Bajul seperti biasa melakukan pekerjaan rutinnya, memancing, keliling kampung yang luas itu menawarkan hasil tangkapan, kadang bantu amak-nya mengumpulkan kayu bakar, sesekali juga orang ladang menawarkan pekerjaan padanya. Hingga suatu kejadian tak biasa pun terjadi, Bajul baru saja sampai di sungai bersiap mengatur mata pancing yang hendak ia lemparkan untuk ikan yang antah berantah melahap umpannya. Desir angin cukup pelan, jadi hanya kesunyian mewarnai udara dan suara di sana. Dan berbunyi suatu keganjilan, dari semak-semak, dan sayu suara wanita pelan-pelan seakan menekan udara yang bertiup pelan, lantas suara itu mendayu pelan sekali lagi, dan pelan sekali. Keganjilan menerbitkan kecurigaan oleh Bajul yang amat sensitif. Dan Bajul adalah pemuda yang memang sudah tidak waras. Maka ia lari sambil berteriak ke arah datangnya suara itu. Di sana, di balik suara yang menimbulkan kecurigaan itu ternyata adalah suara sejoli sedang berhimpit badan.
Sejoli itu terkejut. Mereka lari tunggang langgang, yang laki-laki lari sambil memperbaiki kancing celana. Dan perempuan agak terhuyung-huyung lari sambil melompat menghindari semak-semak belukar yang merintangi tapi sejoli ini berhasil keluar dan segera mendapatkan motornya yang terparkir di haluan setapak jalan. Lalu melaju dengan terombang-ambing oleh jalan yang tidak rata.
Setiba malamnya. Terdengar jengkerik mengkerik dari sela-sela tumbuhan, udara kian teramat lembabnya, sedang langit benar-benar tampak gelap gulita, tanpa setitik bintang. Malam ini akan segera hujan. Derum mesin motor terdengar dari kejauhan seakan mendekat ke rumah Bajul dan Tua Rambang. Kemudian derum mesin motor itu sudah berada dekat rumah mereka, di halaman rumah mereka. Tua Rambang yang sedang mengulang kaji di dalam rumahnya dikejuti oleh deruman mesin motor itu tergopoh berjalan keluar karena penasan.
“Siapa datang yang tiba-tiba begini? Malam begini.” Tanya Tua Rambang kepada pikirannya sendiri.
“Haram jadah keluar!” Teriak suara lelaki.
Tua Rambang terlonjak kaget keheranan ia berjalan mendekati seseorang yang berteriak-teriak di depan rumah sepasang ibu dan anak itu dan melihat dari samping rumah seseorang pemuda dengan parang berayun-ayun di tangan kanannya sedang tangan kirinya menggedor-gedor pintu.
Tua Rambang mendekati pemuda itu sambil menerawangkan damar ke arah pemuda yang sedang naik pitam itu. Dan ketika Tua Rambang mendekati pemuda itu, baru disadarilah bahwa pemuda itu adalah anak Wali Korong3. “Astaghfirullah, apa yang ananda Warman lakukan malam-malam begini?”
“Begini guru Tua, aku sudah muak dengan perangai si Bajul sakit jiwa ini. Seluruh kampung juga sudah muak ini padanya.”
“Apa yang dilakukan Bajul pada ananda? Warga kampung tak pernah memprotes apa-apa meskipun beberapa tindakannya yang barangkali merugikan mereka, mereka memaklumi karena Bajul tengah keadaan tidak sehat. Tak kasihankah ananda?”
Diam sejenak, menggelengkan kepala, kemudian lanjut meneriaki rumah Bajul dan menggedor-gedor pintu rumahnya.
Sesambar saja terdengar, lengkingan suara Bajul dari dalam dan lenguhan suara amak berkata dengan suara berat ke dalam, “Bajul, Bajul.” Derap kaki lebih deras terdengar dari dalam pintu, dan pintu terbuka. Bajul lansung saja menyerang Warman. Damar yang ada di tangan Tua Rambang jatuh membuat seluruh kejadian di halaman rumah itu menjadi gelap tapi suara pertengkaran ribut bukan main. Tua Rambang lekas mengambil damar yang ada di rumah Bajul. Berlari lagi keluar dan melerai dua pemuda yang sedang bergelut di tanah. Amak Bajul perlahan-lahan berjalan tegopoh-gopoh dari kamar belakang menuju ruang depan.
“Berhenti!! Astaghfirulah…” pekik Tua dan dia berhasil melerai mereka. Tampak Warman terbujur lemas di tanah sedang si gila Bajul berdiri dengan ditahan-tahan oleh Tua Rambang.
Sesaat emaknya sampai di halaman rumah. Melihat kejadian itu, wajahnya hanya terperangah dan sedikit menitikkan air mata di sela-sela keriput pelipisnya menyatu dengan tai matanya. Bajul berlari ke Siti Mariatih memeluk. Melenguh menangis. Warman menyibakkan bajunya yang berlumuran debu tanah, agak kesal ia mengambil motornya dan pergi.
Hujan pun turun deras.
Hari telah pagi. Dedaunan basah dari sisa hujan semalam karena itu, tampak matahari bakal bersinar indah tanpa gangguan mega-mega. Warman dan ayahnya yang merupakan Wali Korong duduk bersama di depan ruang tamu. Kakinya bersilang, sambil merokok membaca koran. Dengan tatapan menyelidiki lantas menutup koran dan menaruhnya di atas meja, ia lihat Warman ada sedikit lebam di wajahnya. “Apa yang kau lakukan semalam. Siapa memukul!? Kalau ada preman yang mengganggumu katakan!?” Warman menggelengkan kepala. “Jatuh dari motor.” Jawabnya.
Warman dikenal sebagai orang yang baik di mata warga kampung dan sanak saudaranya. Dahulu ia sering juara lomba mengaji bahkan antar kampung. Murid kebanggaan Tua Rambang dahulunya. Saat lulus sekolah menengah atas ia lanjutkan kuliah di kota. Lulus sebagai sarjana. Ada diantaranya tersiar bahwa dia adalah penerus Wali Korong nanti. Harapan memajukan kampung ini.
Sebagai orang yang dikenal karismatik, dan handal juga. Suatu waktu ia dan ayahnya pergi bersilahturahmi ke tetangga kampung sebelah. Waktu bertamu di rumah kepala kampung ini ia berjumpa dengan anak perempuannya. “Cantiknya,” dalam hati Warman berdebar saat gadis itu menghidangkan penganan dan kopi kemudian kembali ke dapur. Warman melihat punggung gadis itu terbasahi oleh peluh.
“Benar-benar wanita yang rajin,” ucap Warman tanpa disadarinya lantas tersadar dan kaget tersipu malu. “Bantu mandeh memasak.” Kata ayah dari gadis itu memaklumi.
Nyatanya mereka berkenalan diam-diam. Malu jika diketahui oleh warga setempat. Mereka pun berjumpa dengan diam-diam. Dan ini sudah berlangsung selama beberapa bulan. Sampai pada suatu waktu. Sejoli ini pada gairah yang sudah tidak tertahankan.
“Kapan kau hendak mengawini aku?” kata gadis itu pada Warman.
“Nanti saja. Aku bersumpah, aku dan orang tuaku pasti bakal datang ke rumah.” Lalu mereka bergenit-genit di bawah rindang pohon. Ketika hawa nafsu sudah berdiri berkuasa atas diri mereka.
Tiba-tiba si gila Bajul, datang mengganggu! Dan yang menjadi masalah adalah Bajul tak akan mungkin bisa untuk berkerjasama baginya. Mengingat ada salah satu warga dusun yang lain mengalami hal yang sama dengannya. Bajul mengabari seluruh kepada warga desa sambil berteriak-teriak pula. Warman yang dikenal baik oleh warga tak akan mungkin berbuat kotor demikian. Tapi juga Bajul dikenal orang ia tak pernah berbohong.
Kini yang ada di kepala Warman adalah segala masalah, ia takut pada ayah si gadis. Dan sebetulnya ini akibat ia juga kehilangan akal saja. Warman sudah di jodohkan pada kerabat jauh oleh ayahnya sendiri. Sebetulnya jika pun masalah dirinya dengan si gadis. Ia tak akan ambil pusing, sebab pastilah orang lebih percaya padanya. Tapi dengan Bajul, si gila. Ini mustahil. “Sebelum si gila itu menyebarkannya…” Panjang Warman berpikir keras. Dan terlintas ide.
Besoknya Warman mendatangi rumah Bajul kembali untuk malam yang ke dua. Dengan bersikap tenang dan santai. Ia membawa bingkisan. Di ambang pintu depan ia behadapan dengan Siti Mariatih, “amak ini untuk Bajul, dari ananda. Untuk ucapkan permohonan maaf.”
Dan sewaktu ia berjalan sudah agak jauh dari rumah Bajul. Di ingatnya keadaan rumah dan perawakan Siti Mariatih. Air matanya merebak. “Kasihan…” Katanya dalam beriba. Berhenti sejenak. Timbul ingatan lagi yang ada dipikirannya yaitu Bajul yang berbahaya. Kembali meyakinkan dirinya dan kembali lagi bimbang. Agak risih sebentar ia hendak berputar balik ke rumah Bajul. Tiba-tiba si gadis anak Wali Korong sebelah datang memburunya dengan berlari tergopoh-gopoh menyorotinya dengan senter. Segera Warman menyeka peluh pada airmukanya untuk menghilangkan kecurigaan.
“Dapat juga kau. Kapan kau penuhi janji?” Tanya gadis itu dengan nada centil.
“Segera dinda…”
Si gadis melongok ke arah sebuah rumah di kejauhan sana, “itu rumah orang gila yang mengejar kita kemarin bukan?”
“Sudah. Naik ke atas motor.”
Bajul datang membawa sekantung beras dari sehabis membantu petani memanen di pesawahan belakang.
“Itu bingkisan untukmu dari Warman ia datang tadi minta maaf.”
“Aku lihat dia berpeluk sama wanita seperti binatang di dekat sungai, amak.” Celetuk Bajul dan amak-nya terkejut mendengar hal itu.
“Huss… Bajul!” Sambar Siti Mariatih.
Bajul mengambil bingkisan itu. Merobek bungkusannya dengan kasar. Isinya adalah kue. Kemudian ia bawa sendiri ke keluar untuk dimakannya. Amak sendiri tak suka makan makanan yang seperti itu.
Di halaman rumah, Tua Rambang terlihat termenung di depan rumahnya. Baru pulang dari mengajar mengaji. Duduk sejenak memikirkan sesuatu. Dalam gulatan pikirannya, tak menyangka bahwa Warman adalah orang yang seperti demikian. Hal yang merupakan rahasia Warman sudah terlontar di hadapan Tua Rambang dan juga setelah kejadian malam itu. Sewaktu Warman mencegatnya di tengah jalan siang tadi. Warman memberi uang yang banyak padanya agar menutup mulut. Siapa yang akan dibelanya? Uang makannya selama ini didapatnya dari ia mengajar mengaji di TPA yang merupakan milik Wali Korong.
Sedang merenungkan hal itu, sebelah rumahnya keluar Bajul dengan girang sambil melahap kue yang tampak sedap itu. Bajul menawarkan, Tua Rambang menolaknya. “Tak selera…” Katanya mendehem.
Tua Rambang pergi ke dalam rumah dan keluar lagi membawa pancing baru lengkap. Mau diberikannya kepada Bajul. Bertambah girang dirinya seperti anak-anak melompat-lompat sambil berkata “Alhamdulilah banyak rezeki hari ini… Horee…” Bertingkah seperti anak-anak padahal umurnya sudah 28 tahun. Tua Rambang tersenyum melihat kebahagiaan Bajul dengan tingkah konyolnya, sedang Siti Mariatih juga tersenyum sendiri di dapur belakang rumah sedang menanak nasi mendengar kegirangan Bajul, dan dilanjutkan “Bajul sepertinya sedang berbahagia hari ini, kau juga Murni harus berbahagia juga melihat adikmu… Murni, kemana ia malam-malam begini? Tadi bukankah ia membantuku memasak air.” Amak berkata-kata sendiri seperti biasa. “Bajul dimana kakakmu tadi panggil dia, nasi sudah matang. Juga ini berikan pada Tua Rambang untuk makan malamnya.” Lanjutnya berseru pada Bajul.
Menjelang subuh Mariatih terbangun oleh gaduh raungan Bajul. Bajul melipat kedua tangannya menekan rusuk bawah sebelah kiri. Merintih.
“Ugh aduhh..”
Amak panik kebingungan. Dan ia menenang-nenangkan Bajul yang semakin geliang-geliut. Lepas kendali amak tersungkur oleh tendangan brutal Bajul. Membenturi sudut lemari. Tersungkur telungkup tiada lagi suara.
Bajul melanjutkan raungan kesakitannya.
Siang harinya Tua Rambang menemukan mereka di dalam kamar mereka, Bajul yang mati di atas kasurnya dengan mata melotot dan tangan mencengkram perut sedang Siti Mariatih tubuhnya tergeletak di bawah tak memperlihatkan tanda-tanda ia masih bernafas.
Tua Rambang terduduk lemas. Ia meringis.
Kampar, 2023
Catatan:
- Dari bahasa Minang artinya ibu.
- Dari bahasa Minang Pariaman dan sekitarnya, artinya abang.
- Artinya sama dengan Kepala Dusun, kalau di Kabupaten Padang Pariaman disebut Wali Korong.
Penulis, Dion Rahmat Prasetiawan. Lahir di Pekanbaru pada tanggal 28 Agustus 1997. Pegiat sastra di komunitas Suku Seni Riau.






Discussion about this post