Di luar, Kakek masih mengisi kanvas paginya dengan lamunan lamunan yang membahagiakan. Sementara itu di dapur istrinya sibuk mendidihkan air serta meracik racikan kopi ke dalam sebuah cangkir. Namun saat hendak mematikan kompor karena air sudah mendidih, tanpa sengaja lengan istrinya menyenggol cangkir. Alhasil cangkir itupun jatuh dan pecah.
“aztaghfirullah hal adzim”, Nenek terperanjat, air panas membasuh pergelangan tangannya.
“istriku, suara gaduh apa itu ?” Kakek pun terkejut, ia terbangun dari lamunannya.
“bukan apa-apa”, Suara yang awalna lembut berubah menjadi ketakutan.
Kakek merasa ada yang tidak beres. Demikian juga dengan perasaannya yang mendadak jadi aneh. Ia lalu bangkit dari kursi goyangnya untuk menemui sang istri di dapur.
“apa yang terjadi ?” Kakek berjalan dengan cepat guna ingin tahu keaadaan dari istrinya.
“(memunguti pecahan cangkir) tidak, aku hanya tidak sengaja menjatuhkan cangkir ini”
“cerobohmu itu masih saja belum hilang”Kakek mendapati istrinya yang ketakutan akan kejadian pagi itu.
“(menatap suaminya) “sayang, pertanda apa ini?”
“sudahlah, jangan berprasangka yang macam-macam. Ini kan hanya buah dari kecerobohanmu saja.” Kakek sontak kaget dengan pernyataan dari istrinya tersebut, seakan keindahan yang awalnya muncul beberapa menit sebelum kejadian itu hilang, entah kemana.
Kakek meraih tangan istrinya, mereka bangkit. Bagi Kakek kejadian pagi itu tidak terlupakan begitu saja. Namun tidak bagi Istrinya. Di sebuah dipan kayu ia menyudut sendirian di dapur, ia duduk merenung. Di kepalanya terbayang bayang mitos yang berkembang, bahwa gelas pecah adalah sebuah pertanda yang tidak baik.
“Pertanda apa gelas yang tidak sengaja aku pecahkan tadi ?” Nenek masih saja tampak bingung dan takut, mencoba mengingat dan mengingat kembali petuah-petuah dari ibundanya yang sering kali ia dengar sewaktu kecil.
Rasa gundah dan resah terus saja menghantui kehidupan istrinya saat itu dan entah kapan akan berhenti. Dan di saat yang bersamaan keadaan sontak berubah menjadi diam, sepasang telinga istrinya di perdengarkan oleh bunyian nyaring serine merah, yang kala itu melintas hebat meluncur di depan halaman rumah mereka, terus dan terus berbunyi, perlahan redup dan mulai hilang, Ia tetap terdiam dengan tatapannya yang kosong, ketakutan, kecemasan bercampur menjadi satu seperti gundukan es campur yang kita nikmati kala hari tak bersahabat panasnya.
“Astaghfirullah ya ALLAH, suara ini seakan membawaku ke alam lain, dan membuatku terasa lebih dkat dengan ENGKAU, apakah daun yang bertuliskan namaku akan gugur? dan malaikat akan turun mengawasi kehidupanku mulai sekarang. Menuntunku, hingga nanti aku akan tertidur pulas, melangkah menuju langit-langitMU, dan singgah ke beberapa tempat-tempat terindahMU, jika benar aku akan siap dari sekarang untuk memenuhi panggilanMU, namun hanya satu permintaanku, izinkan aku untuk lebih membahagiakan suamiku, sampai nanti aku tertidur dan menghadapMU, untuk itu aku akan memulai kehidupanku yang mungkin singkat ini dengan BISSMILLAHIRRAHMANIRRAHIM, tuntun aku di sisa umurku ya ALLAH.”
Nenek mulai pasrah akan keadaan yang di alami, namun kakek tidak mengetahui akan ketakutan, kegundahan yang tengah istrinya alami. Di halaman rumah Kakek masih menikmati harinya dengan cerutu yang tetap membasahi bibirnya. “Kejadian tadi sore membuatku sedikit resah, tampak terlihat jelas dari raut wajah istriku, yang membuatnya berubah dan sekarang menjadi pendiam, entah apa yang ada di dalam fikirannya, tentang apa, dan aku masih bingung mencari jawabannya.”
Kakek mulai tampak kebingung akan perubahan istrinya saat kejadian waktu itu, sembari mencari jawaban akan pertanyaannya, nenek mulai datang menghampiri si kakek dengan membawa sepiring ubi bakar yang tengah ia jinjing.
“Ini aku buatkan ubi bakar untukmu, agar sore ini menjadi lebih indah dengan beberapa ubi bakar yang aku buat untukmu.” Nenek tersenyum, berusaha menyembunyikan semua kejadian dan semua yang ia rasa saat itu.
Nenekpun hanya tersenyum dan bangkit dari tempat tidurnya mengahampiri sang kakek dan memijit bahunya,
“Aku tidak apa-apa , akupun tidak berubah , hanya saja aku semakin mencintai dan menyayangimu.” Kakek menjadi semakin heran akan kelakuan istrinya.
Keadaan mulai terdiam , Nenekpun berniat menceritakan kegundahannya pada suaminya, namun tiba-tiba bunyi lekingan serine merahpun terdengar dan nenek menjadi ketakutan, ia terdiam dan meremas kuat pundak kakek , fikiran kosong, dan tak tentu arah.
Kakek berjalan menghampiri istrinya menggenggam tangannya dan mencoba menghiburnya,
“ayolah sayang , jangan kau fikirkan lagi tentang kematian itu” Kakek berusaha menyadarkan istrinya.
“Tapi” keraguan nenek tidaklah tanpa alasan.
“Sudah jangan bicara lagi, apakah kau masih ingat? Dulu aku sering sekali menemanimu membaca puisi tentunnya dengan saluang/ bansiku ini, kau masih ingat kan?” kakek mencoba mengingatkan kembali kenangan masa mudanya bersama nenek.
“Iya aku mengingatnya.”
“Taukah kamu, aku paling suka saat kau membacakan puisi yang berjudul “ESOK KEINGINANKU UNTUK MEMELUKMU” kau masih ingat kan?” kakek yang selalu bersemangat, menghilangkan semua gundah yang tengah merasuk pada istrinya.
“Iya, aku juga sangat menyukai puisi itu, tapi aku sedikit lupa.” Nenek mencoba mengingat kembali akan puisi yang dibicarakan oleh suaminya.
“Kalau begitu kamu siap istriku?” Kakek bersiap untuk memainkan alat musik yang ia genggam (Saluang).
Keesokan harinya di halaman rumah, kakek yang amat menikmati udara pagi yang segar. “Memang hidup ini begitu rumit kadang senang, kadang sedih, kadang tertawa, kadang menangis, tapi aku bersyukur masih bisa hidup dan berjalan, menikmati seluruh keindahan bumi ini, di tengah hiruk pikuknya kota metropolitan, namun sayang apa yang aku rasakan tidak sama dengan apa yang tengah di rasaskan oleh istriku, dia begitu takut dengan patuah-oatuah dari ibunya, pertanda yang tidak masuk akal dengan gelas yang tidak sengaja ia pecahkan itu , semoga apa yang aku lakukan untuk menghiburnya dapat menjauhkan rasa takut yang tengah membayanginya saat ini.
Tidak lama kemudaian kakek mendengar suara istrinya yang tengah mencarinya dari dalam. “Sayang…. kamu dimana???” nenek memanggil-manggil suaminya dari dalam.
“Iya, aku di luar, kemari lah nikmati udara pagi yang begitu sejuk ini. ” Sahut kakek dari halaman rumahnya.
Tak lama berselang begitu lama nenek muncul dari balik tirai.
“Nah, lagi-lagi kamu lebih dulu bangun dari aku.” (bejalan dan membawa kue), Ini aku bawakan kue bika kesukaanmu.
“Terima kasih istriku” kakek pun mengambil satu dan memakannya.
Beberapa saat nenek kembali terdiam dengan tatapan kosongnya, tanpa menghiraukan suaminya.Kakek berdiri dan menghampiri istrinya.
“Sayang kamu kenapa” kakek melangkah menuju nenek lalu menyentuk pundaknya.
“Aku tidak apa-apa, hanya saja.” Tatapan kosong, begitu juga suara istrinya yang sedikit berubah.
“Hanya saja apa ?” kakek terbawa suasana, ia selalu memegang pundak istrinya.
“Hanya saja aku tidak pernah bertemu dengan ayahmu, aku masih merasa sedih akan hal itu, betapa aku ingin mencium, dan memeluknya.”
Kakekpun ikut terdiam,ia lepaskan cengkraman pada pundak istrinya perlahan ia berjalan ke depan.
“Iya, kau kan tau ayahku sudah lama meninggal sewaktu aku remaja dulu, dan sebelum aku mengenalmu.” Kakek sedikit bercerita dalam suasana yang hening.
“Bagaimana rupa ayahmu? Pasti dia pria yang gagah sama sepertimu.” Nenek menghayal dengan memandangi rupa suaminya.
“Iya, ayahku sangat gagah, tingkah lakunya juga mirip denganku.” Kakek tersenyum dengan memandangi istrinya.
“Mugkinkah nanti kita bertemu dengan ayahmu di sana?” nenek menundukkan kepalanya.
Sontak keadaan kembali hening dan kakek yang awalnya berniat untuk menghilangkan ketakutan istrinya, akhirnya terbawa suasana
“Amin, kita berdoa saja kepada ALLAH semoga kelak kita di pertemukan di surga dan dapat berkumpul bersama.” Kakek menghampiri istrinya yang tengah sedih, menggenggam pundaknya.
“Amin, aku sudah tidak sabar ingin segera berangkat dan menemui ayahmu, mertuaku” nenek meraih tangan suaminya dengan lembut.
“Aku juga, sudah lama aku tidak lagi bertemu dengan beliau aku sangat merindukannya.” Kakek berjalan dan duduk tepan di depan istrinya, disandarkanya kepala pada paha yang istrinya.
“Iya, aku mengerti persaanmu, aku juga rindu, ingin sekali segera bertemu dengan ayahmu, aku ingin memeluknya dengan penuh kasih sayang.” Nenek membelai kepala suaminya dengan penuh kasih sayang.
Nenek dan kakekpun terdiam semua tatapan mereka kosong, mereka seakan-akan telah melihat kematian mereka yang begitu dekat dan sebentar lagi akan menjemputnya, Nenek yang masih membelai lembut kepala suaminya sedikit tersenyum dalam keheningan dan rasa akan kematian yang begitu dekat akan datang menjemput mereka.
“Sayang mari kita mempersiapkan diri, berkemas untuk berangkat, menemui ayahmu menghadap sang PENCIPTA.” Semua tatapan dan rasa yang mereka rasakan kosong di dalam fikiran nenek ia hanya mampu melihat cahaya yang entah datang darimana.
“Dari dulu aku sudah mempersiapkan diriku untuk menanti serine merah menjemput kita, dan membawa kita menuju alam yang akan mempertemukan kita dengan ayahku, mertuamu aku sudah merasakannya sayang, semakin dekat dan semakin dekat ia menuju kemari, aku merasakannya, setiap sudut tempat kita di baringkan bersebelahan dengamu, aku merasakannya, aku takut, aku takut sekali sayang, aku takut menghadapinya aku takut.” Tingkah laku kakek semakin tak menentu, ia siap akan kedatangannya.
“Jangan takut sayang, aku juga sudah merasakannya ia semakin dekat, serine merah telah dekat untuk menjemput kita, membawa kita kealam yang baru, alam yang akan kita singgahi berdua berpegangan tangan di sepanjang jalan menuju langit tempat kita akan berhenti, jangan takut sayang peganglah tanganku, dan aku akan menggemnya erat, aku tidak akan melepaskanmu, aku akan ada di sampingmu selalu menemanimu sayangku.” Nenek memeluk dan mencium kening suaminya yang telah begitu takut dan telah begitu siap untuk pergi.
“Aku takut sekali, jangan kau lepaskan genggamanmu tetaplah berada di sampingku, sampai kita melangkahkan kaki pada langit tempat pemberhentian kita, jangan kau lepaskan genggamanmu sayang teruslah berada di sisiku.” Kakek diam ia tak mampu lagi berbicara, ia tak mampu lagi bergerak, dalam dekapan istrinya ia pergi dengan tenang.
Nenek menyadari suaminya yang telah kaku di pangkuanya, air mata mengalir dengan kenangan, percakapannya dengan suaminya kemaren, ia memarahinya, ia memeluknya, ia tertawa, semua tersusun dalam fikiran nenek.
“Aku tidak akan melepaskanmu, aku akan selalu ada di sampingmu, ingat sayang ayahmu telah menunggu kita di langit tempat pemberhentian kita nanti, jangan lah kau merasa takut, tersenyumlah karena kita akan segera berangkat melewati penyebrangan 7 langit bersamaku dan bersama ayahmu yang telah menunggu kita disana, untuk kita masuki surga ALLAH dan bersama kita akan hidup bahagia sayang, tersenyumlah sayang, tersenyumlah, tersenyum lah, dia sudah sampai, dan kita akan segera memulai kehidupan yang baru, kekal abadi di SURGA , tersenyumlah, tersenyumlah.
Nenek terpaku pada satu pandangan, menatap kosong dunia yang telah mereka tinggali selama bertahun-tahun, menatap masa depan, kehidupan kedua, kehidupan yang kekal dan abadi di SURGA, nenek tersenyum menyambut serine merah, kendaraan yang akan membawa suaminya pada alam kedua, alam kematian, bersama amal, dan perbuatan baik yang ia kerjakan selama hidup di dunia, meninggalkan cerita, cinta dan kasih sayang, kehidupan sepasang anak manusia yang telah lanjut usia, namun tetap tegar untuk menghadapi cobaan-cobaan hidup yang di berikan oleh sang pencipta.
Tumbuhkan rasa cinta, kasih dan syang yang sesungguhnya jangan biarkan pasangnmu melepaskan genggaman tangannya dari tanganmu, teruslah manjakan dia, dan teruslah mencintainya, jika kau yakin bahwa dialah pujaanmu, jangan pernah sekalipun melepaskanya, rangkul dan peluklah dia selalu, sampai nanti kematian datang, sampai nanti “SERINE MERAH MENJEMPUTMU” tetaplah dalam pelukan,dan tetaplah genggam harapan cinta, kasih dan sayang yang telah kau bina.
Dan tetaplah tersenyum menghadapinya, dan menjadi pelengakap, yang akan membawamu ke surge nanti bersama “SERINE MERAH”.
Alek Wahyu Nurbista Lukmana, bisa di panggil Alek, lahir di Padang pada tanggal 10 September tahun 1991. Bertempat tinggal di Padang, tepatnya di Air Dingin Lubuk Minturun. Sekarang aktif di UNIT KEGIATAN KESENIAN UNIVERSITAS NEGRI PADANG. Sudah menerbitkan buku kumpulan puisi yang berjudul “Syair, Ikhlasku Melepasmu”.
IG: @frasaalta / @alek_wahyu
LINE: frasaalta
Youtube: Frasa Alta
Wattpad: @alekwahyu






Discussion about this post