• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Rabu, Agustus 12, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Anton Sucipto, SP. | Senandung Senja

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
21 Februari 2021
in Sastra
2.2k 138
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Pagi ini mentari memancarkan cahaya yang terang benderang. Sementara awan hitam tampak menggantung dan berarak di angkasa. Sedangkan hembusan angin yang bertiup kencang menawarkan dinginnya udara seperti menusuk sampai ke tulang. Kakek Sumarno terlihat berjalan menyusuri jalanan ibukota. Tangan kanannya menenteng sebuah kamera. Matanya tajam menyiratkan sejuta asa yang belum terwujud. Langkah kakinya terdengar seolah-olah sedang menggapai mimpi yang dia idam-idamkan sejak lama.

“Huuf..huuff…” kakek Sumarno nampak lelah berjalan.

Kakek berusia 68 tahun itu terus melanjutkan perjalanannya menyusuri jalanan ibukota. Jalanan berdebu menerpa kulitnya yang keriput. Jalanan ibukota macet oleh sesaknya deru mobil dan motor. Bisingnya suara knalpot, tak dia hiraukan. Ramainya orang berlalu lalang, dia pandangi dengan penuh harapan. Mereka seolah-olah sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Orang-orang sepertinya enggan melihat dengan mata hatinya. Mereka tidak membayangkan bagaimana sulitnya kakek berusia lanjut itu mengais rejeki dan  harapannya di pagi yang panas itu. Mereka yang berdasi, berbaju necis dan rapi, ada pula yang bermobil merci, tampak diam seribu bahasa. Semuanya ibarat pemanis yang menemani setiap derap langkah kaki kakek itu. Jarang yang peduli pada kakek itu, apalagi untuk sekedar menyapa beberapa detik saja. Mungkin hanya dewi fortuna, yang sudi kiranya menyapa kakek berusia lanjut itu. Mereka selalu asyik menikmati hidup tanpa memperhatikan orang yang lemah. Manisnya kehidupan tak mau dibagi dengan kakek yang telah renta. Pahitnya kehidupan biarlah dinikmati kakek itu seorang diri.

Matahari telah tepat berada di atas kepala. Terlihat kakek Sumarno sedang duduk di sebuah bale-bale bambu di pinggiran kota. Letih dan lelah sudah biasa merangkuli tiap detik hidupnya. Tetesan keringatnya terbasuh dengan tangan keriputnya. Panasnya terik matahari dia genggam dengan semangat bajanya. Seolah panas itu telah menjadi sahabat terbaiknya.

Ketika kakek tua itu sedang berkeliling di dekat sebuah taman, tiba-tiba ada suara yang menghentikan langkah kakinya.

“Kek, tolong saya di foto” terdengar suara dari lelaki muda berwajah tampan.

“Oh, iya, adik mau di foto di sini atau di sebelah mana?” ucap Kakek itu sambil tersenyum penuh keceriaan.

“Di dekat pohon anggrek itu, Kek” sahut lelaki muda itu sambil menunjuk pohon anggrek.

Kemudian kakek itu dengan cekatan meraih kamera fotonya dan bersiap untuk memotret lelaki muda itu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk memotret lelaki muda itu. Setelah selesai memotretnya, kakek Sumarno menerima beberapa lembar uang dari lelaki muda itu.

“Uangnya kebanyakan, ini saya kembaliannya.” ucap kakek Sumarno tersenyum ramah.

“Uangnya untuk kakek saja, saya baru dapat honor dari majalah, karena cerpen saya di muat di majalah itu.” sahut pemuda itu sambil tersenyum pula.

“Terimakasih, semoga kebaikanmu ini nantinya akan di balas oleh Tuhan.” ujar kakek Sumarno.

Sinar mentari di sore itu telah turun ke bawah memancarkan warna jingga yang menyejukkan mata. Matahari telah tenggelam di ufuk barat, tetapi semangat kakek Sumarno untuk meraih mimpinya takkan pernah tenggelam. Kegigihannya tiada mungkin akan pernah padam. Tiada kata menyerah dalam kamus hidupnya. Dia tidak pernah malu menjadi seorang tukang foto keliling. Dia akan merasa malu, jika dia hanya berpangku tangan saja. Kakek yang telah lanjut usia itu lalu melangkahkan kakinya dengan menenteng kamera fotonya. Dia berharap besok akan menemukan hidupnya yang lebih baik dari hari ini. Harapannya agar kebahagiaan itu akan selalu menemani setiap langkah kakinya.


Penulis, Anton Sucipto, SP. Alumni Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto. Cerpen berjudul “Duda” pernah dimuat koran Merapi edisi 23 Oktober2020, Cernak  “Sepeda Septi” pernah dimuat di koran Suara Merdeka edisi 13 September 2020, dan Cernak “Kisah Singa yang Terperangkap” pernah dimuat di koran Solopos 17 Februari 2019.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata - 4 Agustus 2026
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
Tags: BudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Kata Ruang: Strategi Mendang-Mending dalam Puisi | Dandri Hendika

Kata Ruang: Strategi Mendang-Mending dalam Puisi | Dandri Hendika

Oleh Dandri Hendika
7 Agustus 2026

Antara guru kulit terang dan guru lokal sawo matang ada jenjang tak kepalang. Gaji guru sawo matang merangkak-rangkak seperti...

RUBRIK KATA RUANG

Oleh Dandri Hendika
7 Agustus 2026

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung

Oleh Redaksi Marewai
11 Juli 2026

Pulang Kampung             Haris keluar dari bus angkutan antar kota. Langkahnya pelan menghentak seakan menumpahkan kekesalan di hatinya. Bagaimana...

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei

Oleh Redaksi Marewai
26 Juni 2026

KEPADA SHEI Aku senang membayangkan hal-hal yang indah. Kubayangkan matamu menjadi rumah paling megah: tempat di mana lelah perlahan...

Next Post
Pulau Babi: Antara Mitos dan Fakta

Pulau Babi: Antara Mitos dan Fakta

Nagari Sungai Pinang : Bermalam Di Eroang Gadang, Menikmati Dentuman Batu Dandang

Nagari Sungai Pinang : Bermalam Di Eroang Gadang, Menikmati Dentuman Batu Dandang

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In