• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cerpen Anton Sucipto, SP. | Senandung Senja

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
21 Februari 2021
in Sastra
1.2k 77
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Pagi ini mentari memancarkan cahaya yang terang benderang. Sementara awan hitam tampak menggantung dan berarak di angkasa. Sedangkan hembusan angin yang bertiup kencang menawarkan dinginnya udara seperti menusuk sampai ke tulang. Kakek Sumarno terlihat berjalan menyusuri jalanan ibukota. Tangan kanannya menenteng sebuah kamera. Matanya tajam menyiratkan sejuta asa yang belum terwujud. Langkah kakinya terdengar seolah-olah sedang menggapai mimpi yang dia idam-idamkan sejak lama.

“Huuf..huuff…” kakek Sumarno nampak lelah berjalan.

Kakek berusia 68 tahun itu terus melanjutkan perjalanannya menyusuri jalanan ibukota. Jalanan berdebu menerpa kulitnya yang keriput. Jalanan ibukota macet oleh sesaknya deru mobil dan motor. Bisingnya suara knalpot, tak dia hiraukan. Ramainya orang berlalu lalang, dia pandangi dengan penuh harapan. Mereka seolah-olah sibuk dengan kehidupan mereka sendiri. Orang-orang sepertinya enggan melihat dengan mata hatinya. Mereka tidak membayangkan bagaimana sulitnya kakek berusia lanjut itu mengais rejeki dan  harapannya di pagi yang panas itu. Mereka yang berdasi, berbaju necis dan rapi, ada pula yang bermobil merci, tampak diam seribu bahasa. Semuanya ibarat pemanis yang menemani setiap derap langkah kaki kakek itu. Jarang yang peduli pada kakek itu, apalagi untuk sekedar menyapa beberapa detik saja. Mungkin hanya dewi fortuna, yang sudi kiranya menyapa kakek berusia lanjut itu. Mereka selalu asyik menikmati hidup tanpa memperhatikan orang yang lemah. Manisnya kehidupan tak mau dibagi dengan kakek yang telah renta. Pahitnya kehidupan biarlah dinikmati kakek itu seorang diri.

Matahari telah tepat berada di atas kepala. Terlihat kakek Sumarno sedang duduk di sebuah bale-bale bambu di pinggiran kota. Letih dan lelah sudah biasa merangkuli tiap detik hidupnya. Tetesan keringatnya terbasuh dengan tangan keriputnya. Panasnya terik matahari dia genggam dengan semangat bajanya. Seolah panas itu telah menjadi sahabat terbaiknya.

Ketika kakek tua itu sedang berkeliling di dekat sebuah taman, tiba-tiba ada suara yang menghentikan langkah kakinya.

“Kek, tolong saya di foto” terdengar suara dari lelaki muda berwajah tampan.

“Oh, iya, adik mau di foto di sini atau di sebelah mana?” ucap Kakek itu sambil tersenyum penuh keceriaan.

“Di dekat pohon anggrek itu, Kek” sahut lelaki muda itu sambil menunjuk pohon anggrek.

Kemudian kakek itu dengan cekatan meraih kamera fotonya dan bersiap untuk memotret lelaki muda itu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk memotret lelaki muda itu. Setelah selesai memotretnya, kakek Sumarno menerima beberapa lembar uang dari lelaki muda itu.

“Uangnya kebanyakan, ini saya kembaliannya.” ucap kakek Sumarno tersenyum ramah.

“Uangnya untuk kakek saja, saya baru dapat honor dari majalah, karena cerpen saya di muat di majalah itu.” sahut pemuda itu sambil tersenyum pula.

“Terimakasih, semoga kebaikanmu ini nantinya akan di balas oleh Tuhan.” ujar kakek Sumarno.

Sinar mentari di sore itu telah turun ke bawah memancarkan warna jingga yang menyejukkan mata. Matahari telah tenggelam di ufuk barat, tetapi semangat kakek Sumarno untuk meraih mimpinya takkan pernah tenggelam. Kegigihannya tiada mungkin akan pernah padam. Tiada kata menyerah dalam kamus hidupnya. Dia tidak pernah malu menjadi seorang tukang foto keliling. Dia akan merasa malu, jika dia hanya berpangku tangan saja. Kakek yang telah lanjut usia itu lalu melangkahkan kakinya dengan menenteng kamera fotonya. Dia berharap besok akan menemukan hidupnya yang lebih baik dari hari ini. Harapannya agar kebahagiaan itu akan selalu menemani setiap langkah kakinya.


Penulis, Anton Sucipto, SP. Alumni Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto. Cerpen berjudul “Duda” pernah dimuat koran Merapi edisi 23 Oktober2020, Cernak  “Sepeda Septi” pernah dimuat di koran Suara Merdeka edisi 13 September 2020, dan Cernak “Kisah Singa yang Terperangkap” pernah dimuat di koran Solopos 17 Februari 2019.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Tags: BudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026

Selalu ia gambar, si al-a'war selama Tujuh ratus dua hari dan pikiranku Telah seluruhnya khatam untuk Masuk dan duduk-duduk...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Next Post
Pulau Babi: Antara Mitos dan Fakta

Pulau Babi: Antara Mitos dan Fakta

Nagari Sungai Pinang : Bermalam Di Eroang Gadang, Menikmati Dentuman Batu Dandang

Nagari Sungai Pinang : Bermalam Di Eroang Gadang, Menikmati Dentuman Batu Dandang

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In