cina kan? Kami memesannya dari Batam, kata mereka itu merupakan kalimat bijak Konghucu. Papan itu sudah sepuluh tahun terpajang di Long See Tong tapi di antara kami semua tidak ada yang tahu artinya.”

Lie Eng Hin menyebut bahwa tradisi komunitas Cina Pondok sudah seperti saudara sepersusuan dengan orang Minangkabau. Bahwa sejauh apapun mereka merantau, bahasa Minang akan tetap menjadi bahasa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari.


“Adik saya sudah puluhan tahun tinggal di Surabaya, tapi ketika ia marah pada anaknya, tetap saja menggunakan bahasa Minang. Bahkan ada seorang pengusaha besar dari keluarga Lee yang telah menetap lama di Belanda, tapi ketika kami berkumpul lagi di Padang, carutnya masih bersih juga.” Katanya sambil tertawa terbahak dan menampilkan beberapa giginya yang mulai hilang.

Ketika saya tanya padanya, apakah ada upaya untuk belajar kembali bahasa moyang mereka, Lie Eng Hin menjawab bahwa upaya itu pernah dilakukan dahulu pada masa Gusdur tapi tidak banyak yang ikut berpartisipasi.
“Kami sudah keenakan berbahasa Minang. Apalagi saat menceramahi anak-anak kami.” Ucapnya sambil menambah tawa.

Sebagaimana bahasa Minang umumnya yang setiap nagari punya kosakata dan dialek beragam, Lie Eng Hin menyebut bahwa bahasa Minang Pondok juga punya dialek khas dan beberapa kosakata yang berbeda.
“Coba kamu dengar orang-orang ini berbicara, bukankah iramanya agak mirip film-film kungfu klasik? Sementara dari kosakata hanya beberapa saja yang berbeda selebihnya sama. Kosakata itupun masih bisa dimengerti oleh orang Minang kebanyakan.”

Bahasa orang Pondok adalah tali penghubung orang Cina dengan Minangkabau, ujar Lie Eng Hin, bahwa sejauh apapun tanah rantau ditempuh, ke sini juga badan dipulangkan.


“Kalau saya ibaratkan, hubungan kami dengan Minangkabau sudah seperti saudara sepersusuan yang saling terhubung satu sama lain lewat bahasa.” Tuturnya.


Saya pun menunjukan pada Lie Eng Hin bahwa Setara Institute menyebut bahwa Padang sebagai kota intoleran dan komunitas-komunitas Cina merasa terdiskriminasi. Lie Eng Hin menjawab dengan agak emosional bahwa para peneliti itu tidak tahu apa-apa.


“Orang-orang Jakarta yang kerjanya hanya meneropong dari biduk tidak akan tahu kebenaran kalau mereka belum ke sini. Karena suku kita sama-sama punya mental pedagang, kalau diibaratkan isu intoleran itu sebagai barang, ia pasti barang yang tidak akan orang Minang dan Cina Padang perjual-belikan” Tutup Lie Eng Hin.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaEsayTionghoa

Related Posts

Hari Ketiga Pekan Nan Tumpah: Ragam Penampilan dan Keseruan Terus Berlanjut

Hari Ketiga Pekan Nan Tumpah: Ragam Penampilan dan Keseruan Terus Berlanjut

Oleh Redaksi Marewai
26 Agustus 2025

Padang, 26 Agustus 2025, Pekan Nan Tumpah (PNT) 2025 telah memasuki hari ketiga penyelenggaraan, dan antusiasme penonton belum menunjukkan...

Di Pinggir Hindia: Ragadupa Luncurkan Single Romantisasi Teluk Bayur, Surat Cinta untuk Kota Padang — untuk Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan

Di Pinggir Hindia: Ragadupa Luncurkan Single Romantisasi Teluk Bayur, Surat Cinta untuk Kota Padang — untuk Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan

Oleh Redaksi Marewai
20 Agustus 2025

Padang, 20 Agustus 2025 — Ragadupa, musisi asal Padang akan menggelar Showcase Musik, sebuah persembahan isitimewa bertajuk "Di Pinggir...

Merayakan 116 Tahun Novelis Perempuan Pertama Indonesia Selasih (Sariamin Ismail) 1909-1995

Merayakan 116 Tahun Novelis Perempuan Pertama Indonesia Selasih (Sariamin Ismail) 1909-1995

Oleh Redaksi Marewai
1 Agustus 2025

Kamis,31 Juli 2025 di Singali (Kampung Sababalik, Nagari Bahagia, Padang Gelugur,Pasaman), senja sangat berbeda. Tempat duduk dari kayu atau...

Repatriasi Suara Leluhur Nias Menggema di Jakarta: Dialog Interaktif “Suara yang Pulang” Hadirkan Warisan Budaya yang Hidup

Repatriasi Suara Leluhur Nias Menggema di Jakarta: Dialog Interaktif “Suara yang Pulang” Hadirkan Warisan Budaya yang Hidup

Oleh Redaksi Marewai
27 Juli 2025

Jakarta, 26 Juli 2025 — Sebuah momen bersejarah dan sarat makna terjadi di Double V Coffee & Eatery, Rawamangun,...

Next Post
Sebuah Memori Kolektif: Jejak Sejarah Cino di Bandar Sepuluh | Arif Purnama Putra

Sebuah Memori Kolektif: Jejak Sejarah Cino di Bandar Sepuluh | Arif Purnama Putra

The Kura-Kura melepas lagu tunggal berjudul “Hura-hura!” Merespon fenomena balap liar anak muda di Kota Padang hingga merenggut nyawa.

The Kura-Kura melepas lagu tunggal berjudul “Hura-hura!” Merespon fenomena balap liar anak muda di Kota Padang hingga merenggut nyawa.

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In