Mulai saat itu Dul Jaran merasa di atas angin, dan rasa percaya dirinya melejit hingg puncak bukit. Kerjaannya hanya petentang-petenteng di depan pasar kecamatan sambil membawa papan catur. Ia merasa menjadi orang paling pintar dan jenius di seantero Kedungsoga. Tiap hari kerjaannya hanya mengawasi motor-motor yang sedang parkir di halaman pasar Kedungsoga sambil merampas uang orang-orang yang kalah bermain catur dengannya. Dengan uang hasil rampasan orang-orang yang kalah bermain catur dengannya dan upah jaga parkir itulah ia menafkahi Dewi, dengan hasil yang kira-kira bisa dikatakan cukup menurut Dul Jaran. Namun sebenarnya Dewi-lah yang pandai mengatur uang yang diberi Dul Jaran agar bisa dikatakatakan cukup untuk menyambung hidup mereka. Yang sebenarnya mulai terasa hambar tanpa kehadiran buah hati setelah hampir lima tahun menikah.
*
“Ayah dan Ibuku bilang ingin segera menimang cucu, seperti tetangga-tetangga mereka.” Kata Dewi suatu kali ketika hendak menyuapkan nasi ke mulut Dul Jaran. Ia hampir saja tersedak di suapan pertama sarapan paginya.
“Sabarlah barangkali Allah belum meridhoi kita, untuk mengemban amanah seorang anak.” Begitu ucap Dul Jaran usai menelan suapan pertamanya.
Sebenarnya Dul Jaran tahu Dewi Yul, istrinya sudah bosan mendengar kata-kata itu yang selalu keluar dari mulutnya. Ia tak ada kata-kata lagi untuk meredam keinginan yang seperti kobaran api di dada istrinya yang paling ia sayangi. Suatu kali ia pernah pergi ke orang pintar untuk meminta jampi-jampi agar apa yang ia lakukan pada istrinya tiap malam membuahkan hasil. Namun nihil, di pagi hari Dewi Yul tak juga mual-mual dan selalu baik-baik saja. Ia masih bisa menstruasi. Itu tandanya kemaluan Dul Jaran benar-benar tumpul dan tak berbisa. Ia merasa telah gagal menjadi lelaki. Pernah suau kali Dewi Yul memberitahu padanya bahwa kedua orang tuanya menginginkan mereka pegat saja. Dan sudah banyak lelaki yang mengantri dan menginginkan Dewi Yul meski sudah berstatus janda.
Mendengar perkataan itu Dul Jaran merasa dunianya menjadi hitam-putih saja serupa kotak-kotak papan catur yang tiap hari ia pandangi, mendadak mau runtuh, segala bidak yang berdiri di petak-petak hitam putih itu mendadak menjadi patung-patung tinggi besar setinggi dan sebesar tiang listrik. Patung kuda, patung gajah, patung ratu, patung raja, mendadak hendak jatuh menimpanya. Ia berlari ke sana kemari di antara petak hitam putih yang juga sedang bergerak sebelum akhirnya ia terperosok ke dalam lubang. Dul Jaran berteriak ketakutan karena sedang meluncur deras ke dalam lubang hitam gelap pengap yang entah akan berakhir di mana. Ia berteriak-teriak meminta tolong. Sebelum akhirnya ia terjungkal di depan ruko, tertindih kursi panjang dan papan catur dan ditambah lagi beberapa buah catur. Dul Jaran terbangun, ia tidak sadar telah tertidur selama menunggu Mardoni Piteng.
Orang-orang yang lalu lalang tampak menahan tawa dan beberapa yang lain melepaskan tawanya terutama anak-anak kecil dan beberapa orang yang akrab dengan Dul Jaran. Tapi Dul Jaran tak peduli ia segera mencari jam dinding di beberapa ruko, dan di salah satu ruko ia dapat melihat jam menunjuk pukul 11.53, sudah lewat waktu zuhur. Dan ia tak mendapati Mardoni Piteng.
Lalu seseorang menepuk pundaknya, “Apa tidurmu nyenyak jagoan,” itu adalah Si Congek, teman sekaligus musuh Dul Jaran perihal parkir memarkir motor. “Kau pasti sedang menunggu orang itu?”
“Jangan banyak tanya, katakan di mana si keparat itu?” Dul Jaran masih gelagapan, kepalanya teleng kanan kiri tentu saja mencari Mardoni Piteng. Ia tampak gelisah mirip orang habis kecolongan. Perasaannya tampak tidak enak. Sementara di depannya, Si Congek terbahak-bahak bahagia.
“Sebelumnya kuucapkan terima kasih banyak, kau telah tertidur sejak pagi hingga siang, … “
“Jangan banyak omong katakan di mana PKI itu! Setan Alas itu harus kuhajar di sini dan sekarang juga!” Potong Dul Jaran geram.
“Sabar jagoan, dengarkan ucapanku dulu. Sebab kau tertidur pendapatanku meningkat berkali-kali lipat,” Si Congek meraup rezeki dari lahan parkir Dul Jaran ketika ia tertidur. Saling gasak dalam lahan parkir memang biasa, mereka saling melakukan jika penjaganya lalai.
“Aku tak peduli, cepat katakan di mana Setan Keparat itu!” Saking bencinya dengan Mardoni Piteng, Dul Jaran memanggilnya dengan sebutan-sebutan hina seperti: Setan Keparat, Setan Alas, PKI dan semacamnya. Itu satu kebiasaan buruk Dul Jaran ketika hatinya sedang kalut. “Cepat katakan apa kau melihatnya saat aku tertidur barusan!”
Si Congek mengangguk, dan sedikit tersenyum. Dul Jaran merasa ada hal yang tidak beres. Ada sesuatu yang diam-diam disembunyikan si Congek darinya. Sementara Dul Jaran belum bisa tenang, raut gelisah di wajahnya belum juga reda masih berkecamuk serupa angin ribut yang memporak-porandakan rumah-rumah warga.
“Sekitar jam sembilan tadi ia ke sini, setelah tahu kau terlelap mirip orang mati, ia bertanya di mana letak rumahmu padaku,”
“Kau beritahu?”
“Tentu saja. Ia bertanya dan aku menjawab sesederhana itu bukan?” Si Congek mesem dan kembali menampakkan jejeran geliginya yang kekuningan tak pernah disikat barangkali seminggu lebih, dan itu tentu saja membuat Dul Jaran semakin muak dengannya.
Tak perlu banyak cincong Dul Jaran segera mengayuh sepeda ontelnya sekencang-kencangnya sekuat lutut tuanya yang hampir rompal dan afkir itu. Ia membayangkan kuda-kuda yang ia susun di depan pion dengan gagah dan lincah melompat ke sana sini demi mengelabuhi bidak-bidak lawan, mendadak tersungkur, ndlosor, perutnya tertusuk tombak pasukan gajah. Dan mayatnya dikepung ribuan prajurit dengan pedang, tameng, dan zirah yang cukup kokoh. Pandangannya sepanjang jalan pulang mendadak gelap. Pohon-pohon asem, trembesi, lamtoro, dan pisang yang ia lalu sepanjang jalan pulang kini tak membuatnya senang segalanya ia abaikan. Termasuk beberapa orang yang sengaja menyapanya ketika berpapas di jalanan, juga tak ia hiraukan. Setiap kayuhan sepedanya adalah pertaruhan Dul Jaran dengan waktu, sebagaimana ia sering bertaruh dengan detik-detik terakhir dalam catur kilat dengan jam catur. Dunia seperti mau runtuh, napasnya semakin sesak, jantungnya seperti mau copot, dan tubuhnya mendadak lemas, dan keringat seperti mengucur deras dari dahinya ketika waktu dalam jam catur itu semakin habis.
Dan sesampainya di rumah tepat di halaman rumahnya, Dul Jaran melihat Supra X rombeng milik Setan Alas itu terparkir di dekat pintu rumahnya. Saat melewati pagar bambu rumahnya dengan tergopoh-gopoh, Mardoni tiba-tiba keluar dari pintu rumahnya sambil membenarkan sabuk celananya. Matanya yang juling sebelah melengos entah sedang menatap ke mana tapi ia tahu mata juling Mardoni Piteng sedang meremehkannya. Sedang merendahkannya sekaligus meruntuhkannya dalam perkara apapun dalam diri Dul Jaran. Seketika itu tak ada yang bisa dia banggakan lagi dalam hidupnya kini. Pertahanan Alekhine, kecerdikan, kelicikan, cinta dan kelelakiannya telah diremukkan seketika itu juga.[]
Lamongan, Desember 2022
Tentang Penulis







Discussion about this post