Immo membuka tas kecilnya, mengeluarkan sebungkus rokok, menyelipkannya di bibir, lalu menyulutnya. Immo bukan tipe perokok yang keranjingan merokok setiap waktu. Dia hanya punya satu waktu yang tepat untuk merokok, yaitu saat-saat di mana ia merasa gugup. Dan sekarang waktu yang tepat bagi Immo untuk melakukannya. Sebab, percaya atau tidak dia merasakan kupu-kupu yang barusan hinggap di hidungnya itu, sesekali mencuri lirik ke arah dirinya. Immo jelas tak tahu bagaimana cara kerja mata hexagon milik kupu-kupu, dan dia benar benar tak tahu apa sesungguhnya yang benar-benar menarik perhatian seekor kupu-kupu. Tapi ia merasakannya. Apapun itu. Dia sedikit berharap, bahwa apa yang dia rasakan adalah sesuatu yang dirasakan juga oleh kupu-kupu itu. Sebab, sedari tadi Immo juga tak bisa berhenti untuk mencuri lirik ke arah kupu-kupu tersebut.
Immo terus saja memandangi gerak-gerik kupu-kupu tersebut. Kupu-kupu itu bersayap lebar tanpa corak. Sayapnya berwarna biru langit sempurna. Dari bunga ke bunga kupu-kupu itu terbang dengan mengepakkan sayap dengan gerakan kecil kemudian membesar. Dari bunga ke bunga pula cumbu demi cumbu didaratkan kupu-kupu tersebut pada muka-muka bunga. Entah kenapa semakin melihat hal itu hati Immo semakin gelisah. Perlahan-lahan, perasaan tak nyaman mulai menjamah seluruh tubuhnya. “Apakah tadi dia akan bertengger lebih lama, seandainya aku punya hidung bunga,” gumam Immo. Pipinya merah. Satu-satunya hal yang tak pernah Immo sadari adalah kenyataan bahwa kupu-kupu itu ternyata telah terlebih dahulu hinggap di hatinya sebelum mencapai bunga-bunga.
Di sela-sela waktu yang tak nyaman, Immo terus mencuri lirik ke arah serangga bersayap tersebut. Dia gelisah, dan semakin gelisah karena cemburu kepada bunga-bunga yang tumbuh di taman-taman itu. Dan ternyata ikut tumbuh pula di kotak kebenciannya. Dia cemburu pada bunga-bunga. Dan kebenciannya sempurna melebar pada semua bunga yang ada dan pernah singgah di kepalanya. Dan semakin Jauh melebar kepada bunga-bunga yang bahkan tak pernah ia tahu nama, jenis, dan rupanya.
Tapi Immo bukan tipe orang yang tak mawas diri. Di sela-sela perasaannya yang campur aduk. Immo bergumam pelan, “apakah ada kesempatan di mana kupu-kupu itu juga mempunyai perasaan yang sama terhadapku?”
“Entahlah, Mo, kurasa kupu-kupu hanya akan menyukai bunga-bunga. Bukan manusia ataupun keturunan kera seperti kita.”
Dia terkejut. Dan sontak menoleh ke belakang. Ia sangat mengenali suara itu. Ternyata benar, Radi. Entah sejak kapan temannya itu sudah berdiri di belakangnya. Tapi yang pasti suara Radi kali ini benar-benar memecah lamunannya dengan hebat.
“Ayo pulang sepertinya aku sudah cukup melihat-lihat hari ini. Atau, kau masih mau memandang kupu-kupu itu lebih lama lagi? Tapi sepertinya ia sudah pergi, Mo.”
Immo dengan cepat menoleh ke depan. Ke bunga terakhir yang disinggahi kupu-kupu tadi. Benar kata temannya. Kupu-kupu itu sudah pergi entah kemana. Bola mata Immo menjajal seisi taman sejauh ia bisa melihat. Tapi percuma. Kupu-kupu itu tak ada lagi di sana.
Sepanjang perjalanan pulang Immo terus saja melamun. Tentang bunga-bunga, kupu-kupu dan seseorang. Seorang perempuan dari masa lalunya. Seorang perempuan yang kehadirannya dulu tak pernah dia hiraukan. Seorang perempuan yang kini menghantarkan lamunan-lamunanya pada sebuah kondisi ekstase yang panjang.
Namanya Gita. Seorang perempuan yang pernah jatuh ke pangkuannya dengan begitu mudah. Seorang perempuan yang dulu rela menghirup napas-napas perempuan lain yang berembus dari napas Immo. Seorang perempuan yang dulu pernah tenggelam di kubangan-kubangan pengabaiannya. Pelan, Immo merasakan berat di dadanya. Dia tak pernah menyadari perempuan itu begitu berarti. Dan, dalam kondisi ekstase yang kian membuatnya terbenam.
Immo sama sekali tak pernah mengetahui tentang Anteros. Sesosok dewa yang menjelma kupu-kupu. Menjelma lubang gelap di dadanya. Dan menjelma malam-malam yang menyelisipkan dingin di ranjang tidurnya. Tapi, kali ini tanpa sarung dan tumpukan baju di sudut ranjang. Dan, sebelum Immo benar-benar menyadari arti dari sebuah penyesalan. Ia akan menjalani hari-hari yang dingin dengan dada berlubang.
Tentang Penulis
Pandu S. Bimantara, seorang penulis cerita pendek, puisi, dan musisi. Tergabung dalam grup musik Sikumeja & komunitas sastra KebunKata. Bisa dihubungi via IG: pndstrbmntr






Discussion about this post